Gencatan Senjata Tak Pernah Akhiri Derita Gaza

Foto: AA/TRT Global

‘Gencatan senjata mungkin akan segera terjadi di Gaza’, sebuah frasa yang menghadirkan harapan, namun lebih sering berakhir dengan mengecewakan. Setiap kali wacana itu mencuat, harapan warga Palestina maupun masyarakat internasional seketika tumbuh, lalu kembali pupus ketika deru bom kembali mengoyak. Gencatan senjata hanyalah jeda semu, rapuh dan sementara, yang sering kali menjadi prolog bagi babak kekerasan berikutnya.

Dalam perkembangan terkini, Mesir dan Qatar memediasi sebuah proposal gencatan senjata yang dikabarkan telah disetujui oleh Hamas pada Senin, (18/08/2025). Proposal tersebut digadang-gadang mampu meredakan eskalasi yang terus memanas di Gaza. Namun, sebagaimana kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, inisiatif ini lebih menyerupai upaya jeda sesaat daripada langkah nyata untuk menyelesaikan akar konflik. Pertanyaannya, sampai kapan jeda semacam ini hanya menjadi siklus berulang tanpa arah yang jelas? Dan mengapa perdamaian yang sejati selalu gagal terwujud?

 

Siklus yang Berulang Tanpa Arah yang Jelas

Gencatan senjata di Gaza dapat dikatakan sebagai siklus yang terus berulang tanpa arah yang jelas. Sejak Oktober 2023, tercatat ada beberapa peristiwa yang membuktikan bahwa gencatan senjata hanyalah sebuah jeda sesaat tanpa adanya langkah nyata untuk menyelesaikan akar konflik.

Salah satu contohnya terjadi pada (15/01/2025), ketika kesepakatan gencatan senjata tiga tahap diumumkan di Doha oleh Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Kesepakatan yang lahir dari negosiasi berbulan-bulan antara Hamas dan Israel ini dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat, yang mencakup pembebasan para tawanan, penarikan pasukan Israel, dan kembalinya warga Palestina ke rumah mereka di Gaza Utara, wilayah yang sebagian besar telah porak-poranda.[1]

Warga Palestina merayakan kemenangan di Kota Gaza pada hari Rabu (15/01/25), setelah Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata. (Foto: Anadolu/Getty Images/The Guardians)

Di seluruh daerah kantong, pengumuman tersebut disambut dengan kegembiraan publik, keluarga-keluarga warga Israel dan Palestina yang ditawan oleh Israel menyambut baik berita tersebut. Namun, selama empat hari berikutnya, Israel terus membombardir Gaza, tampaknya mencoba untuk menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin sebelum gencatan senjata dimulai.[2]

Pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata oleh Israel pun kian memburuk dari hari ke hari. Pelanggaran tersebut mencakup praktik genosida yang terus berlanjut, manipulasi data terkait jumlah tawanan yang dibebaskan, hingga intimidasi terhadap keluarga para tahanan Palestina yang telah dibebaskan. Situasi ini semakin memanas pada (11/02/2025), ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali memainkan peran sebagai ‘korban’ dengan menuding Hamas telah merusak kesepakatan. Ia bahkan menyerukan bahwa gencatan senjata di Gaza akan dibatalkan dan “pertempuran sengit” akan berlanjut jika para tawanan Israel tidak segera dibebaskan.

Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, jelas bahwa gencatan senjata di Gaza tidak pernah benar-benar menjadi langkah menuju perdamaian yang berkelanjutan, melainkan sekadar jeda rapuh yang terus diulang tanpa arah yang pasti. Setiap kesepakatan yang diumumkan dengan gegap gempita hanya berakhir menjadi panggung pelanggaran baru yang semakin memperdalam penderitaan rakyat Palestina. Selama akar konflik tidak terselesaikan dan pelanggaran terus dibiarkan tanpa konsekuensi, gencatan senjata hanyalah ketenangan sesaat sebelum babak baru kekerasan kembali dilanjutkan.

Sebab-sebab Perdamaian Sejati Selalu Gagal Terwujud

1. Penjajah Tidak Pernah Menghendaki Perdamaian

Proposal gencatan senjata yang diinisiasi oleh Mesir dan Qatar pada 16 Agustus 2025, mencakup poin penghentian sementara operasi militer selama 60 hari, di mana tentara Israel akan berpindah lokasi guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Kemudian , setengah dari 50 tawanan Israel akan ditukar dengan tawanan Palestina dalam jangka waktu yang sama.[3] Banyak pihak menyatakan bahwa proposal baru ini ‘menjadi jalan awal menuju solusi komprehensif’.

Hamas dikabarkan telah menyetujui proposal tersebut pada 18 Agustus 2025,[4] sebagai bagian dari upaya perdamaian dan menyelamatkan hak hidup manusia. Sedangkan pihak penjajah terkesan mengabaikan tanggapan dari Hamas dan mengisyaratkan bahwa mereka akan terus melanjutkan rencananya untuk mengambil alih kota Gaza dan memindahkan penduduknya ke Jalur Gaza selatan.[5]

Selama dua tahun terakhir, Hamas telah menerima usulan gencatan senjata dan pembebasan tawanan Israel dan tahanan Palestina, namun Israel menolaknya dan bersikeras melanjutkan perang. Permasalahan utama adalah durasi gencatan senjata. Hamas menginginkan akhir perang yang permanen, tetapi Israel menginginkan gencatan senjata sementara yang memungkinkannya untuk melanjutkan kampanye penghancuran di Gaza.

Tujuan para penjajah hanya satu, menguasai Gaza sepenuhnya, dan mengusir seluruh penduduk Gaza dari tanah airnya sendiri. Mereka tidak pernah memiliki cita-cita perdamaian, sehingga sebanyak apapun proposal resolusi, sebanyak apapun mediator yang coba menengahi, tidak akan pernah membuat penjajah melangkah ke jalan perdamaian.

2. Desakan Global dan Domestik Tak Mampu Menghentikan Kejahatan Penjajah

Seruan gencatan senjata kembali menggema dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Israel segera menghentikan serangan di Gaza serta membatalkan rencana besar-besaran pendudukan organisasi ilegal di Tepi Barat, termasuk wilayah sensitif E1 yang mengancam pembentukan negara Palestina di masa mendatang.[6]

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga memperingatkan bahwa rencana serangan di Gaza hanya akan memperparah bencana bagi kedua pihak. Ia menekankan pentingnya melucuti senjata Hamas, memperkuat peran Otoritas Palestina di Gaza, dan menyalurkan bantuan kemanusiaan berskala besar. Bersama Mesir, Yordania, dan mitra regional lainnya, Prancis mendukung pengerahan ‘misi stabilisasi internasional’ di Gaza serta mendorong solusi politik yang menjawab aspirasi kedua bangsa.[7]

Sementara itu, tekanan dari dalam negeri terhadap pemerintah Israel terus meningkat, khususnya dari keluarga sandera yang menuntut tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Aksi protes besar-besaran pada 17 Agustus 2025, yang disertai pemogokan umum, memadati Lapangan Hostage di Tel Aviv dengan seruan “Bawa mereka semua pulang! Hentikan perang!”.[8]

Massa berbondong-bondong di Tel Aviv menuntut pemerintah untuk membatalkan keputusannya menduduki Kota Gaza sepenuhnya dan menandatangani perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan. (Foto: Anadolu/Getty Images/The Guardian)

Namun, di tengah gelombang desakan tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru menuduh pihak-pihak yang mengecam tindakannya sebagai ‘antisemitisme’.

Netanyahu juga mengabaikan tanggapan Hamas (dalam persetujuan gencatan senjata) dan memberi sinyal untuk tetap melanjutkan rencana pendudukan di Kota Gaza.[9] Kepala Staf Israel, Eyal Zamir, mendesak Netanyahu agar menerima proposal pertukaran tahanan yang menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.[10]

Menyusul tekanan itu, pada 21 Agustus 2025, Netanyahu memerintahkan dimulainya negosiasi rahasia, dan tetap mempersiapkan operasi militer.[11] Hal ini mengindikasikan munculnya perjanjian baru yang lebih menguntungkan penjajah, dan merugikan Hamas serta otoritas Palestina, sehingga narasi perdamaian akan semakin sulit untuk diwujudkan.

Lantai empat Rumah Sakit Nasser yang rusak akibat serangan Israel pada Senin, 25 Agustus 2025, yang menewaskan sedikitnya 20 orang termasuk lima wartawan, kata pejabat kesehatan. Israel terus melakukan praktik genosida di tengah isu gencatan senjata. (Foto: Anadolu/Getty Images/The Guardian)

Kesimpulan

Gencatan senjata di Gaza berulang kali muncul sebagai harapan semu yang tak pernah berakhir pada perdamaian sejati. Meski berbagai pihak, baik internasional maupun domestik terus mendesak Israel untuk menghentikan kekerasan, kenyataannya proposal-proposal tersebut hanya menjadi jeda rapuh yang dimanfaatkan penjajah untuk memperpanjang penderitaan rakyat Palestina. Selama tujuan Israel tetap berpusat pada penduduk penuh dan pengusiran warga Gaza, setiap upaya gencatan senjata hanya akan menjadi siklus sementara yang membuka jalan bagi babak kekerasan berikutnya.

Penulis: Fuad Nur Zaman

 

Sumber:

[1] The Guardian, “International aid organisations welcome ceasefire deal – as it happened”, The Guardian, January 16, 2025. https://www.theguardian.com/world/live/2025/jan/15/israel-gaza-war-live-ceasefire-hostage-deal-benjamin-netanyahu-hamas

[2] Al Jazeera, “Israel and Hamas reach Gaza ceasefire deal, what are the next steps?”, Al Jazeera, January 16, 2025.

https://www.aljazeera.com/news/2025/1/16/israel-and-hamas-reach-gaza-ceasefire-deal-what-are-the-next-steps

[3] David Gritten, Rushdi Abualouf, “Hamas source says group agrees to latest Gaza ceasefire proposal”, BBC, August 19, 2025. https://www.bbc.com/news/articles/ckgjye15zdlo

[4] Ibid.

[5] Yakub MagidNurit Yohanan, Emanuel Fabian, “Hamas says it agrees to latest ceasefire proposal; Netanyahu sounds dismissive”, The Times of Israel, August 18, 2025. https://www.timesofisrael.com/hamas-says-it-agrees-to-latest-ceasefire-proposal-as-mediators-scramble-for-deal/

[6] AgenciesNava FreibergStav Levaton, ToI Staff, “UN chief calls for immediate ceasefire, warns of casualties from Gaza City takeover”, The Times of Israel, August 21, 2025. https://www.timesofisrael.com/un-chief-calls-for-immediate-ceasefire-warns-of-casualties-from-gaza-city-takeover/

[7] Ibid.

[8] The Guardian, “ Tens of thousands of protesters gather in Tel Aviv to demand end to Gaza war”, The Guardian, August 17, 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/aug/17/tens-of-thousands-of-protesters-gather-in-tel-aviv-to-demand-end-to-gaza-war

[9] Yakub MagidNurit Yohanan, Emanuel Fabian, “Hamas says it agrees to latest ceasefire proposal; Netanyahu sounds dismissive”, The Times of Israel, August 18, 2025. https://www.timesofisrael.com/hamas-says-it-agrees-to-latest-ceasefire-proposal-as-mediators-scramble-for-deal/

[10] TRT Global, “Israeli army chief urges Netanyahu to accept current proposal for Gaza prisoner swap”, TRT Global, August 24, 2025. https://trt.global/world/article/06e1f9a50980

[11] James Gregory, “Gaza City will be razed if Hamas does not agree our terms, Israel minister says”, BBC, August 22, 2025. https://www.bbc.com/news/articles/c754kknw2g2o

You might also like