Ditulis oleh: Linah Alsaafin*
Gaza, NPC – Alih-alih mereda, pembantaian massal, pengusiran paksa, dan kelaparan yang dirancang terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza justru semakin memburuk sejak Israel mulai menyerang Iran dua minggu lalu.
Namun, alih-alih menjadi fokus utama, bahkan ketika untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kota-kota Israel diserang, kehancuran Gaza yang disengaja kini hanya dianggap sebagai angka kematian harian. Lebih parah lagi, sering kali tidak disebutkan sama sekali.
Pada Selasa malam (24/05), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Iran dan Israel telah menyepakati gencatan senjata, setelah Iran meluncurkan serangan terkoordinasi terhadap pangkalan udara AS yang telah dikosongkan, Al Udaid, di Qatar. Namun, sebelum tengah hari di hari yang sama, 71 penduduk Palestina dibunuh Israel di Gaza. Sehari sebelumnya, Israel membunuh 50 penduduk Palestina. Dua hari sebelumnya, Israel membunuh 200 orang-orang Palestina.
Genosida yang disiarkan langsung di televisi dunia ini terus berlangsung di bawah bayang-bayang dehumanisasi brutal, dan kebenaran yang diterima secara luas: bahwa penduduk Palestina diharapkan mati, dan mereka seharusnya mati dalam diam, meskipun dibantai dengan cara yang sangat tidak manusiawi oleh Israel yang didukung penuh oleh Barat.
Akhir pekan lalu, jurnalis Palestina Amin Hamdan, bersama istri dan dua putrinya, meninggal dunia akibat serangan Israel. Petugas pertahanan sipil Mohammad Ghorab, yang ayahnya juga gugur dalam aksi “Great March of Return” tahun 2018, meninggal dunia bersama putranya dalam serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat. Tiga anak laki-laki yang sedang mencari kayu bakar di Shujaiya juga dibunuh Israel.
Ahmad al-Farra, kepala departemen anak dan kebidanan di Rumah Sakit Nasser, memperingatkan bahwa bayi-bayi di ruang perawatan intensif neonatal berisiko meninggal dalam 24 hingga 48 jam karena kekurangan susu formula khusus bayi premature, akibat langsung dari blokade Israel.
Seorang anggota Knesset Israel bahkan dengan pongah berkata: “Kalau 100 penduduk Palestina mati dalam satu malam, tidak ada yang peduli.”
Ketika saya membayangkan tentara Israel yang kejam memancing penduduk sipil Gaza yang kelaparan dengan janji makanan hanya untuk dibantai dengan peluru penembak jitu dan artileri, tanpa membedakan pria, wanita, maupun anak-anak, saya merasa bahasa keji pun tidak cukup untuk menggambarkan kebiadaban ini.
Tidak Ada Makanan
Pusat bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung Amerika Serikat dan Israel, pada dasarnya adalah jebakan maut yang telah membunuh lebih dari 450 penduduk Palestina sejak distribusi “bantuan” dimulai sebulan lalu.
Sebelum 7 Oktober 2023, ketika blokade Israel-Mesir masih berlaku, sekitar 500 truk bantuan masuk ke Gaza setiap hari. Namun sejak Israel memberlakukan blokade total pada 2 Maret, tanpa satu pun bantuan kemanusiaan masuk, GHF menjadi satu-satunya “saluran resmi” untuk bantuan, meski berujung pada kematian.
Genosida Israel telah membunuh ribuan anak, separuh dari populasi Gaza adalah anak-anak. Mereka dirampas masa depannya: tanpa pendidikan, tanpa kehidupan yang layak, tanpa rumah, tanpa keluarga yang utuh. Kini, Gaza mencatat angka anak-anak amputasi terbanyak dalam sejarah modern.
Menurut PBB, jumlah anak di bawah usia lima tahun yang mengalami malnutrisi akut di Gaza melonjak hampir tiga kali lipat pada akhir Mei, dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Kelaparan massal ini mendorong warga yang tubuhnya semakin lemah datang ke pusat bantuan GHF, berharap mendapatkan sekantong tepung. Jika tidak, mereka mungkin pulang dengan tangan kosong atau tidak pulang sama sekali atau pulang tanpa nyawa.
Mohammad al-Darbi, bocah 12 tahun yang berjalan kaki selama delapan jam demi mendapatkan dua kilogram tepung, justru dirampok dalam perjalanan pulang. Ia memohon belas kasih dunia yang bungkam, lalu memasukkan pasir ke mulutnya sambil menangis, “Tidak ada makanan, tidak ada sama sekali…”
Beberapa hari sebelumnya, jenazah Mohammad Yousef al-Zaanin (20 tahun) diusung di atas palet kayu, tubuhnya berlumuran tepung. Ia berasal dari Beit Hanoun yang hancur total, dan keluar rumah untuk mencari tepung gandum bagi ibu dan tujuh adik perempuannya yang kelaparan. Namun kisahnya, hidup dan matinya, tidak banyak yang tahu.
Keesokan harinya, serangan Israel di daerah Zeitoun, Gaza City, melukai Inas Farhat dengan cukup parah dan membunuh ketujuh anaknya. Pada Mei lalu, seorang dokter anak kehilangan suami dan sembilan anaknya akibat serangan udara. Sebagian tubuh korban hangus, tidak lagi bisa dikenali.
Pembunuhan satu keluarga penuh telah menjadi hal yang “biasa” dan diulang terus-menerus.
“Penderitaan di sini sungguh luar biasa,” tulis dokter ortopedi Fadel Naim dari Gaza. “Keluarga bukan hanya hancur oleh bom, tapi juga oleh kelaparan, ketakutan, dan keputusasaan. Tapi dunia tetap bungkam.”
Musuh Buatan dan Propaganda Kekerasan
Di tengah krisis ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mendorong perang regional, demi menyelamatkan karier politik dan citra kekuatan militernya yang runtuh pasca serangan Hamas 7 Oktober 2023.
Dengan dukungan penuh dari negara-negara Arab boneka seperti Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab, serta negara-negara Barat, Israel menggunakan Iran sebagai musuh palsu. Tuduhan bahwa Iran akan segera memiliki senjata nuklir adalah narasi lama yang menyerupai alasan palsu Amerika menyerang Irak.
Serangan rudal dan drone Iran ke Tel Aviv dan kota-kota lain memang memicu rasa puas diam-diam bagi sebagian orang, setelah berbulan-bulan melihat warga Israel mendukung genosida dua juta warga Gaza.
Propaganda korban yang dilakukan Israel, termasuk kemarahan pura-pura saat rumah sakitnya terkena ledakan, sulit dipercaya. Sejak 12 Juni, Israel telah membunuh lebih dari 610 warga Iran dan melukai 4.746 lainnya, termasuk penyair, atlet, ilmuwan, dan anak-anak.
Di Gaza, Israel terus menjatuhkan bom buatan AS ke zona “aman” yang penuh tenda pengungsi. Serangan ini memusnahkan keluarga demi keluarga. Di antaranya, Mahmoud Rasras dan kedua anaknya, Nidal dan Ward, serta Mahmoud Shurrab (seorang komedian dan relawan kemanusiaan) yang meninggal dunia di dalam tendanya setelah serangan Israel.
Kini, bahkan wacana gencatan senjata pun tak terdengar lagi. Tidak ada negosiasi. Tidak ada delegasi yang bergerak dari Kairo ke Doha. Tidak ada yang bersuara untuk Gaza. Otoritas Palestina di Tepi Barat diam. Bahkan penduduk Palestina sendiri seperti menganggap perlawanan damai ala Intifada pertama hanyalah sejarah.
Seperti kata penulis Gaza, Meqdad Jameel:
“Orang-orang telah menjadi hantu. Semua hidup dalam kecemasan dan horor, sadar bahwa genosida ini akan terus berlanjut, tanpa tahu bagaimana menghentikannya.”
Penduduk Palestina di Gaza yang tersisa, yang kelaparan dan hidup dalam trauma mendalam, terus direduksi menjadi statistik, bukannya dilihat sebagai manusia seutuhnya.
Tetap buka mata terhadap Gaza. Kita sudah gagal melindungi mereka. Sekarang, hal paling sedikit yang bisa kita lakukan adalah terus bicara, terus menyuarakan kebenaran, dan terus menyebarkan kisah mereka. Hentikan normalisasi pembunuhan penduduk Palestina.
___
*Linah Alsaafin merupakan jurnalis Palestina yang telah menulis untuk Al Jazeera, The Times Literary Supplement, Al Monitor, The News Internationalist, Open Democracy dan Middle East Eye.
(T.FJ/S: MEE)