Gaza Catat Kasus Polio Pertama di Tengah Bombardir Israel, UNICEF Seru Sencatan Senjata Kemanusiaan

Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Jumat (16/08/2024), melaporkan mencatat kasus pertama virus polio. Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF)  menyerukan gencatan senjata kemanusiaan untuk memvaksinasi anak-anak terhadap penyakit berbahaya tersebut.

Direktur rumah sakit lapangan di Kementerian Kesehatan Palestina, Marwan Al-Hams, mengumumkan kasus positif pertama virus “polio” telah tercatat di Jalur Gaza.

Marwan Al-Hams mengatakan bahwa UNICEF memberi tahu tentang rekaman anak pertama yang terinfeksi “polio” di Jalur Gaza dan memperingatkan bahwa akan ada kemungkinan 200 kasus yang belum terdeteksi karena belum menunjukkan gejala.

Marwan Al-Hams menekankan bahwa dengan adanya infeksi pertama virus ini, sektor ini akan mulai mencatat lebih banyak kasus.

UNICEF menyerukan gencatan senjata selama 7 hari di Jalur Gaza agar dapat melakukan vaksinasi sekitar 640.000 anak terhadap polio. UNICEF meminta pihak-pihak yang berkonflik untuk menerapkan jeda kemanusiaan di Jalur Gaza selama jangka waktu 7 hari, untuk memungkinkan dilakukannya dua putaran vaksinasi.

UNICEF menekankan bahwa tanpa adanya gencatan senjata kemanusiaan, vaksinasi tersebut tidak mungkin dilaksanakan.

UNICEF menjelaskan bahwa gencatan senjata ini akan memungkinkan anak-anak dan keluarga mencapai fasilitas kesehatan dengan aman dan petugas penjangkauan masyarakat juga akan menjangkau anak-anak yang tidak dapat menjangkau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi.

Pada Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa ada kemungkinan besar penyebaran virus polio di seluruh dan sekitar Jalur Gaza akibat situasi kesehatan yang buruk serta memburuknya sistem pembuangan limbah di Jalur Palestina yang dilanda perang.

Kepala tim darurat kesehatan WHO di Gaza dan Tepi Barat, Ayadil Saparbekov, mengatakan bahwa virus polio terdeteksi dari sampel air limbah di Gaza. Polio adalah virus yang sangat menular yang dapat  merusak sistem saraf tubuh penderitanya sehingga dapat berisiko terjadi kelumpuhan, sulit bernapas, atau bahkan kematian. Virus ini umumnya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun.

Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (15/08), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 40.005 orang dan 92.401  lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 632 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 140 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.

Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.

(T.FJ/S: Palinfo)

 

You might also like