Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Jumat (04/04/2025), melaporkan bahwa tentara penjajah Israel telah membunuh 1.249 penduduk sipil Paelstina dan melukai 3.022 orang lainnya sejak Israel melanjutkan perangnya di Gaza pada 18 Maret, yang secara sepihak mengakhiri gencatan senjata yang tercapai dengan Hamas pada Januari lalu.
Sejak 18 Maret, tentara Israel telah meningkatkan serangan udara, darat, dan laut di seluruh Jalur Gaza serta memperluas operasi militer darat, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa, penghancuran infrastruktur sipil, dan perpindahan besar-besaran warga.
Berdasarkan laporan Site Management Cluster (SMC), dalam dua minggu terakhir, diperkirakan lebih dari 280.000 orang terpaksa mengungsi, termasuk sekitar 100.000 orang dari Rafah dalam beberapa hari terakhir.
Jonathan Whittall, direktur sementara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Wilayah Palestina yang Diduduki, menggambarkan situasi di Jalur Gaza pada hari Rabu sebagai “perang tanpa batas”. Ia menyebutkan bahwa apa yang terjadi di sana adalah “lingkaran darah, rasa sakit, dan kematian tanpa akhir”.
“Gaza telah menjadi perangkap kematian,” kata Jonathan Whittall.
Whittall memberikan pengarahan kepada wartawan di Markas Besar PBB di New York melalui tautan video dari Deir Al-Balah, Gaza Tengah.
Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, pada hari Kamis mengatakan bahwa Israel telah memasuki “tahap baru” dalam perang terhadap Gaza. Ia mengklaim bahwa rencana tersebut mendukung tujuan perang, yaitu mengembalikan sandera dan menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas.
Defrin mengatakan militer Israel telah menyerang lebih dari 600 target di Gaza sejak melanjutkan perangnya pada 18 Maret. Ia mengklaim serangan tersebut telah membunuh lebih dari 250 anggota Hamas, termasuk 12 pejabat senior dari sayap militer dan biro politik Hamas.
Pembantaian yang semakin intensif terhadap warga Palestina oleh Israel berlanjut pada hari Jumat. Sebanyak 27 penduduk sipil Palestina meninggal dunia dalam serangan udara Israel di sebuah sekolah di utara Gaza yang digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga yang mengungsi. Puluhan lainnya terluka saat serangan Israel menargetkan Sekolah Dar Al-Arqam di distrik Al-Tuffah di timur laut Kota Gaza.
Selama 24 jam terakhir, lebih dari 86 warga Palestina dibunuh Israel dan lebih dari 280 lainnya terluka saat Israel melancarkan beberapa serangan udara paling berat dan tanpa henti di Gaza dalam salah satu malam perang yang paling brutal.
“Beberapa jam lagi Gaza akan hilang. Kalian hanya akan menemukan kami di surga. Selamat tinggal kepada ‘Arab’ yang paling tidak adil yang pernah dikenal sejarah,” tulis jurnalis Palestina Khalil Abu Elias di Facebook.
Seorang gadis Palestina di Gaza menulis, “Berita kami tidak akan lagi mengganggu Anda mulai sekarang. Ini hanya masalah beberapa hari, dan semua orang akan dibinasakan. Semoga Allah tidak memaafkan siapa pun yang diam tentang penindasan kami”.
“Saya baru saja menguburkan anak perempuan saya tanpa kepala,” kata seorang ulama Palestina.
Pada hari Senin (31/04), jurnalis Palestina Anas Al-Sharif menyatakan, “Serangan udara yang menghantam Gaza malam ini berbeda dari yang pernah disaksikan sejak perang dimulai. Serangan itu sangat intens, dan bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel menyebabkan kehancuran besar serta ledakan mengerikan yang terdengar dari jarak beberapa mil”.
(T.FJ/S: The Cradle)