Gaza, NPC – Sebuah penilaian bersama Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Bank Dunia memperkirakan Gaza membutuhkan dana sebesar 71,4 miliar dolar (sekitar 1.142 triliun rupiah) untuk pemulihan dan rekonstruksi setelah dua tahun perang.
Laporan bertajuk Gaza Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA) yang dirilis pada April 2026 ini menyajikan evaluasi menyeluruh atas kehancuran yang terjadi antara Oktober 2023 hingga Oktober 2025, sekaligus mengukur kebutuhan sumber daya untuk pemulihan.
Menurut laporan tersebut, dana sebesar 26,3 miliar dolar (sekitar 420,8 triliun rupiah) dibutuhkan hanya dalam 18 bulan pertama untuk memulihkan layanan dasar, membangun kembali infrastruktur vital, serta menstabilkan perekonomian.
Kehancuran di Seluruh Sektor
Penilaian itu menemukan bahwa kerusakan fisik terhadap infrastruktur mencapai sekitar 35,2 miliar dolar (sekitar 563,2 triliun rupiah), sementara kerugian ekonomi dan sosial mencapai 22,7 miliar dolar (sekitar363,2 triliun triliun).
Sektor perumahan menjadi yang paling terdampak, dengan kerugian sebesar 18 miliar dolar (sekitar 288 triliun rupiah)—lebih dari setengah total kerusakan fisik.
Sektor lain yang juga mengalami dampak besar meliputi:
Laporan tersebut menyebut skala kehancuran ini sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya”, melampaui tingkat kerusakan pada perang-perang sebelumnya di Gaza.
Krisis Perumahan dan Pengungsian Massal
Krisis perumahan menjadi salah satu dampak paling parah.
Lebih dari 371.000 unit rumah dilaporkan rusak atau hancur, membuat lebih dari 60 persen penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal. Sekitar 1,9 juta warga Palestina—hampir seluruh populasi—mengungsi, sering kali lebih dari sekali.
Kerugian sektor perumahan saja diperkirakan melampaui 19 miliar dolar (sekitar 304 triliun rupiah) jika menggabungkan kerusakan fisik dan dampak ekonomi.
Layanan Kesehatan, Pendidikan, dan Publik di Ambang Kolaps
RDNA mencatat degradasi luas pada layanan dasar. Kurang dari separuh rumah sakit di Gaza masih berfungsi sebagian, sementara kurang dari 38 persen pusat layanan kesehatan primer yang tetap beroperasi.
Sektor pendidikan juga terdampak berat. Hampir seluruh sekolah rusak atau hancur, dan sekitar 728.000 anak tidak memperoleh pendidikan formal selama lebih dari dua tahun.
Banyak bangunan sekolah kini digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga pengungsi. Sistem air, sanitasi, dan pengelolaan limbah juga mengalami kerusakan parah, menciptakan kondisi yang meningkatkan risiko wabah penyakit.
Ekonomi Hancur dan Hilangnya Lapangan Kerja
Laporan tersebut menyoroti hampir runtuhnya perekonomian Gaza secara total. Aktivitas ekonomi menyusut sekitar 83–84 persen pada 2024, dengan pemulihan terbatas pada 2025 akibat kondisi gencatan senjata sementara.
Hampir tiga perempat tenaga kerja Gaza kehilangan pekerjaan, dan lebih dari 80 persen pekerja tidak dapat bekerja akibat kehancuran, pengungsian, serta runtuhnya infrastruktur.
Rasio pekerjaan terhadap jumlah penduduk anjlok menjadi hanya 9,3 persen—salah satu yang terendah di dunia.
Pembangunan Manusia Mundur Puluhan Tahun
Laporan tersebut memperkirakan pembangunan manusia di Gaza mundur sekitar 77 tahun. Indeks Pembangunan Manusia diproyeksikan turun menjadi 0,339—tingkat terendah yang pernah tercatat di wilayah tersebut.
Penduduk menghadapi krisis multidimensi secara bersamaan, mulai dari perumahan, ketahanan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga mata pencaharian.
Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Lebih dari 40 persen perempuan hamil dan menyusui mengalami malnutrisi berat, sementara hampir seluruh anak membutuhkan dukungan kesehatan mental.
Kebutuhan Rekonstruksi Besar di Sektor Kunci
Laporan ini merinci kebutuhan rekonstruksi lintas sektor, dengan perumahan, pertanian, kesehatan, dan perdagangan sebagai prioritas utama.
Baca Juga:
Keempat sektor ini mencakup hampir dua pertiga dari total kebutuhan rekonstruksi.
Prioritas mendesak mencakup pemulihan layanan dasar, pembersihan puing, penanganan krisis pangan, serta pembangunan kembali infrastruktur penting.
Pengangkutan lebih dari 68 juta ton puing saja diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari 1,7 miliar (sekitar 27,2 triliun rupiah).
Syarat Rekonstruksi
Laporan tersebut menegaskan bahwa rekonstruksi tidak dapat berjalan tanpa sejumlah prasyarat utama, antara lain:
Laporan juga menekankan bahwa upaya pemulihan harus dipimpin oleh rakyat Palestina dan selaras dengan proses politik yang lebih luas.
Temuan Utama Laporan RDNA
Catatan: Perbedaan kecil antara angka dalam siaran pers dan laporan lengkap mencerminkan pembulatan dan metode penyajian yang berbeda, bukan perbedaan substansial.
(T.FJ/S: Palestine Chronicle)