Gaza, NPC – Pasukan Israel telah membunuh puluhan ribu penduduk Palestina sejak genosida di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 72.000 kematian. Namun, sebuah studi yang diterbitkan oleh The Lancet Global Health pada Februari menemukan bahwa jumlah korban sebenarnya dalam 16 bulan pertama konflik kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi tersebut.
Serangan Israel itu telah digambarkan sebagai genosida oleh sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional dan Israel, termasuk Human Rights Watch, Amnesty International, dan B’Tselem.
Apa itu Kementerian Kesehatan Palestina?
Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) di Jalur Gaza merupakan otoritas kesehatan publik di wilayah tersebut yang mengawasi rumah sakit dan berbagai fasilitas medis lainnya.
Lembaga ini diisi oleh dokter dan tenaga medis profesional serta beroperasi di bawah administrasi pemerintah lokal di Gaza yang dijalankan oleh Hamas. Kementerian itu juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah.
Setiap penduduk Palestina memiliki nomor identitas sesuai dengan kebijakan registrasi penduduk yang dikelola Israel. Setelah kementerian mengonfirmasi adanya korban jiwa, identitas individu tersebut, termasuk nomor identitasnya, secara resmi dicatat sebagai meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan hanya mendokumentasikan kematian yang sampai ke rumah sakit di bawah pengawasannya dan setelah seluruh informasi identitas diverifikasi.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, kementerian mengakui bahwa banyak orang masih tertimbun di bawah reruntuhan atau berada di wilayah yang tidak dapat dijangkau tim medis. Karena itu, mereka belum tercatat secara resmi sebagai korban meninggal dunia.
Sepanjang genosida berlangsung, kementerian secara berkala menerbitkan daftar nama individu, usia, jenis kelamin, serta nomor identitas korban. Hingga 22 Februari, menurut kementerian tersebut, sebanyak 72.072 penduduk Palestina telah secara resmi dinyatakan meninggal dunia.
Jumlah itu mencakup 614 orang yang terbunuh dalam serangan yang terus berlangsung sejak “gencatan senjata” diberlakukan pada 11 Oktober 2025. Selain itu, 171.741 orang mengalami luka-luka akibat konflik, menurut data Kementerian Kesehatan.
Daftar lengkap terbaru yang dirilis pada 7 Oktober 2025 menunjukkan bahwa lebih dari setengah korban meninggal dunia adalah perempuan, anak-anak di bawah usia 18 tahun, atau lansia berusia di atas 65 tahun. Kementerian Kesehatan tidak membedakan antara kombatan dan penduduk sipil dalam pencatatannya.
Mengapa Organisasi Internasional Menganggapnya Dapat Dipercaya?
Kementerian menghadapi tantangan besar dalam mengumpulkan data korban, termasuk pengungsian paksa yang berulang terhadap penduduk Gaza, kehancuran struktur administrasi wilayah itu, serta gangguan berulang pada sistem teknologi informasi mereka.
Meski demikian, lembaga ini tetap dianggap kredibel oleh organisasi internasional yang bekerja di Gaza, termasuk badan-badan PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Angka-angkanya dikutip tanpa catatan tambahan dalam laporan kemanusiaan rutin yang diterbitkan oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), yang secara independen menilai kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut
Dalam konflik sebelumnya—seperti perang Gaza 2008–2009 dan perang Gaza 2014—jumlah korban yang dilaporkan kementerian sejalan dengan perhitungan independen PBB.
Michael Spagat, profesor ekonomi di Royal Holloway University sekaligus ketua organisasi non-pemerintah Every Casualty Counts, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pencantuman nomor identitas dalam daftar korban memungkinkan angka tersebut diverifikasi secara eksternal.
“Registrasi penduduk dikendalikan oleh Israel, sehingga Israel dapat segera memeriksa bahwa setiap orang dalam daftar itu benar-benar ada,” katanya.
“Dalam pelaporan korban, ini merupakan tingkat transparansi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi tidak ada keharusan untuk mempercayai Hamas. Datanya tersedia secara rinci untuk diperiksa.”
Menurutnya, banyak pihak telah menelaah data tersebut dan meskipun mungkin terdapat kekurangan—sesuatu yang tak terelakkan dalam kumpulan data besar—tidak pernah ditemukan masalah besar.
Spagat menambahkan bahwa kementerian tidak mungkin mengikuti kecepatan pembunuhan yang terjadi secara waktu nyata. Karena itu, angka kementerian sebaiknya dipandang sebagai batas minimum yang dapat dipercaya, bukan gambaran menyeluruh. Meski demikian, laporan kementerian tetap mendapat sorotan sepanjang genosida, terutama dari Israel dan Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat pemerintah dan militer Israel, termasuk Jonathan Conricus, mengkritik angka tersebut. Pada November 2023 ia mengatakan: “Angka yang dikeluarkan oleh entitas yang dikendalikan Hamas di Gaza itu, sederhananya, tidak benar. Jumlah perempuan, anak-anak, dan lansia dibesar-besarkan”.
Penelitian Lancet Global Health
Studi The Lancet Global Health memperkirakan 75.200 penduduk Palestina meninggal dunia di Gaza antara 7 Oktober 2023 hingga 5 Januari 2025. Angka itu setara dengan rata-rata sekitar 150 orang per hari, atau 3,4 persen dari total populasi Gaza.
Jumlah tersebut 35 persen lebih tinggi dibandingkan angka yang dicatat Kementerian Kesehatan Palestina untuk periode yang sama, yakni 49.090 korban jiwa. Gencatan senjata resmi disepakati pada Oktober 2025, meskipun serangan Israel berikutnya tetap menewaskan lebih dari 600 orang menurut kementerian.
Penelitian itu juga memperkirakan 8.540 orang meninggal dunia akibat dampak tidak langsung konflik, termasuk kelaparan serta pembatasan akses terhadap obat-obatan dan layanan kesehatan yang diberlakukan Israel.
Sekitar 12.000 penduduk Palestina lainnya masih dinyatakan hilang pada saat survei dilakukan. Jenazah mereka diyakini masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Dengan demikian, jumlah korban jiwa hingga Januari 2025 kemungkinan melampaui 95.000 orang.
Setidaknya 25.000 penduduk Palestina lainnya diperkirakan meninggal dunia dalam perang yang kembali memanas dan kelaparan yang dipicu kebijakan Israel antara Maret dan Oktober tahun lalu.
Penelitian itu juga memperkirakan 56 persen korban meninggal dunia adalah perempuan atau anak-anak di bawah 18 tahun, dua persen lebih tinggi dibandingkan catatan kementerian.
Makalah tersebut menyimpulkan bahwa Kementerian Kesehatan Palestina “tampaknya memberikan angka yang konservatif namun dapat dipercaya meskipun bekerja dalam keterbatasan luar biasa”.
Mengapa Studi Lancet ini Penting?
The Lancet Global Health merupakan bagian dari jurnal medis The Lancet, yang telah terbit sejak 1823 dan termasuk jurnal medis paling bergengsi di dunia.
Penelitian akademik independen mengenai jumlah korban di Gaza sangat terbatas karena blokade militer Israel.
Tenaga medis, penyelidik hak asasi manusia, serta jurnalis asing dilarang memasuki wilayah tersebut.
Studi The Lancet Global Health menjadi penelitian pertama yang ditinjau sejawat (peer-reviewed) yang memberikan estimasi jumlah korban jiwa yang sepenuhnya independen dari Kementerian Kesehatan Palestina.
Bagaimana Metodologi Penelitian Ini?
Para peneliti memastikan survei tersebut mewakili populasi untuk memperkirakan jumlah penduduk Palestina yang terbunuh, bukan menghitung setiap kematian secara individual.
Peneliti menghubungi lebih dari 2.000 rumah tangga di Gaza yang dipilih sebagai sampel representatif populasi. Para responden diminta memberikan informasi tentang kematian anggota keluarga mereka. Dari data itu, peneliti menghitung estimasi total korban jiwa.
Namun para penulis studi mencatat adanya keterbatasan metode ini. Dalam beberapa kasus, seluruh keluarga besar telah musnah akibat serangan Israel sehingga tidak ada yang dapat menjawab survei.
Tim penulis penelitian ini mencakup akademisi dari Stanford University, Princeton University, Royal Holloway University of London, Université Catholique de Louvain, Palestinian Center for Policy and Survey Research di Ramallah, serta Peace Research Institute di Oslo.
Spagat, salah satu penulis studi, mengatakan temuan tersebut “secara meyakinkan mematahkan anggapan bahwa angka Kementerian Kesehatan dilebih-lebihkan”.
“Saya tanpa ragu mengatakan bahwa angka Kementerian Kesehatan justru merupakan perkiraan yang jauh lebih rendah dari jumlah sebenarnya,” ujarnya.
Hal yang Dilaporkan Penelitian Lain
Pada Februari 2025, The Lancet menerbitkan studi berjudul Traumatic Injury Mortality in the Gaza Strip from Oct 7, 2023, to June 30, 2024: a Capture–Recapture Analysis.
Penelitian yang dilakukan akademisi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine serta Yale University itu memperkirakan 64.260 penduduk Palestina meninggal dunia akibat cedera traumatis dalam sembilan bulan pertama pemboman Israel, antara 7 Oktober 2023 hingga 30 Juni 2024.
Jumlah itu lebih dari 40 persen lebih tinggi dibandingkan angka kementerian untuk periode yang sama. Estimasi tersebut didasarkan pada data survei daring, daftar rumah sakit kementerian, serta obituari di media sosial.
Studi lain yang diterbitkan pada November 2025 oleh Max Planck Institute for Demographic Research di Jerman dan Centre for Demographic Studies (CED) di Barcelona mencapai kesimpulan serupa.
Makalah berjudul Accounting for Uncertainty in Conflict Mortality Estimation: an Application to the Gaza War in 2023–2024 memperkirakan antara 70.614 hingga 87.504 penduduk Palestina meninggal dunia akibat cedera traumatis di Gaza hingga 31 Desember 2024.
Para peneliti menghitung angka itu dengan memodelkan data dari berbagai sumber publik, termasuk Kementerian Kesehatan Palestina, B’Tselem, dan OCHA.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tingginya korban jiwa telah menurunkan harapan hidup rata-rata penduduk Palestina di Gaza menjadi 26,1 tahun untuk laki-laki dan 34,3 tahun untuk perempuan, kurang dari setengah angka sebelum perang.
Ketika model tersebut diterapkan pada data yang lebih baru, para peneliti menyimpulkan bahwa lebih dari 100.000 penduduk Palestina telah meninggal dunia hingga 6 Oktober 2025.
Pada November 2025, studi lain di The Lancet memperkirakan lebih dari tiga juta tahun kehidupan manusia hilang di Gaza berdasarkan sekitar 60.000 kematian yang tercatat saat itu oleh Kementerian Kesehatan Palestina.
Apa Kata Israel?
Israel pada awalnya menolak angka korban yang dikeluarkan kementerian karena keterlibatan Hamas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, pada Mei 2024 mengatakan angka tersebut tidak akurat dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.
“Pengulangan pesan propaganda Hamas tanpa proses verifikasi apa pun terbukti berkali-kali cacat secara metodologis dan tidak profesional,” katanya.
Meskipun demikian, pada 29 Januari 2026, seorang pejabat senior militer Israel mengatakan kepada para jurnalis bahwa 70.000 penduduk Palestina telah meninggal dunia dalam perang—angka yang pada dasarnya mengonfirmasi data Palestina yang sebelumnya diperselisihkan.
Pada Agustus 2025, +972 Magazine juga melaporkan data dari basis intelijen militer Israel yang bersifat rahasia. Data tersebut menunjukkan kurang dari 9.000 korban Palestina yang diidentifikasi sebagai pejuang Hamas.
Pada saat itu, Kementerian Kesehatan Gaza telah mencatat sedikitnya 53.000 kematian, yang berarti sekitar 46.000 korban atau 83 persen di antaranya adalah penduduk sipil.
Kata Dunia Internasional
Amerika Serikat tidak secara eksplisit menyebutkan berapa jumlah korban yang diyakini meninggal dunia di Gaza. Namun Presiden Donald Trump tampaknya mengakui bahwa angka kementerian merupakan perkiraan yang lebih rendah pada Oktober 2025.
“Dari sudut pandang Hamas, mereka mungkin kehilangan 70.000 orang. Itu pembalasan yang besar,” katanya.
Pendahulunya, Joe Biden, sebelumnya meragukan akurasi data tersebut saat masih menjabat sebagai presiden pada Oktober 2023.
“Saya tidak punya dasar bahwa penduduk Palestina mengatakan yang sebenarnya tentang berapa banyak orang yang terbunuh. Saya yakin orang tak bersalah memang meninggal dunia, dan itu harga dari sebuah perang. Tapi saya tidak percaya pada angka yang mereka gunakan,” katanya.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper tampaknya menerima angka tersebut dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB pada Februari 2026, ketika ia menyebut “lebih dari 70.000 penduduk Palestina” telah meninggal dunia di Gaza.
Kantor Luar Negeri Inggris menyimpulkan pada September 2025 bahwa tindakan Israel di Gaza tidak dapat dikategorikan sebagai genosida. Sementara itu, angka korban yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Palestina secara rutin dikutip dalam pernyataan resmi pemerintah negara-negara mayoritas Arab.
(T.FJ/S: MEE)