Gaza di Ambang Kelaparan Lagi, Israel Sengaja Blokade Bantuan Hingga 90 Persen

Gaza, NPC – Jalur Gaza menghadapi ancaman kelaparan setelah Israel memangkas pengiriman bantuan hingga hanya 10 persen dari kebutuhan yang seharusnya. Pejabat Palestina pada Senin (16/03/2026), menyebut bahwa pembatasan ini terjadi di tengah perang yang masih berlangsung melawan Iran dan di tengah gencatan senjata.

Israel dinilai “mencekik” Gaza dengan hanya mengizinkan sebagian kecil bantuan kemanusiaan dan pasokan komersial masuk ke wilayah tersebut. Menurut Ismail al-Thawabta, Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, militer Israel hanya mengizinkan 640 truk bantuan dari total 6.000 truk yang seharusnya masuk sesuai kesepakatan gencatan senjata.

Jumlah tersebut setara dengan hanya 10 persen dari komitmen sebelumnya, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun dan memunculkan kembali ancaman kelaparan.

Pada Agustus 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan Jalur Gaza mengalami kelaparan akibat blokade Israel terhadap wilayah itu.

“Israel memanfaatkan perhatian dunia yang teralihkan ke perang dengan Iran untuk memperketat pembatasan di Gaza,” ujar Abu Mohsen (33 tahun), penduduk Palestina yang kini tinggal di tenda di Gaza utara. “Kami ingin hidup seperti manusia.”

Pembatasan tersebut memicu kelangkaan parah, terutama bahan bakar, yang berdampak pada operasional rumah sakit, sistem air dan sanitasi, pengangkutan sampah, serta layanan penting lain yang bergantung pada peralatan dan generator berbahan bakar.

Kelangkaan juga melanda sayuran, bahan makanan, dan produk beku, yang menyebabkan lonjakan harga tajam serta memperburuk kemiskinan yang sudah meluas.

Kantor media pemerintah Palestina di Gaza memperingatkan bahwa pembatasan yang terus berlanjut mengancam ketahanan pangan lebih dari 1,5 juta penduduk Palestina, seiring kondisi kemanusiaan yang terus memburuk akibat blokade berkepanjangan.

Dalam beberapa hari setelah Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, harga berbagai kebutuhan di Gaza meningkat dua hingga tiga kali lipat.

“Apa yang kami lihat adalah kenaikan harga terjadi seketika. Barang kebutuhan paling dasar seperti makanan dan sabun mengalami kenaikan harga hingga 200 sampai 300 persen,” kata Jonathan Crickx, juru bicara badan anak-anak PBB, UNICEF, kepada AFP, seraya menambahkan bahwa hal ini menunjukkan kerentanan ekstrem Gaza serta ketergantungan yang tinggi pada bantuan dari luar.

Israel juga terus melancarkan serangan ke Gaza meskipun terdapat apa yang disebut sebagai gencatan senjata. Pada Ahad, serangan Israel membunuh sedikitnya 12 penduduk Palestina, termasuk dua anak laki-laki, seorang ibu hamil, dan delapan polisi.

Salah satu serangan di kamp pengungsi Nuseirat, wilayah tengah Jalur Gaza, membunuh empat orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, ayahnya, serta ibunya yang tengah mengandung anak kembar.

“Kami sedang tidur dan terbangun karena ledakan rudal. Serangannya sangat kuat. Tidak ada peringatan sebelumnya,” ujar Mahmoud al-Muhtaseb, seorang tetangga.

Masih pada hari yang sama, tentara Israel membunuh empat anggota dalam satu keluarga di Tepi Barat utara yang diduduki, termasuk dua anak, saat mereka sedang bepergian dengan mobil.

Layanan penyelamatan Bulan Sabit Merah Palestina (PRC) menyatakan bahwa Ali dan Waed Odeh, bersama dua dari empat anak mereka, ditembak di kepala. Dua anak lainnya selamat, akan tetapi mengalami luka akibat serpihan di mata dan kepala. Pasukan penjajah Israel juga dilaporkan menghambat mobil ambulans yang hendak memberikan pertolongan.

Keluarga Palestina tersebut sebelumnya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di Nablus untuk membeli pakaian menjelang Idulfitri, hari raya yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

You might also like