Gaza Membeku di Tengah Blokade: 17 Meninggal Dunia, Dunia Desak Israel Buka Akses Bantuan

Gaza, NPC – Jumlah penduduk Palestina yang meninggal dunia akibat cuaca musim dingin ekstrem di Jalur Gaza, sebagaimana dilansir Middle East Eye, pada Kamis (18/12/2025), meningkat menjadi sedikitnya 17 orang. Kondisi tersebut memicu kembali desakan internasional agar Israel membuka akses masuk bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Korban terbaru adalah Saeed Asaeed Abdeen, bayi berusia satu bulan yang meninggal akibat hipotermia parah. Ia menjadi satu dari empat anak yang dilaporkan meninggal dunia akibat penurunan suhu drastis sejak Badai Byron melanda Gaza pekan lalu, membawa hujan deras, banjir, dan kerusakan luas di wilayah tersebut.

Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Muhammad Abu Salmiya, memperingatkan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah yang terkepung itu. Ia menegaskan bahwa anak-anak berada dalam risiko besar akibat bombardir Israel yang berkelanjutan, suhu dingin ekstrem, serta merebaknya berbagai penyakit.

Salmiya juga menyebutkan adanya kekurangan obat-obatan yang sangat serius, dengan lebih dari separuh obat-obatan vital tidak tersedia. Kondisi tersebut, menurut dia, melipatgandakan risiko wabah penyakit di tengah situasi lingkungan dan kemanusiaan Gaza yang sudah sangat memprihatinkan.

Pemerintah Kota Gaza turut membunyikan peringatan terkait krisis sampah yang kian memburuk dan mengancam kesehatan warga. Layanan pengangkutan sampah menurun drastis akibat minimnya pasokan bahan bakar yang masuk ke wilayah yang diblokade.

Selama lebih dari dua tahun, Israel membatasi masuknya barang ke Gaza, dengan hanya sejumlah kecil pasokan yang diizinkan masuk melalui bantuan internasional, itu pun setelah tekanan diplomatik yang besar. Israel juga berulang kali menargetkan infrastruktur dan bangunan di Jalur Gaza, sehingga hampir 80 persen bangunan dilaporkan hancur.

Akibatnya, lebih dari dua juta penduduk Gaza kehilangan akses memadai terhadap air bersih, pangan, tempat tinggal, layanan kesehatan, pakaian, dan bahan bakar.

Desakan Penghentian Blokade Bantuan Menguat

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Rabu (17/12), sejumlah badan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama lebih dari 200 organisasi nonpemerintah (LSM) menyerukan komunitas internasional untuk mengambil “langkah-langkah segera dan konkret” guna menekan Israel agar menghentikan penghalangan bantuan kemanusiaan.

Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa proses pendaftaran ulang yang masih berlangsung serta berbagai hambatan administratif telah menyebabkan pasokan bantuan penting senilai jutaan dolar—termasuk pangan, perlengkapan medis, kebutuhan kebersihan, dan bantuan tempat tinggal—tertahan di luar Gaza dan tidak dapat menjangkau warga yang membutuhkan.

Blokade bantuan tersebut diperingatkan akan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap masa depan Gaza, terutama pada musim dingin. Badan-badan PBB dan LSM menegaskan bahwa akses kemanusiaan bukanlah pilihan, bukan bersyarat, dan bukan isu politik, melainkan kewajiban hukum berdasarkan hukum humaniter internasional, khususnya di Gaza.

Laporan situasi terbaru Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyebutkan bahwa otoritas Israel masih menghalangi badan tersebut untuk membawa langsung personel dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan lebih dari selusin bangunan yang sebelumnya sudah rapuh runtuh sejak hujan lebat mulai mengguyur wilayah itu pekan lalu. Tim penyelamat telah menangani kerusakan pada lebih dari 90 bangunan dan menerima lebih dari 5.000 panggilan darurat dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Sekitar 90 persen tempat penampungan di seluruh Jalur Gaza dilaporkan terendam banjir, bahkan sebagian tersapu arus atau angin kencang, sehingga ribuan keluarga kehilangan barang-barang mereka. Sejumlah rekaman video yang beredar di media daring memperlihatkan tenda-tenda pengungsi beterbangan diterpa angin, sementara warga berupaya mempertahankannya. Rekaman lain menunjukkan tenda, tempat penampungan, rumah sakit, kendaraan, dan jalan-jalan yang hampir sepenuhnya terendam air.

Salah satu video memperlihatkan runtuhnya dinding beton yang menimpa tenda pengungsi di kawasan Tel al-Hawa, Kota Gaza, kejadian yang kembali terjadi dan telah menyebabkan sejumlah korban jiwa sejak pekan lalu.

Genangan air hujan memperparah penderitaan penduduk Palestina yang mengungsi di tenda atau bangunan rusak, terutama karena minimnya sistem drainase serta rusaknya jaringan pembuangan limbah, yang menimbulkan risiko serius bagi lingkungan dan kesehatan.

Sementara itu, serangan artileri dan penghancuran oleh Israel dilaporkan masih terus berlangsung meskipun gencatan senjata telah diumumkan. UNRWA mencatat sejumlah fasilitasnya terkena serangan, mengakibatkan korban tewas dan luka-luka di tengah operasi militer Israel yang berlanjut.

Genosida yang dilancarkan Israel yang telah berlangsung selama lebih dua tahun ini dilaporkan telah membunuh lebih dari 70.669 penduduk Palestina, di mana lebih dari 20.000 di antaranya merupakan anak-anak. Ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga meninggal dunia.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like