Darurat Hipotermia di Tengah Krisis Kemanusiaan: Studi Pendekatan Epidemiologi

Sumber: UNICEF/Media Clinic

Sejak Desember 2024, hingga saat ini, Palestina masih menghadapi musim dingin ekstrem. Hal tersebut ditandai dengan curah hujan yang tinggi, turunnya salju (khususnya di beberapa daerah seperti Tepi Barat dan Al-Quds), serta suhu rendah yang berkisar antara 10-17˚C.[1] Kondisi ini biasanya berlangsung selama 3 hingga 4 bulan lamanya. Meski tidak berlangsung lama, namun cuaca yang dihadapi cukup dingin, terlebih bagi kelompok rentan. Selain itu, meninjau kondisi wilayah Palestina yang saat ini masih terjadi konflik, tentu menjadi tantangan yang besar dalam menghadapi cuaca yang ekstrem. Salah satu ancaman yang dihadapi adalah hipotermia.

Sumber: Al Arabiya News/AFP

Mengenal Hipotermia

Hipotermia merupakan kondisi penurunan suhu tubuh dibawah 35˚C atau dibawah suhu tubuh normal. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara panas yang dikeluarkan oleh tubuh dengan yang diterima atau dihasilkan.[2] Tubuh manusia menghasilkan panas sebagai akibat dari proses metabolisme. Panas tubuh ini berfungsi untuk mengatur suhu tubuh agar tetap berada pada suhu normal. Peristiwa tersebut dinamakan termoregulasi, dengan otak (khususnya bagian hipotalamus) sebagai pengendalinya.[3]

Ketika musim dingin, tubuh tentu memerlukan panas yang lebih banyak untuk bisa menstabilkan antara suhu tubuh dan lingkungan. Apabila hal ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan sulit mempertahankan kondisi normalnya. Akibatnya, suhu tubuh akan turun secara perlahan yang menyebabkan seseorang terserang hipotermia. Berdasarkan klasifikasinya, hipotermia terbagi menjadi tiga derajat, yaitu ringan (36.0-36.4˚C), sedang (32.0-35.9˚C), dan hipotermia berat (<32˚C).[4]

 

Sumber: CBS News/Abdel Kareem Hana

Hipotermia sangat rentan menyerang bayi, anak-anak, lansia, serta orang dengan imunitas yang lemah. Angka kematian kasus atau case fatality rate pada kasus hipotermia cukup tinggi, yaitu berkisar 50% secara global.[5] Maknanya, apabila terdapat 100 orang yang terkonfirmasi mengalami hipotermia, maka 50 orang yang terkonfirmasi kasus tersebut berakhir pada kematian. Angka ini berlaku pada kasus hipotermia yang menyerang bayi ataupun orang dewasa.

Secara umum, gejala yang dialami oleh orang yang terserang hipotermia ialah menggigil, kulit pucat dan dingin, mengalami kebingungan disebabkan oleh menurunnya kemampuan otak, pernapasan atau detak jantung melambat, mengantuk, serta tubuh lemah. Apabila tidak segera dilakukan tindakan dan penanganan, besar kemungkinan terjadi serangan jantung, syok, koma, hingga berujung pada kematian.[6] Namun gejala yang dialami dapat berbeda sesuai dengan tingkat keparahannya.

Data dan Kasus Hipotermia di Palestina

Berdasarkan laporan United Nation, pada bulan Desember hingga saat ini sudah terdapat delapan kasus kematian bayi baru lahir akibat hipotermia. Ditambah dengan 74 kasus kematian pada anak akibat cuaca dingin ekstrim.[7] Laporan dari dr. Ahmed Alfarra, selaku dokter yang bertugas di RS Bersalin Al Tahreer di Khan Younis pun menyampaikan bahwa kasus hipotermia pada bayi terjadi setiap harinya dengan jumlah sebanyak lima hingga enam bayi.[8]

Bayi merupakan kelompok yang paling rentan mengalami hipotermia. Hal ini dikarenakan bayi yang baru lahir belum memiliki mekanisme termoregulasi yang baik karena perkembangan sistem saraf yang belum sempurna. Akibatnya, tubuh bayi tidak mampu mengatur suhu tubuh secara maksimal dibandingkan dengan orang dewasa. Tubuh pun kehilangan panas lebih cepat, ditambah lagi dengan paparan suhu dingin yang berkepanjangan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh bayi.[9]

Kondisi yang Memperburuk Hipotermia

Penyebab terjadinya hipotermia hingga berujung kematian pada bayi di Palestina khususnya  wilayah Gaza cukup kompleks. Sejak memuncaknya perang pada 7 Oktober 2023, makanan dan obat-obatan dibatasi masuk ke wilayah Palestina yang menyebabkan terjadinya kelaparan ekstrem. Blokade yang dilakukan oleh pihak Israel tentu berkontribusi besar pada kondisi kritis rakyat Palestina saat ini.

Pada faktor individu, kurangnya asupan gizi pada bayi dan anak-anak mengakibatkan terjadinya penurunan daya tahan tubuh terhadap kondisi ekstrem. UNRWA melaporkan bahwa sebanyak satu dari tiga anak atau sekitar 33%  anak di Palestina mengalami gizi buruk.[10] Bayi yang seharusnya mendapatkan ASI eksklusif sebagai imunitas, nyatanya tidak dapat terpenuhi dengan baik dikarenakan kondisi ibu yang juga kekurangan asupan nutrisi sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik.[11]

Pada faktor lingkungan, tempat tinggal yang tidak memadai bagi bayi memberikan efek yang besar terhadap kestabilan suhu tubuh bayi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini 66% bangunan di Palestina mengalami kerusakan akibat serangan yang bertubi-tubi dari militer Israel, termasuk tempat tinggal mereka.[12] Maka mereka terpaksa tinggal di tenda darurat yang tentu sangat jauh dari kata layak. Ditambah lagi dengan kurangnya ketersediaan baju hangat dan selimut, minimnya akses penghangat, serta listrik yang tidak memadai.

 

Sumber: UNICEF/Media Clinic

Akses fasilitas kesehatan di Palestina pun amat mengkhawatirkan. Hanya 20 dari 35 rumah sakit yang berfungsi, meski tak bisa beroperasional secara maksimal. Sebanyak 84% fasilitas kesehatan telah dirusak atau dihancurkan oleh pasukan Israel.[13] Berikut pula peralatan medis untuk perawatan bayi ikut hancur. Padahal, pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam peningkatan kesehatan khususnya bagi bayi dan anak-anak.

Kondisi darurat ini seharusnya menjadi perhatian besar bagi para pemerhati kesehatan dan kemanusiaan. Hipotermia hanyalah salah satu dari sekian banyak dampak buruk akibat kebrutalan pasukan Israel yang membombardir wilayah Palestina. Perlu adanya solusi jangka panjang dalam rangka untuk memulihkan kembali kondisi kesehatan masyarakat Palestina saat ini. Tidak hanya distribusi makanan, pakaian, obat-obatan, atau bahan bakar. Konflik dan peperangan ini harus segera dihentikan untuk mencegah terjadinya kondisi kesehatan yang lebih parah kedepannya.

Penulis: Sofwatul Hanim (Mahasiswa Pascasarjana Epidemiologi Komunitas Universitas Indonesia)

Referensi:

[1] Weather Spark. ‘Winter Weather in Gaza’. Accessed on March, 5th 2025. https://id.weatherspark.com/s/98164/3/Cuaca-rata-rata-pada-Musim-dingin-di-Gaza-Wilayah-Palestina

[2] Duong H, Patel G. Hypothermia. [Updated 2024 Jan 19]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545239/

[3] Healthline. ‘Thermoregulation’. Accessed on March, 5th 2025. https://www-healthline-com.translate.goog/health/thermoregulation?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Hipotalamus%20adalah%20bagian%20otak%20yang,suhu%20tubuh%20ke%20tingkat%20normal.

[4] World Health Organization. (1997). ‘Maternal and Newborn Health/Safe Motherhood. Thermal Protection of the Newborn: a practical guide’. https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/63986/WHO?sequence=1

[5] Lunze K, Bloom DE, Jamison DT, Hamer DH. (2013). ‘The global burden of neonatal hypothermia: systematic review of a major challenge for newborn survival’. BMC Med.11: 24.

[6] Beagley, L., Smith, R., & American Society of PeriAnesthesia Nurses. (2014). ‘A competency-based orientation and credentialing program for the registered nurse in the perianesthesia setting’. American Society of PeriAnesthesia Nurses.

[7] United Nation Palestine. ‘Children are now freezing to death’: harrowing updates from Gaza’. 10 January 2025. Accessed on March, 5th 2025. https://palestine.un.org/en/287161-%E2%80%98children-are-now-freezing-death%E2%80%99-harrowing-updates-gaza

[8] Al Jazeera. ‘Twenty-day-old baby dies of cold in Gaza, fifth such fatality this winter’. 29 December 2024. Accessed on March, 5th 2025. https://www.aljazeera.com/news/2024/12/29/twenty-day-old-baby-dies-of-cold-in-gaza-fifth-such-fatality-this-winter?traffic_source=KeepReading

[9] Duong H, Patel G. Hypothermia. [Updated 2024 Jan 19]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545239/

[10] AA. ‘1 in 3 children under 2 years acutely malnourished in northern Gaza: UN agency’. 16 March 2024. Accessed on March, 7th 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1-in-3-children-under-2-years-acutely-malnourished-in-northern-gaza-un-agency/3166236

[11] Al Arabiya News. ‘Women in Gaza unable to breastfeed babies as Israel’s siege starves Palestinians’ 03 January 2024. Accessed on March, 7th 2025. https://english.alarabiya.net/News/middle-east/2024/01/03/Women-in-Gaza-unable-to-breastfeed-babies-as-Israel-s-siege-starves-Palestinians

[12] UNOSAT. ‘UNOSAT Gaza Strip Comprehensive Damage Assessment’ 29 September 2024. Accessed on March, 8th 2025. https://unosat.org/products/3984

[13] OCHA. ‘Reported impact snapshot | Gaza Strip (25 February 2025)’. Accessed on March, 8th 2025. https://www.ochaopt.org/content/reported-impact-snapshot-gaza-strip-25-february-2025

You might also like