Perjalanan menuju sekolah adalah bagian paling sederhana dari kehidupan anak-anak. Mestinya ia berlangsung tanpa hambatan, tanpa rasa takut, dan sering kali tanpa disadari sebagai sebuah keistimewaan. Namun di Palestina, perjalanan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh dari kata sederhana. Anak-anak tidak hanya berjalan menuju ruang kelas, tetapi juga harus menghadapi kawat berduri, jalan yang diblokade, reruntuhan bangunan, hingga ancaman kekerasan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak lagi sekadar rutinitas harian, melainkan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Realitas ini menunjukkan bahwa serangan yang berkepanjangan tidak hanya merusak infrastruktur dan mengganggu stabilitas wilayah, tetapi juga perlahan menggerus hak paling dasar manusia, yakni hak untuk belajar. Dari Tepi Barat hingga Gaza, anak-anak Palestina menghadapi kenyataan pahit: masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau mimpi, tetapi juga oleh sejauh mana mereka mampu bertahan di tengah pembatasan dan ketidakpastian keamanan.
Di Umm al-Khair, sebuah komunitas Badui di Tepi Barat, jalan menuju sekolah yang telah digunakan selama puluhan tahun kini terhalang oleh pagar kawat berduri. Jalur setapak yang dulu menjadi penghubung antara rumah dan sekolah berubah menjadi batas yang memisahkan anak-anak dari hak mereka untuk belajar. Pagar tersebut didirikan secara sepihak, namun tetap dibiarkan berdiri tanpa tindakan pembongkaran.
Setiap pagi, anak-anak tetap berjalan menuju titik tersebut. Dengan tas di punggung dan harapan di hati, mereka berdiri di depan pagar, membawa poster sederhana dan menyanyikan lagu-lagu yang berisi permintaan agar jalan dibuka kembali. Tindakan mereka merupakan wujud dari harapan yang paling mendasar: dapat kembali bersekolah.
Namun, di seberang pagar, tentara bersenjata berjaga. Ketika anak-anak mencoba mendekat, mereka justru dihadapkan pada gas air mata dan granat suara. Respons ini tidak hanya menghentikan langkah mereka secara fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. Anak-anak menjadi takut, cemas, dan mengalami trauma yang terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antara mereka bahkan kesulitan tidur dan enggan kembali ke lokasi tersebut.

Situasi ini semakin kompleks ketika jalur alternatif yang ditawarkan justru lebih panjang dan berbahaya. Jalur tersebut mengharuskan anak-anak melewati area yang berisiko tinggi, sehingga orang tua menolaknya demi keselamatan. Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang tersedia sama-sama sulit: berhenti sekolah atau menghadapi risiko bahaya setiap hari.
Meski demikian, komunitas Umm al-Khair tidak memilih untuk menyerah. Mereka membangun inisiatif “Sekolah Kebebasan Umm al-Khair,” sebuah ruang belajar darurat yang dilakukan di depan pagar. Anak-anak duduk di atas bebatuan, membuka buku mereka, dan tetap belajar di bawah langit terbuka. Guru mengajar tanpa fasilitas yang memadai, sementara orang tua mendampingi dengan penuh kewaspadaan.
Apa yang terjadi di sini bukan sekadar upaya bertahan, tetapi juga bentuk keteguhan. Pendidikan tidak lagi hanya dipahami sebagai proses belajar, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap pembatasan yang mereka hadapi.
Situasi pendidikan di Gaza sangat-sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan di wilayah ini hampir sepenuhnya lumpuh. Sekolah-sekolah ditutup dalam waktu yang lama, dan sebagian besar bangunan pendidikan mengalami kerusakan berat atau bahkan hancur total akibat serangan.

Ratusan ribu anak kehilangan akses terhadap pendidikan. Mereka tidak hanya kehilangan ruang kelas, tetapi juga kehilangan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka. Ribuan siswa dan ratusan guru menjadi korban, sementara yang selamat hidup dalam kondisi pengungsian yang serba terbatas.
Kehilangan sekolah berarti kehilangan rutinitas, kehilangan rasa aman, dan kehilangan kesempatan untuk berkembang secara sosial maupun emosional. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak tidak memiliki ruang untuk belajar, bermain, atau sekadar merasakan kehidupan yang normal. Pendidikan, yang seharusnya menjadi fondasi masa depan, menjadi sesuatu yang nyaris tidak terjangkau.
Dampak jangka panjang dari situasi ini sangat serius. Berbagai studi menunjukkan bahwa semakin lama anak-anak terputus dari pendidikan, semakin besar kemungkinan mereka tidak akan kembali bersekolah. Hal ini berpotensi menciptakan “generasi yang hilang”, di mana masa depan mereka terhambat oleh keterbatasan akses pendidikan, gangguan kesehatan mental, dan minimnya peluang ekonomi.
Namun di tengah semua itu, keinginan untuk belajar tidak pernah benar-benar hilang. Banyak anak di Gaza masih menyatakan kerinduan mereka untuk kembali ke sekolah. Mereka merindukan suasana belajar, interaksi dengan teman, dan kehidupan yang lebih normal. Keinginan sederhana ini justru memperlihatkan betapa besar kehilangan yang mereka alami.
Di berbagai wilayah seperti Masafer Yatta, anak-anak Palestina sangat lantang menyuarakan hak mereka. Mereka melakukan protes damai terhadap pembatasan akses pendidikan, berdiri di depan penghalang, dan menyampaikan tuntutan mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Guru-guru tetap menjalankan perannya, meski harus mengajar dalam kondisi terbatas. Orang tua turut mendampingi, memastikan anak-anak mereka tetap memiliki kesempatan untuk belajar. Komunitas bersatu menciptakan ruang belajar alternatif, menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas, bahkan dalam situasi yang paling sulit.
Protes ini tidak diwarnai kekerasan. Anak-anak hanya membawa buku, poster, dan suara mereka. Namun justru di situlah kekuatan mereka terlihat. Mereka menunjukkan bahwa perjuangan untuk pendidikan adalah perjuangan untuk masa depan, sesuatu yang tidak bisa ditunda atau diabaikan.
Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang martabat dan hak untuk hidup layak. Anak-anak yang seharusnya dilindungi justru harus memperjuangkan hak mereka sendiri, sebuah kenyataan yang mencerminkan ketimpangan yang mendalam.
Salah satu aspek paling mencolok dari situasi ini adalah ketimpangan yang begitu nyata antara pihak-pihak yang terlibat. Di satu sisi, ada anak-anak dengan buku di tangan dan mimpi tentang masa depan. Di sisi lain, ada kekuatan militer dengan perlengkapan lengkap dan otoritas penuh.
Anak-anak tersebut tidak membawa ancaman. Mereka tidak datang untuk berkonflik. Mereka hanya ingin pergi ke sekolah, belajar, dan menjalani kehidupan yang seharusnya mereka miliki. Namun respons yang mereka terima sering kali tidak sebanding, mulai dari pembatasan akses hingga penggunaan kekuatan yang menimbulkan ketakutan.
Dalam kondisi apa pun, anak-anak seharusnya menjadi pihak yang paling dilindungi. Ketika mereka justru menjadi pihak yang paling terdampak, muncul pertanyaan besar tentang nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi.
Situasi ini seharusnya memunculkan refleksi yang mendalam. Ada ketimpangan moral yang tidak bisa diabaikan ketika anak-anak yang hanya membawa buku harus berhadapan dengan orang dewasa yang bersenjata lengkap. Ini bukan sekadar persoalan konflik, tetapi juga tentang bagaimana kemanusiaan dipertahankan di tengah situasi yang sulit.
Di tengah berbagai keterbatasan dan tekanan, satu hal yang tetap bertahan adalah keinginan anak-anak untuk belajar. Di Umm al-Khair, mereka terus datang ke pagar setiap hari, membuka buku, dan belajar di ruang terbuka. Di Gaza, meski sekolah-sekolah hancur, harapan untuk kembali belajar tetap hidup.
Pesan-pesan sederhana seperti “Kami senang pergi ke sekolah” dan “Mari kita belajar” menjadi simbol dari harapan yang tidak mudah padam. Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi dalam konteks ini, ia memiliki makna yang sangat dalam.
Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ilmu, tetapi juga tentang mempertahankan harapan dan masa depan. Selama anak-anak itu masih ingin belajar, selama mereka masih berani bermimpi, harapan itu akan selalu ada, meski jalan menuju ke sana masih penuh rintangan.
Di tengah realitas yang begitu keras, penderitaan anak-anak Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat, tidak seharusnya hanya menjadi cerita yang dibaca lalu dilupakan. Ada tanggung jawab moral yang melekat, baik bagi umat Islam maupun komunitas internasional untuk tidak tinggal diam melihat hak belajar anak-anak dirampas secara sistematis.
Bagi umat Islam, solidaritas tidak cukup diwujudkan dalam empati atau doa semata, meskipun keduanya tetap penting. Dukungan nyata perlu terus diperkuat melalui berbagai cara: menyebarkan kesadaran, mendukung lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang pendidikan, serta menjaga konsistensi isu ini agar tidak tenggelam oleh dinamika global yang silih berganti. Pendidikan anak-anak Gaza adalah bagian dari amanah kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Ketika akses belajar mereka dihancurkan, maka tanggung jawab untuk membantu memulihkannya menjadi kewajiban bersama.
Di sisi lain, komunitas internasional memegang peran yang jauh lebih besar dan strategis. Dunia tidak boleh menormalisasi kondisi di mana anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk pergi ke sekolah. Tekanan diplomatik, advokasi hak asasi manusia, serta upaya konkret untuk melindungi fasilitas pendidikan harus menjadi prioritas. Kecaman terhadap tindakan yang merampas hak dasar anak-anak tidak boleh berhenti pada pernyataan, tetapi harus diikuti dengan langkah nyata yang mampu menciptakan perubahan.
Lebih dari itu, dunia perlu mengingat kembali prinsip paling mendasar: bahwa anak-anak, di mana pun mereka berada, berhak atas perlindungan, pendidikan, dan masa depan yang layak. Ketika hak-hak tersebut dilanggar, maka diam bukan lagi pilihan yang netral, ia menjadi bagian dari pembiaran.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Al Jazeera, “As barbed wire blocks kids from class, Palestinians stage ‘Freedom School’”, Al Jazeera, April 20, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/4/20/as-barbed-wire-blocks-kids-from-class-palestinians-stage-freedom-school
Inger Ashing, Yasmine Sherif and Jan Egeland, “Education under attack in Gaza, with nearly 90% of school buildings damaged or destroyed”, Save the Children, April 14, 2024. https://www.savethechildren.net/blog/education-under-attack-gaza-nearly-90-school-buildings-damaged-or-destroyed
US News, “Israeli Settlers Block Palestinian Kids’ Path to School With Tear Gas and Barbed Wire”, US News, April 15, 2026. https://www.usnews.com/news/world/articles/2026-04-15/israeli-settlers-block-palestinian-kids-path-to-school-with-tear-gas-and-barbed-wire