Gencatan Senjata Hanya Ilusi, Amnesty Internasional Sebut Israel Masih Lanjutkan Genosida di Gaza

Gaza, NPC – Lembaga HAM internasional, Amnesty International, pada Kamis (27/11/2025), menyebut bahwa Israel masih melakukan genosida terhadap penduduk Palestina di Gaza, meskipun gencatan senjata di wilayah tersebut telah memasuki bulan kedua dan seluruh sandera Israel yang masih hidup telah dibebaskan.

“Gencatan senjata berisiko menciptakan ilusi berbahaya bahwa kehidupan di Gaza mulai kembali normal. Meski pihak berwenang dan militer Israel telah mengurangi intensitas serangan dan membuka akses terbatas bagi bantuan kemanusiaan, dunia tidak boleh tertipu. Genosida Israel belum berakhir,” kata Sekretaris Jenderal Amnesty, Agnes Callamard, dalam pernyataannya pada Kamis.

Pada Desember 2024, Amnesty menyimpulkan bahwa perang Israel di Gaza merupakan tindakan genosida. Penilaian tersebut ditegaskan kembali oleh badan investigasi tertinggi PBB untuk isu Palestina dan Israel pada September lalu, yang menyatakan bahwa Israel bersalah melakukan kejahatan genosida di wilayah tersebut. Pandangan ini juga dibagikan oleh puluhan pemimpin dunia, sejarawan, pakar hak asasi manusia, hingga akademisi studi genosida.

Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat di Gaza dimulai pada 10 Oktober. Namun, Israel tetap melancarkan serangan ke wilayah itu dan melanggar kesepakatan. Otoritas Gaza melaporkan setidaknya 339 penduduk Palestina meninggal dunia akibat serangan udara Israel, di tengah hampir 500 pelanggaran gencatan senjata.

Amnesty Internasional juga mencatat bahwa Israel terus membatasi jumlah makanan dan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Misalnya, Rafah yang menjadi satu-satunya pintu masuk Gaza ke dunia luar masih ditutup, sehingga seluruh bantuan harus melalui Israel. Gaza pun tetap berada di bawah blokade laut total.

Kantor Media Pemerintah Palestina di Gaza menyebut Israel hanya mengizinkan sekitar 200 truk bantuan masuk per hari, jauh di bawah kesepakatan gencatan senjata yang menetapkan 600 truk.

Genosida Penduduk Palestina di Gaza Masih Berlangsung

Meski serangan militer Israel telah menurun, penduduk Palestina di Gaza tetap menghadapi risiko “kematian perlahan” akibat kekurangan makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan, menurut Amnesty.

“Probabilitas objektif bahwa kondisi saat ini akan mengarah pada pemusnahan penduduk Palestina di Gaza masih ada, terutama mengingat meningkatnya kerentanan terhadap penyakit setelah berbulan-bulan kelaparan yang disebabkan oleh blokade ilegal bertahun-tahun dan pengepungan total selama beberapa bulan,” demikian isi laporan tersebut.

Gencatan senjata yang didukung AS membuat Israel tetap menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza, dengan pasukan Israel ditempatkan di dalam enklave tersebut. Pemerintahan Trump dan pemerintah Israel kini tengah menggodok rencana untuk mencegah pembangunan kembali Gaza bagian tengah, dari mana pasukan Israel diwajibkan mundur.

The New York Times melaporkan pekan ini bahwa pejabat AS dan Israel tengah menyusun rencana pembangunan hunian sementara bagi penduduk Palestina yang telah melalui proses “penyaringan” di Rafah yang diduduki Israel. Kompleks hunian itu akan dibangun di atas tanah milik penduduk Palestina.

Rencana tersebut menuai kritik keras dari penduduk Palestina serta pejabat Eropa, PBB, dan negara-negara Arab, yang menilai langkah itu secara de facto akan membagi Gaza dengan memanfaatkan proses rekonstruksi dan bantuan.

PBB menyatakan pekan ini bahwa rekonstruksi Jalur Gaza akan menelan biaya sekitar 70 miliar dolar AS dalam beberapa dekade mendatang. Laporan itu menyebutkan bahwa pemboman Israel telah menciptakan “jurang buatan manusia”, dengan ekonomi Gaza menyusut hingga 87 persen selama 2023–2024.

Israel telah menghancurkan hampir seluruh unit hunian di Gaza dan merusak lahan pertanian. Program Pangan Dunia melaporkan bahwa mayoritas keluarga di Gaza kini tidak mampu membeli bahan pangan dasar.

“Israel belum menghentikan pembatasan ketat atas akses penduduk Palestina ke laut. Tidak ada langkah yang diambil untuk mengatasi dampak kehancuran besar-besaran atas lahan pertanian dan ternak selama dua tahun terakhir,” kata Amnesty Internasional.

“Keseluruhan kondisi ini membuat penduduk Palestina praktis kehilangan akses independen terhadap sumber-sumber penghidupan,” demikian laporan tersebut.

Perang genosida Israel di Gaza telah membunuh dan melukai lebih dari 245.000 penduduk Palestina hingga saat ini, di mana sebagian besar adalah penduduk sipil. Laporan yang dirilis pada Agustus 2025 dan berdasarkan data intelijen militer Israel menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen korban jiwa hingga Mei tahun ini merupakan penduduk sipil.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like