Gaza, NPC – Dokter Lintas Batas atau Médecins Sans Frontières (MSF) kembali meliris laporan yang menyebutkan konsekuensi berbahaya akibat blokade Israel yang membatasi masuknya makanan dan pasokan medis. Tindakan ini akan memicu peningkatan angka kelahiran prematur, keguguran, dan kematian bayi di kalangan wanita hamil dan menyusui.
Lembaga ini mengungkapkan, pada periode akhir tahun 2024 hingga awal 2026, tim mereka yang bekerja di Gaza menemukan tingginya angka kasus komplikasi yang erkait dengan kekurangan gizi. Khususnya, selama periode peningkatan serangan militer dan kondisi pengepungan yang diperketat.
Menurut laporan tersebut, lebih dari setengah wanita hamil yang dipantau menderita kekurangan gizi selama kehamilan, sementara 90 persen bayi yang lahir dari ibu yang kekurangan gizi dilahirkan prematur dan 84 persen lahir dengan berat badan kurang. Tingkat kematian di kalangan bayi baru lahir dari ibu yang kekurangan gizi juga secara signifikan lebih tinggi.
MSF mengaitkan, memburuknya krisis dengan pembatasan bantuan kemanusiaan yang terus berlanjut, penghancuran infrastruktur sipil dan medis, pengungsian berulang, dan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Organisasi ini mengatakan bahwa Gaza tidak mengalami kekurangan gizi anak yang meluas sebelum perang, tetapi sejak Januari 2024 hampir 5.000 anak di bawah usia 15 tahun, sebagian besar di bawah lima tahun, telah dirawat di program pengobatan kekurangan gizi.
Laporan tersebut juga menyoroti runtuhnya jaringan distribusi makanan setelah runtuhnya gencatan senjata pada awal tahun 2025, di mana titik distribusi makanan turun dari sekitar 400 menjadi hanya empat lokasi.
MSF menyerukan kepada otoritas Israel untuk segera mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, makanan, dan perlengkapan medis tanpa syarat ke Gaza, sambil mendesak negara-negara sekutu, khususnya AS, untuk menekan agar akses kemanusiaan tidak dibatasi.
(T.RA/S: PIC)