Gencatan Senjata dengan Iran Menunjukkan Kelemahan Israel dan Ketergantungannya pada AS

Ditulis oleh: Abdaljawad Omar*

Gaza, NPC – Banyak komentar terbaru tentang perang agresi Israel terhadap Iran dipenuhi dengan pujian, mulai dari ketepatan serangan, kehebatan intelijen, hingga efisiensi “klinis” dalam menargetkan bukan hanya militan, tetapi juga ilmuwan, teknisi, serta “situs dan infrastruktur,” sebuah istilah yang kini menjadi sebuah istilah halus yang diterima umum.

Serangan awal Israel dalam perang ini dinilai efektif menurut standar militer konvensional. Iran sempat terpukul dan perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Meski kemudian mampu bangkit perlahan, respons Iran lebih mencerminkan ketahanan jangka panjang daripada dominasi.

Selama proses ini, Iran kehilangan banyak pemimpin militer dan mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur nuklirnya, terutama setelah keterlibatan langsung Amerika Serikat. Namun, secara global, ekonomi tetap stabil, harga minyak tidak melonjak, dan eskalasi konflik dapat dikendalikan. Dari sudut pandang operasional, Israel dan AS dinilai berhasil.

Media-media besar seperti The New York TimesThe Economist, dan The Financial Times pun memuji keberhasilan ini dengan narasi tentang “ketangkasan” dan “presisi”. Namun, narasi ini kerap menyamakan keberhasilan taktis dengan kemenangan strategis, sebuah penyederhanaan yang mengabaikan sejarah panjang di mana kemenangan militer tak selalu berarti penyelesaian konflik, melainkan hanya menjadi pendahulu dari babak selanjutnya.

Sejarawan mungkin akan mencatat bagaimana Israel, yang pernah mengalami kekalahan relatif dalam konflik dengan Hizbullah pada 2000 dan 2006, mereformasi doktrin militernya dan mengembangkan strategi baru. Para ahli teknologi akan menyoroti kecanggihan intelijen Israel yang mampu menembus jaringan rahasia Iran. Israel akan kembali dipuji bukan hanya karena hasil yang dicapai, tetapi juga karena cara mencapainya.

Meskipun demikian, di balik pujian dalam negeri atas kemampuan militernya, perang ini justru menunjukkan batas kekuatan Israel. Batas paling mendasar adalah ketergantungannya pada Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Meskipun tampil seperti negara kuat dan mandiri, Israel sesungguhnya sangat bergantung pada dukungan luar negeri, baik dari segi keuangan, teknologi, hingga politik. Tanpa industri pertahanan dalam negeri yang mumpuni untuk perang berkepanjangan, Israel mengandalkan pasokan senjata dan dukungan logistik dari Washington, London, Paris, dan Berlin.

Keunggulan militer Israel tidak bisa dipisahkan dari aliran bantuan senjata, pesawat tempur, dan dukungan politik yang terus-menerus dari negara-negara Barat. Ketergantungan struktural ini jarang dibicarakan secara terbuka dan lebih sering disamarkan sebagai kekuatan.

Selama perang, kontradiksi antara ambisi Israel dan batasan dari Amerika Serikat tampak jelas sejak awal. Israel tidak dapat menyerang beberapa situs nuklir Iran yang paling sensitif karena tekanan politik, terutama dari dalam AS sendiri. Selain itu, Israel awalnya mengusung agenda perubahan rezim di Iran, akan tetapi akhirnya harus puas dengan hasil yang lebih sempit, sekadar memperlambat atau merusak kemampuan nuklir Iran.

Batas lain dari kekuatan Israel juga terlihat dalam kebijakannya terhadap Palestina. Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya dampak sampingan perang, tetapi bagian dari strategi yang sistematis dan semakin terorganisir. Di bawah pemerintahan yang didorong oleh ambisi etno-nasionalis dan fanatisme keagamaan, Gaza menjadi semacam laboratorium kekerasan: infrastruktur dihancurkan, kehidupan sipil dilenyapkan, dan seluruh populasi dianggap bisa diabaikan. Ini tidak bisa disebut hal lain selain genosida.

Meskipun kekejaman ini masih mendapat pembenaran dari elit politik Barat dan media arus utama, opini publik global mulai bergeser. Di AS, tanda-tanda perubahan muncul dari keraguan sejumlah anggota parlemen, perpecahan di kalangan komentator konservatif, hingga kebangkitan kelompok progresif yang tidak lagi menerima narasi pro-Israel tanpa pertanyaan. Bahkan narasi antisemitisme tidak lagi sepenuhnya efektif untuk membungkam kritik.

Sementara itu, Amerika Serikat semakin sibuk dengan masalah dalam negerinya sendiri, perang budaya, konflik dagang, dan keengganan untuk terus mendanai perang yang tidak berujung di luar negeri. Hasrat untuk perang permanen, yang selama ini menjadi dasar dari peran strategis Israel, semakin pudar. Walaupun bantuan militer ke Israel mungkin akan tetap berlanjut dalam waktu dekat, tanda-tanda keausan dukungan ini sudah mulai terlihat.

Iran sendiri belum dikalahkan. Meskipun kehilangan beberapa komandan dan infrastruktur penting, rezim Iran tetap utuh. Iran masih mempertahankan kekuatan utamanya. Selat Hormuz tetap terbuka, pangkalan militer AS utama di wilayah Teluk tidak diserang, dan fasilitas minyak utama masih berfungsi. Iran memilih menahan diri, menjaga ambiguitas strategis, dan menyimpan senjata-senjata utama mereka untuk kemungkinan konflik berikutnya.

Strategi ini sangat berbeda dengan pendekatan Israel. Iran bermain jangka panjang, menghindari risiko besar, sementara Israel mengandalkan kecepatan, kekerasan ekstrem, dan tontonan militer. Bagi Israel, kekuatan militer adalah pertunjukan, demonstrasi kekuasaan yang ditujukan tidak hanya ke musuh, tetapi juga ke negara-negara Barat sebagai bentuk “pengabdian” pada kepentingan mereka.

Pertunjukan ini ada batasnya. Ketika kekuatan militer tidak bisa memberikan hasil politik yang jelas, publik yang sebelumnya terhibur mulai merasakan kegelisahan. Ketika musuh tetap bertahan dan tidak menyerah, ilusi kontrol mulai runtuh.

Pertanyaannya kini: apakah Israel akan terus mencoba menghapus Palestina secara etnis, atau harus belajar hidup berdampingan? Apakah Hizbullah akan tetap diam? Apakah Iran akan menyerah pada diplomasi atau justru memperkuat aliansinya dengan China dan Rusia?

Doktrin Israel yang Mulai Terbatas

Keunggulan operasional militer Israel sejauh ini belum mampu diubah menjadi keberhasilan strategis. Pendekatan Iran yang dingin dan penuh perhitungan, yang cenderung menghindari risiko dan memilih strategi jangka Panjang, memang membuatnya rentan terhadap serangan awal. Namun, secara paradoks, pendekatan ini juga melindunginya dari konfrontasi skala penuh. Sikap yang membuat Iran tampak lemah justru memungkinkannya untuk menyerap serangan, memperpendek durasi perang, dan membatasi eskalasi konflik. Dalam konteks ini, penahanan diri bukanlah kebajikan moral, melainkan taktik: cara untuk mengelola kerentanan sambil tetap menjaga opsi di masa depan. Strategi ini kemungkinan besar akan terus dikaji ulang.

Meskipun babak ini membuat Iran terluka, negara tersebut tetap utuh dan yang paling penting, belum menggunakan kartu-kartu pamungkasnya. Selat Hormuz masih terbuka, pangkalan militer Amerika di seluruh wilayah Teluk tidak tersentuh, dan infrastruktur minyak kawasan Timur Tengah, yang selalu menjadi teater bayangan perang, masih berfungsi normal. Dengan memilih menahan diri, Iran mampu menjaga persenjataannya dan tetap mempertahankan ambiguitas strategisnya.

Strategi ini sangat bertolak belakang dengan pendekatan khas Israel. Di saat Iran memilih penundaan dan permainan waktu, Israel justru mengandalkan kecepatan: serangan mendadak yang mengejutkan, dominasi cepat, dan koreografi penyerahan yang dramatis. Doktrin militer Israel tidak didorong oleh kesabaran, melainkan oleh hasrat untuk melumpuhkan lawan secepat mungkin, membuat perlawanan terasa mustahil melalui kecepatan dan kekuatan yang brutal.

Strategi ini bertumpu pada visibilitas, tontonan, dan risiko, berdasarkan keyakinan bahwa pencegahan terbaik adalah pertunjukan kekerasan tanpa batas. Taktik semacam ini bukan hanya untuk tujuan regional, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan optik kekaisaran global: kemampuan Israel dalam menggunakan senjata buatan Amerika secara presisi dan mencolok juga berfungsi sebagai bentuk “pengabdian” kepada kekuatan besar, menjalankan pekerjaan kotor atas nama Jerman, Prancis, Inggris, Kanada, dan tentu saja, Amerika Serikat.

Pertunjukan militer di medan perang ini juga berfungsi sebagai alat tukar politik, bukti bahwa Israel adalah mitra yang dapat diandalkan, disiplin, dan berguna. Nilai ini penting bagi Israel di Washington, bukan hanya berdasarkan hasil akhir, tetapi juga cara mereka mencapainya. Israel sangat menyadari bahwa “kredit politik” semacam itu sangat dibutuhkan, terutama di saat asumsi, biaya, dan hubungan Israel dengan kekuatan Barat mulai dipertanyakan kembali.

Meskipun demikian, doktrin ini memiliki batas. Meskipun strategi tersebut memberikan ilusi kendali, rasa aman, bahkan kejayaan di mata publik dalam negerinya, pendekatan ini juga menciptakan potensi untuk kekecewaan besar. Pertunjukan kontrol total yang terus diputar ulang untuk konsumsi domestik tak selalu mampu menjelaskan kerasnya kenyataan politik. Ketika bangunan ini mulai retak, saat pencegahan gagal dan musuh tetap bertahan, maka pertunjukan yang semula menenangkan justru menjadi sumber kegelisahan. Masyarakat Israel, meski samar, mulai menyadari batas dari kekuatan militer itu sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan besar pun mulai muncul: Apakah Israel benar-benar bisa mengusir seluruh rakyat Palestina, atau justru harus hidup berdampingan dengan mereka, nyata, tidak dapat diserap, dan tak terhapuskan? Apakah Israel bisa terus berharap Hizbullah akan diam selama beberapa dekade ke depan? Apakah mereka yakin Iran akan tetap tunduk pada diplomasi atau perdagangan? Ataukah permainan ini akan terus berlanjut, dengan wajah-wajah baru, setiap babak menjanjikan penyelesaian tetapi hanya menunda konflik yang tak kunjung usai?

Saatnya Iran Menghadapi Konsekuensi

Logika ini, tentu saja, tidak hanya berlaku bagi Israel, tetapi juga bagi Iran dan Poros Perlawanan-nya. Strategi lama mereka yang mengandalkan penahanan diri yang terukur, keterlibatan terbatas, ambiguitas strategis, dan pertempuran bayangan sebagai pengganti konfrontasi langsung, akhirnya diuji pada 7 Oktober. Peristiwa setelahnya menunjukkan bahwa pendekatan lama itu tak lagi memadai. Ruang untuk bersikap ambigu semakin menyempit, dan menghindar dari konfrontasi kini menjadi terlalu mahal harganya.

Apakah poros ini akan beradaptasi, mundur, atau justru melipatgandakan perlawanan masih belum bisa dipastikan. Namun ada sesuatu yang berubah secara struktural: bahasa konfrontasi telah bergeser, dan bersamanya, batas waktu untuk menunda keputusan juga ikut berubah. Hizbullah dan Iran semula berusaha mempertahankan sikap menahan diri. Sebaliknya, Israel justru mendorong eskalasi, mengambil risiko, menampilkan kekuatan sebagai tontonan, dan melibatkan Amerika Serikat. Dalam pertemuan strategi itu, yang menang bukanlah kehati-hatian, melainkan provokasi dan dalam jangka panjang, harga dari menahan diri bisa saja setara dengan atau bahkan lebih besar daripada, harga dari menyerang.

Seperti biasa, masa depan tetap tak menentu. Mungkin ini akan menjadi konfrontasi terakhir antara kedua kekuatan tersebut atau mungkin hanya satu episode lagi dalam perang yang tidak pernah benar-benar berakhir, sebuah mutasi baru dari konflik lama yang menolak usai. Namun satu hal kini semakin jelas: tindakan Israel, pembunuhan brutal terhadap rakyat Palestina, kehancuran yang ditimbulkan di Gaza, serta jurang antara kemenangan militer dan kegagalan politik, tidak akan mudah dilupakan.

Bahkan pada hari gencatan senjata mulai berlaku, Israel diperintahkan oleh Presiden Trump melalui sebuah cuitan agar tidak membalas serangan roket dari Iran. Di saat yang sama, pasukan Israel terpaksa mengais reruntuhan bangunan untuk mencari jenazah korban dari serangan rudal mematikan Iran. Arsitektur kekebalan hukum tidaklah abadi. Hal yang ditekan hari ini memiliki kecenderungan untuk kembali esok hari. Perang yang dibiarkan terus berlangsung tanpa ujung sering kali berputar Kembali, menuntut jawaban dari mereka yang mengira telah menang.

___

*Abdaljawad Omar merupakan sarjana dan ahli teori Palestina yang karyanya berfokus pada politik perlawanan, dekolonisasi, dan perjuangan Palestina.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

You might also like