Tel Aviv, NPC – Ribuan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, terutama di Megiddo, dipaksa bertahan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Laporan terbaru dari Masyarakat Tahanan Palestina (PPS) mengungkap bahwa wabah penyakit merebak luas di dalam penjara, memperburuk penderitaan para tahanan yang sudah mengalami penyiksaan sistematis, penelantaran medis, dan perlakuan brutal oleh otoritas Israel.
Situasi ini diperburuk oleh kurangnya makanan bergizi, pakaian layak, serta ventilasi yang memadai. Para tahanan menghadapi masalah kesehatan serius, sementara otoritas Israel mengabaikan penderitaan mereka.
Seorang mantan tahanan, yang baru saja dibebaskan setelah berbulan-bulan mendekam di Megiddo, menggambarkan keadaan di dalam penjara sebagai “neraka di bumi”.
“Kami tidak diberi air bersih, pakaian kami kotor dan dipenuhi serangga. Saat kami mengeluh karena tubuh kami gatal luar biasa, sipir hanya tertawa dan mengatakan: “Kalian pantas menderita!”
Megiddo bukan sekadar penjara, tetapi tempat penghancuran fisik dan mental tahanan Palestina. Laporan investigasi yang dikutip dari Haaretz menyebut bahwa para tahanan menghadapi penganiayaan brutal, sengatan listrik, serangan anjing, hingga diikat dalam keadaan telanjang selama berhari-hari. Beberapa dibiarkan kelaparan, sementara yang lain dipaksa tidur di lantai tanpa selimut dalam suhu dingin.
Seorang mantan tahanan lainnya mengungkap bagaimana ia disiksa secara sistematis. “Mereka mengikat saya selama tiga hari tanpa memberi makanan atau air. Ketika saya meminta bantuan karena sakit, mereka menertawakan saya dan mengatakan ‘kamu teroris, kamu harus mati’.”
Sejak Oktober 2023, setidaknya 63 tahanan Palestina dilaporkan tewas di dalam penjara Israel. Namun, angka ini diyakini jauh lebih tinggi mengingat minimnya transparansi dan penyembunyian informasi oleh otoritas Israel.
Sejak Oktober 2023, setidaknya 63 tahanan Palestina dilaporkan tewas di dalam penjara Israel. Namun, angka ini diyakini jauh lebih tinggi mengingat minimnya transparansi dan penyembunyian informasi oleh otoritas Israel.
Apa yang terjadi di penjara Israel bukan hanya pelanggaran hukum internasional, tetapi sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan yang terus berlangsung di depan mata dunia. Meski bukti penyiksaan, pengabaian medis, dan kejahatan perang Israel semakin menggunung, negara-negara Barat masih terus memberikan perlindungan politik dan bantuan militer kepada rezim Zionis.
Israel telah menjadikan penyiksaan sebagai alat untuk menekan rakyat Palestina, sementara dunia memilih untuk tetap diam. Organisasi HAM telah berulang kali menyerukan intervensi internasional, namun hingga kini tidak ada tindakan konkret yang dilakukan. Jika dunia terus membiarkan kekejaman ini berlangsung, maka ribuan tahanan Palestina akan terus menderita, disiksa, dan dibunuh di balik jeruji besi tanpa mendapatkan keadilan sedikit pun.