Krisis di Gaza kini bukan lagi sekadar masalah kemanusiaan, melainkan telah bermutasi menjadi bencana ekologi yang kompleks dan berlapis. Di tengah kehancuran yang meluas, laporan terbaru menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya harus menanggung beban puing dan sampah akibat perang, tetapi juga dugaan pembuangan limbah militer oleh Israel ke dalam wilayah Gaza.
Situasi ini menciptakan lapisan krisis baru yang memperparah polusi tanah, air, dan udara, sekaligus mempercepat keruntuhan sistem kesehatan masyarakat. Gaza kini menghadapi ancaman berlapis, antara dampak perang yang menghancurkan dan praktik yang berpotensi menambah racun di tengah kehidupan warganya.
Skala krisis di Gaza kini telah melampaui batas kemanusiaan dan bertransformasi menjadi bencana ekologis berlapis yang mengancam kesehatan publik secara masif. Lapisan pertama dari bencana ini adalah warisan kehancuran fisik: wilayah kantong yang terkepung ini terkotori oleh 61 juta ton puing bangunan sisa perang dan lebih dari 250.000 ton sampah di seluruh kota. Timbunan ini bukan sekadar reruntuhan biasa; ini adalah sumber kontaminasi aktif yang terus-menerus melepaskan material toksik seperti asbes dan logam berat, meracuni air tanah yang sudah sangat langka dan melumpuhkan infrastruktur dasar.[1]
Situasi yang sudah berada di luar batas toleransi ini diperparah oleh lapisan kedua yang terungkap dalam laporan baru. Laporan tersebut mengungkap dugaan serius bahwa militer Israel secara sistematis dan sengaja turut membuang limbah mereka sendiri ke wilayah Gaza. Jika terkonfirmasi, tindakan ini bukan hanya menambah volume kontaminasi, tetapi berfungsi sebagai faktor pengganda krisis (crisis multiplier), yang secara aktif mempercepat penyebaran penyakit dan secara efektif menjebak warga sipil dalam zona bencana yang nyaris tidak layak huni.

Sebuah laporan investigasi dari harian Israel Haaretz mengungkap rekaman dan kesaksian yang menunjukkan truk-truk Israel memasuki Gaza, terutama di dekat penyeberangan Kissufim. Truk-truk tersebut dilaporkan membawa puing-puing konstruksi dan sampah militer, lalu membongkar muatannya secara acak di jalan-jalan Gaza.[2]
Sejumlah perwira militer Israel mengonfirmasi kepada media tersebut bahwa komandan lapangan memberi wewenang kepada perusahaan swasta Israel untuk “membuang sampah di mana pun mereka mau” di dalam Gaza.[3]
Ironisnya, alasan yang dilaporkan di balik keputusan ini adalah sinisme terhadap upaya rekonstruksi. Seorang komandan dilaporkan berkata bahwa karena “negara-negara asing” diharapkan akan memasuki Gaza untuk membangun kembali, mereka jugalah yang harus berurusan dengan limbah yang dibuang oleh tentara Israel.[4]
Kebijakan ini dilaporkan menimbulkan frustrasi di kalangan tentara sendiri. Seorang prajurit mempertanyakan logika membuang ribuan ton sampah “hanya beberapa ratus meter dari rumah kita,” sementara yang lain memperingatkan risiko keamanan, mencatat bahwa material seperti pipa irigasi, balok beton, dan besi dari puing konstruksi dapat digunakan kembali oleh Hamas.[5]
Tindakan pembuangan yang diduga dilakukan ini secara masif ini memberikan beban penghabisan pada sistem sanitasi Kota Gaza, yang sejatinya telah lama berada di titik nadir. Otoritas kota kini menyatakan ketidakmampuan. Mereka tidak lagi sanggup mengelola gabungan destruktif dari puing-puing perang yang masif, ditambah lagi dengan dugaan masuknya sampah militer, sementara di saat yang sama volume limbah domestik terus meningkat tanpa henti dan tanpa solusi.
Juru bicara kota Asim al-Nabih menyoroti beberapa faktor kelumpuhan:
Kombinasi dari sampah domestik, limbah cair, dan puing bangunan menciptakan bom waktu kesehatan. Program Lingkungan PBB (UNEP) menggarisbawahi skala bencana ini, mencatat bahwa dari 61 juta ton puing perang, sekitar 15 persennya berpotensi sangat berbahaya karena terkontaminasi asbes, logam berat, atau limbah industri.[7]
Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, menegaskan bahwa pemulihan sistem air dan pembersihan puing sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Ia memperingatkan bahwa jika situasi ini terus berlanjut, krisis ini akan “meninggalkan warisan kerusakan lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan penduduk Gaza dari generasi ke generasi.”[8]

Krisis di Gaza jelas telah bermutasi menjadi bencana ekologis yang terstruktur. Kombinasi mematikan dari 61 juta puing beracun dan penumpukan lebih dari 250.000 ton sampah di seluruh kota, kini diperparah oleh dugaan pembuangan limbah oleh Israel yang secara sistematis meracuni tanah, air, dan masa depan lintas generasi. Di hadapan ancaman kehidupan yang nyata ini, dunia tidak bisa lagi diam. Sudah waktunya mengubah simpati menjadi aksi nyata: menuntut akuntabilitas internasional, menyebarkan fakta krisis, dan mendukung penuh organisasi bantuan di garis depan demi memulihkan hak dasar rakyat Palestina atas lingkungan yang sehat serta kehidupan yang
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
[1] Nour Abuaisha and Mohammad Sio, “Quarter million tons of waste threaten residents of Gaza City, authorities warn”, Anadolu Agency, October 28, 20205. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/quarter-million-tons-of-waste-threaten-residents-of-gaza-city-authorities-warn/3728174
[2] Mera Aladam, “Israel discards waste and rubble in Gaza despite risk of environmental crisis”, Middle East Eye, October 27, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/israel-discards-waste-and-rubble-gaza-despite-environmental-crisis
[3] The New Arab, “Disgraceful’: Israel uses Gaza as dumping ground for construction waste”, The New Arab, October 26, 2025.
https://www.newarab.com/news/israel-uses-gaza-dumping-ground-construction-waste
[4] Mera Aladam, “Israel discards waste and rubble in Gaza despite risk of environmental crisis”, Middle East Eye, October 27, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/israel-discards-waste-and-rubble-gaza-despite-environmental-crisis
[5] The New Arab, “Disgraceful’: Israel uses Gaza as dumping ground for construction waste”, The New Arab, October 26, 2025.
https://www.newarab.com/news/israel-uses-gaza-dumping-ground-construction-waste
[6] Chinmay Pathak dan Jitesh Chowdhury, “Gaza’s garbage crisis”, REUTERS, February 24, 2025. https://www.reuters.com/graphics/GAZA-WASTE/egpblkaagpq/
[7] Mera Aladam, “Israel discards waste and rubble in Gaza despite risk of environmental crisis”, Middle East Eye, October 27, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/israel-discards-waste-and-rubble-gaza-despite-environmental-crisis
[8] Mera Aladam, “Israel discards waste and rubble in Gaza despite risk of environmental crisis”, Middle East Eye, October 27, 2025. https://www.middleeasteye.net/news/israel-discards-waste-and-rubble-gaza-despite-environmental-crisis