Jalur Gaza, NPC – Selama hampir 600 hari melakukan genosida, Israel tidak hanya menggempur Gaza dengan bom, tapi juga dengan menciptakan kelaparan massal. Kini, rezim penjajah itu menciptakan fase baru dalam proyek genosida; menyulap kelaparan massal menjadi sandiwara kemanusiaan yang merendahkan martabat manusia itu sendiri.
Bukan hanya menutup semua akses bantuan selama 88 hari penuh, tapi juga memaksa warga Gaza yang malang berbaris seperti tawanan perang di lorong-lorong sempit yang dijaga dengan senapan, hanya untuk menerima satu paket bantuan kecil yang bahkan tidak layak disebut makanan.
Dari Roti Jadi Rantai: Bantuan Sebagai Kendali Kolonial
Lembaga pemantau Hak Asasi Manusia, Euro-Med Human Rights Monitor, dalam laporan terbaru yang dirilis pada 27 Mei 2025, menyatakan bahwa Israel secara sengaja merancang dan melaksanakan strategi kelaparan massal sistematis terhadap dua juta lebih penduduk Gaza.
Bukan karena bantuan tidak tersedia, tetapi karena sengaja diubah menjadi alat untuk mempermalukan, mengendalikan, dan menundukkan warga sipil.
Distribusi bantuan makanan yang akhirnya dibuka bukanlah upaya penyelamatan, melainkan bagian dari pertunjukan dominasi.
Distribusi bantuan dikendalikan oleh perusahaan Amerika yang sengaja didirikan Israel, di bawah pengawasan ketat pasukan keamanan swasta dari AS dan tentara Israel.
Warga Gaza yang kelaparan dipaksa berjalan kaki puluhan kilometer menuju “zona distribusi” yang dijaga ketat, hanya untuk kemudian digiring dalam kelompok kecil melewati lorong sempit berpagar kawat, seperti hewan ternak menanti giliran jagal.
Tak ada sistem antre yang manusiawi. Tak ada tenda, tak ada air, tak ada naungan. Yang ada hanya rasa lapar, kawat berduri, dan mata tentara yang mengawasi.
Bantuan diberikan dalam jumlah terbatas, tanpa kriteria adil atau prosedur transparan. Warga yang sudah lebih dari dua bulan hidup tanpa listrik, air, atau makanan, kini harus memilih; bertaruh nyawa untuk sekotak makanan, atau mati kelaparan.
Gaza Relief Organization: Alat Israel untuk Mengontrol Isi Perut Rakyat Gaza
Seluruh sistem distribusi ini bukan hanya tidak manusiawi, tapi memang dirancang untuk menghina para pengungsi. Israel sengaja mengabaikan lembaga-lembaga bantuan internasional seperti PBB atau UNRWA yang punya pengalaman dan kapasitas menyalurkan bantuan secara bermartabat. Sebagai gantinya, mereka menunjuk lembaga fiktif bernama “Gaza Relief Organization” yang dibentuk pada Februari 2025 oleh Israel dan AS, dijalankan oleh perusahaan keamanan swasta yang lebih ahli dalam penyiksaan daripada distribusi makanan.
Menurut Euro-Med, perusahaan yang ditunjuk untuk mengelola bantuan tersebut bahkan tidak mampu menyediakan fasilitas paling dasar. Titik distribusi itu tidak lebih dari jebakan raksasa yang mencoreng kemanusiaan.
Ribuan orang berdesakan di lorong-lorong sempit. Tidak ada mekanisme penyaluran yang adil. Tidak ada keadilan, tidak ada belas kasih. Hanya kelaparan dan kekacauan.
Saat kekacauan memuncak, helikopter militer Israel turun tangan. Tembakan dilepaskan di sekitar kerumunan, tentu saja atas nama pengamanan. Beberapa orang terluka karena peluru, beberapa lainnya karena terinjak.
PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan sudah menolak mekanisme ini sejak awal. Mereka menyebutnya sebagai model yang merusak prinsip dasar bantuan kemanusiaan, dan menjadikan bantuan sebagai alat kontrol politik dan militer. Namun Israel tetap bersikukuh. Karena bagi mereka, distribusi bantuan bukan soal menyelamatkan nyawa, tapi soal siapa yang memegang kendali.
Inilah bentuk baru penjajahan, bukan hanya merebut tanah, tapi juga mengendalikan isi perut. Paket bantuan hanya diberikan satu kali dalam seminggu untuk setiap keluarga, dengan syarat wajib melewati prosedur keamanan yang ketat. Setiap kepala keluarga harus menyerahkan identitas, data biometrik, dan tentu saja; harga dirinya.
Satu kotak Makanan untuk Satu Nyawa yang Mereka Kendalikan
Isi paket bantuannya pun sangat minim dan tak layak. Tak ada susu untuk bayi. Tak ada makanan khusus untuk anak-anak. Tidak ada gizi seimbang. Hanya sekadar cukup agar warga tidak mati esok hari, tapi tetap lemas, tetap tergantung, tetap bisa dikendalikan.
Bantuan ini bukan alat penyelamatan, tapi alat propaganda. Cukup untuk memberi kesan ‘peduli’ di media internasional, tapi tidak cukup untuk menyelamatkan satupun jiwa secara bermartabat.
Lebih dari itu, sistem ini sengaja dirancang untuk memaksa warga dari Gaza utara dan kota Gaza, untuk mengungsi ke wilayah tengah dan selatan. Di situlah bantuan dikonsentrasikan. Siapa yang ingin makan, harus pergi. Siapa yang ingin tetap tinggal, akan dibiarkan mati perlahan.
Dan saat mereka tiba di titik distribusi, mereka tidak hanya diperiksa, tapi juga dipetakan. Data pribadi mereka dicatat, lalu dipakai untuk pengawasan ketat. Dalam banyak kasus, pemeriksaan ini menjadi pintu masuk menuju penahanan sewenang-wenang atau penghilangan paksa. Karena tentara Israel bukan aktivis kemanusiaan, mereka adalah pemburu.
Prihatin Bukan Jawaban, Hukuman Adalah Kewajiban
Euro-Med menyebut dengan tegas: apa yang dilakukan Israel hari ini adalah strategi untuk “mengontrol krisis kelaparan, bukan mengakhirinya”.
Ini adalah sistem untuk mempertahankan masyarakat dalam kondisi lapar permanen, agar lebih mudah dikontrol, ditekan, dan dipaksa pergi dari tanahnya.
Dan karena semua ini dilakukan oleh pihak yang sama yang bertanggung jawab atas genosida, maka Israel tidak mungkin dipandang sebagai bagian dari solusi kemanusiaan. Mereka bukan penyelamat. Mereka adalah pelaku.
Euro-Med menyerukan kepada semua negara agar menghentikan semua bentuk kerja sama militer, ekonomi, politik, dan intelijen dengan Israel. Sanksi ekonomi, embargo senjata, pembekuan aset pejabat militer dan politik Israel, serta larangan perjalanan harus diberlakukan segera.
Perusahaan militer Israel harus ditendang keluar dari pasar global. Semua keuntungan yang memungkinkan mereka melanjutkan perang ini harus dihentikan. Tidak cukup lagi untuk “prihatin”. Dunia harus menghukum. Gaza tidak membutuhkan tepung dari langit, tapi perlindungan dari kekejaman yang kini terang-terangan disebut “kemanusiaan”.
(T.RS/S:Euro-Med)