Tidak hanya di Gaza, genosida juga dilakukan Israel di Tepi Barat. Hal ini terlihat sangat mencolok bila kita perhatikan bagaimana kondisi kamp-kamp pengungsian Jenin, Nur Shams dan Tulkram yang kini hancur, bahkan terkesan seperti kota hantu setelah serangan masif dan berkepanjangan yang dilakukan Israel di kawasan tersebut.
Operasi yang disebut Israel sebagai “operasi keamanan” awal tahun 2026 ini, tak hanya mengancurkan rumah-rumah keluarga Palestina, namun juga menyebabkan terjadinya pengungsian masal di tengah musim dingin yang masih berlangsung. Ratusan rumah hancur dan ribuan keluarga Palestina diusir secara paksa. “Nakba Baru”, inilah yang digambarkan oleh profesor hukum dan globalisasi Queen Mary University of London, mengenai apa yang sedang berlangsung di Tepi Barat.
Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan oleh Human Right Watch pada awal tahun 2026, setidaknya 850 rumah telah dihancurkan atau rusak parah di ketiga kamp pengungsian yang berada di Tepi Barat bagian utara itu.[1]
21 Januari hingga 9 Februari 2025, Israel meluncurkan Operasi Tembok Besi yang menargetkan terduga “unsur teroris” di tiga kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara. Operasi yang berlangsung selama 19 hari tersebut, memindahkan 40.000 pengungsi yang berasal dari kamp Jenin, Tulkarm dan Nurshams secara paksa, oleh pasukan khusus Israel bersenjata lengkap menggunakan kendaraan lapis baja, drone dan buldoser. Serangan ini digambarkan oleh UNRWA, sebuah badan PBB untuk pengungsi Palestina, sebagai “krisis pengungsian terpanjang dan terluas sejak tahun 1967”. Diperkirakan 43% kamp Jenin, 35% Nur Shams, 14% Tulkarm telah hancur atau rusak parah. Bangunan-bangunan di kedua sisi jalan di Kamp Nur Shams yang membentang dari jalan utama antara Nur Shams dan Tulkarm hingga ke Puncak kamp telah dibom atau diratakan buldoser.

Hasan Khreisheh, politikus Tulkarm menyebut apa yang terjadi di kamp-kamp Tepi Barat bagian utara sebagai cetak biru Israel persis yang terjadi di Gaza, namun bila yang terjadi di Gaza perusakan dilakukan secara terang-terangan, di Tepi Barat perusakan itu dilakukan dalam bentuk “eliminasi” secara diam-diam.[2]
Khreisheh menegaskan bahwa penghancuran kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat (Kamp Jenin, Nur Shams dan Tulkarm) ialah bagian dari proyek Genosida yang lebih luas dan sistematis. Karena penghancuran itu berarti juga sebagai upaya untuk menghilangkan gagasan tentang status politik para pengungsi dan upaya untuk melenyapkan ingatan peristiwa Nakba 1948.
Para pengungsi dan keturunannya ialah saksi peristiwa Nakba 1948. Maka penghancuran komunitas, pembubaran UNRWA dan pengusiran pengungsi yang kini dilakukan Israel di Tepi Barat, tak hanya berupaya merampas rumah warga Palestina, namun juga berupaya untuk memadamkan sejarah, hak dan bukti sejarah untuk mengizinkan mereka kembali ke asal mereka.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melakukan serangan hingga menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk menangkap hampir 21.000 warga Palestina selama periode tersebut.
Menargetkan “unsur teroris” yang menjadi klaim Israel untuk melakukan penghancuran dan pengusiran di Tepi Barat bagian utara, hanya merupakan dalih untuk menyambut proyek perluasan pemukiman Israel yang sudah disahkan oleh Administrasi Sipil Israel pada Agustus 2025. Rencana ini akan merealisasikan Pembangunan lebih dari 3.400 unit pemukim baru di Tepi Barat dan Yerussalem Timur yang kini diduduki.[3]
Rencana E1 yang dirancang pada akhir tahun 1990-an ini sempat terhenti karena pertentangan internasional, karena merupakan tindakan illegal menurut hukum internasional. Namun kini, saat pandangan dunia tertuju ke Gaza, Israel memanfaatkan momen tersebut untuk secara diam-diam melakukan perluasan pemukiman sejalan dengan rencana E1 di Tepi Barat. Sebuah upaya yang diam-diam, namun masif dan terjadi sangat cepat.
Perluasan pemukiman Israel pada tahun 2025 mencapai titik tertinggi sejak tahun 2017. Dalam laporan Aljazeera, jumlah pos pemukiman terdepan di Tepi Barat dan Yerussalem Timur yang diduduki meningkat hampir 50%, dari 141 pada 2022, menjadi 210 pada 2025.[4] Hingga kini hampir 10% populasi Yahudi Israel yang berjumlah 7,7 juta jiwa, atau sekitar 700.000 jiwa, tinggal di pemukiman yang dianggap ilegal menurut hukum internasional ini.

Dalam laporan terbaru, beberapa waktu ke belakang, Israel baru saja menyetujui pendirian 19 pos pemukiman baru di Tepi Barat yang diduduki, sejalan dengan kebijakan pemerintah sayap kanan PM Benjamin Netanyahu yang berusaha mencegah pembentukan negara Palestina yang berdaulat.[5]
Dampak dari penghancuran dan perluasan pemukiman di Tepi Barat, yang sejalan dengan proyek E1 Israel, akan memecah Tepi Barat dan semakin mempersempit ruang gerak warga Palestina di wilayah pendudukan.
Selain itu, praktik perluasan pemukiman yang dikecam oleh dunia Internasional ini kembali mengilusikan prospek solusi dua negara (two-state solution) yang selama ini digadang-gadangkan oleh dunia internasional dapat menghentikan genosida di Palestina. Disamping itu, ilusi solusi dua negara juga makin diyakinkan oleh pernyataan kuat pihak Israel yang diwakili Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir yang dalam beberapa waktu terakhir mempertegas retorika pertentangannya akan negara Palestina yang berdaulat.
Sumber:
[1] Elis Gjevori, “Israel escalates West Bank demolitions amid illegal settlement expansion,” Al Jazeera, 1 Januari 2026, https://www.aljazeera.com/news/2026/1/1/israel-escalates-west-bank-demolitions-amid-illegal-settlement-expansion.
[2] Middle East Eye, “As genocide continues in Gaza, the West Bank is being pushed towards a new Nakba,” Middle East Eye, 7 Oktober 2024, https://www.middleeasteye.net/big-story/genocide-continues-gaza-west-bank-pushed-new-nakba.
[3] Shraddha Joshi, “Netanyahu signs E1 plan to bisect West Bank as Israeli forces raid its cities,” Middle East Eye, 12 September 2025, https://www.middleeasteye.net/news/netanyahu-approves-e1-plan-bisect-west-bank-israeli-forces-raid-cities.
[4] Yashraj Sharma, “Illegal settlement expansion: How Israel is redrawing occupied West Bank,” Al Jazeera, 22 Desember 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/12/22/illegal-settlement-expansion-how-israel-is-redrawing-occupied-west-bank.
[5] Al Jazeera. (2026, January 7). Israel ‘asphyxiating’ Palestinians for ‘apartheid system’ in West Bank: UN. https://www.aljazeera.com/news/2026/1/7/israel-asphyxiating-palestinians-for-apartheid-system-in-west-bank-un