Gaza, NPC – Militer Israel, pada Rabu (10/09/2025), kembali menginstruksikan penduduk Palestina di Kota Gaza untuk mengungsi ke arah selatan melalui selebaran dan pesan suara.
Militer Israel dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa dalam rangka operasi “Aravot Gideon B,” mereka bekerja keras untuk memberikan peringatan kepada warga Kota Gaza.
Militer Israel menggunakan berbagai metode operasional, termasuk penyebaran pesan suara, pembagian selebaran, pengiriman pesan teks, dan panggilan telepon, dengan tujuan menjangkau sebanyak mungkin penduduk.
Militer juga mengimbau penduduk Palestina di Gaza agar mematuhi instruksi resmi demi keselamatan mereka dan menghindari berada di wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah berbahaya.
Dalam selebaran yang dilampirkan pada pernyataan tersebut tertulis: “Kepada seluruh warga dan penduduk Kota Gaza dan semua distrik di dalamnya, dari Kota Tua hingga Al-Tuffah di bagian timur dan sampai ke pantai di bagian barat, Angkatan Pertahanan Israel (IDF) bertekad untuk menghancurkan Hamas dan akan beroperasi di wilayah Kota Gaza dengan kekuatan besar seperti yang telah dilakukan di seluruh Gaza. Demi keselamatan Anda, segera evakuasi melalui jalur Al-Rashid menuju zona kemanusiaan di Al-Mawasi. Tetap berada di wilayah ini sangat berbahaya.”
Lembaga HAM internasional seperti Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International sering menyoroti risiko besar bagi warga sipil akibat operasi militer yang memaksa pengungsian massal, terutama di wilayah yang sangat padat penduduk seperti Gaza. Mereka menekankan bahwa warga sipil harus dilindungi dari bahaya dan mendapatkan akses ke bantuan kemanusiaan.
Pengusiran paksa atau evakuasi massal tanpa adanya jaminan keamanan dan akses yang memadai terhadap kebutuhan dasar dianggap sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional. Organisasi HAM menuntut agar semua tindakan militer mematuhi prinsip proporsionalitas dan pembedaan antara sasaran militer dan sipil.
Sepanjang akhir pekan, jumlah warga yang mengungsi dari kota terus meningkat seiring pemboman mendekati pusat kota, menyasar tempat perlindungan dan bangunan yang masih berdiri.
Hassan al-Hawi, warga Sheikh Radwan di barat Kota Gaza, mengatakan ia melarikan diri bersama keluarganya ke Deir al-Balah di Gaza tengah karena drone quadcopter mulai menembaki rumah-rumah dan warga di wilayahnya.
“Kami menghabiskan tiga hari mencari tempat tinggal, dan akhirnya terpaksa mengungsi ke sekolah UNRWA di Deir al-Balah. Drone itu mendekati rumah kami dan dari pengeras suara mereka memaki serta mengancam kami agar segera pergi. Mereka bahkan menembaki kami dari jendela dan kadang masuk melalui jendela itu,” ujarnya.
Hassan al-Hawi tidak tahu apakah ia bisa tetap tinggal atau akan diperintahkan pergi lagi setelah Israel menyelesaikan operasi penghancuran di Kota Gaza.
“Gaza telah menjadi rumah jagal bagi penduduk sipil. Israel bukan sedang membom Hamas atau pejuang perlawanan, tetapi menargetkan penduduk sipil tak berdaya yang terkepung dan kekurangan makanan serta air,” ujarnya.
Sejak Israel melancarkan genosida di Gaza sejak Oktober 2023, ratusan ribu penduduk Palestina telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza. Jumlah korban jiwa kini telah melampaui 64.300 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Beberapa laporan menyebut angka tersebut masih konservatif; jurnal medis, The Lancet, memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melebihi 186.000 jiwa.
(T.FJ/S: RT Arabic, Mondoweiss)