Gaza, NPC – Sebuah survei yang dilakukan oleh Universitas Ibrani di Yerusalem pada awal Juni 2024 mengungkapkan sebuah fakta yang mengkhawatirkan: mayoritas besar warga Israel Yahudi percaya bahwa “tidak ada orang yang tak bersalah di Gaza”.
Sebanyak 64 persen warga Israel menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut. Ini artinya hampir dua dari setiap tiga orang. Namun angka sebenarnya lebih tinggi lagi di kalangan warga Israel Yahudi, karena jajak pendapat ini juga mencakup penduduk Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel. Sekitar 20 persen dari populasi Israel adalah penduduk Palestina, dan sebanyak 92 persen dari mereka tidak setuju dengan pernyataan itu. Artinya, dukungan dari warga Israel Yahudi jauh lebih tinggi.
Jajak pendapat ini juga menunjukkan tingkat persetujuan berdasarkan spektrum politik:
Retorika Genosida yang Bukan Hal Baru
Dukungan besar terhadap pandangan ekstrem ini bukan hal baru, juga bukan dimulai sejak 7 Oktober 2023. Pada tahun 2018, Menteri Pertahanan saat itu, Avigdor Lieberman, pernah berkata: “Tidak ada orang yang tak bersalah di Jalur Gaza”.
Pada Oktober 2023, Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan pernyataan yang serupa, menyiratkan bahwa seluruh penduduk Gaza bertanggung jawab. Ia berkata:
“Seluruh bangsa di sana bertanggung jawab. Retorika bahwa warga sipil tidak tahu-menahu dan tidak terlibat, itu tidak benar.”
Pernyataan ini menjadi salah satu bagian dari kasus tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam gugatan Afrika Selatan vs Israel. Meski kemudian Herzog menyebut bahwa ICJ melakukan “fitnah darah” dan “memutarbalikkan ucapannya”, banyak pihak percaya bahwa pernyataannya memang menggambarkan sikap sebenarnya.
Anak-anak yang Terpengaruh Radikalisasi
Surat kabar Haaretz pernah memuat artikel berjudul “Tidak Ada Orang Tak Bersalah di Gaza: Apa yang Harus Dilakukan Ketika Anak Anda Pulang dalam Keadaan Teradikalisasi” (diterbitkan Mei 2024). Artikel ini menggambarkan bagaimana banyak anak-anak di Israel pulang dari sekolah atau militer dengan pandangan ekstrem, termasuk justifikasi terhadap pembunuhan warga sipil Palestina di Gaza dan pernyataan rasis terhadap komunitas lain seperti Yahudi ultra-Ortodoks, LGBTQ+, dan lainnya.
Survei ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya pada anak-anak, melainkan seluruh masyarakat Israel telah terpengaruh radikalisasi. Para tentara tidak pulang ke lingkungan yang damai — mereka kembali ke lingkungan masyarakat yang sama-sama mendukung kekerasan.
Pernyataan Ekstrem dari Pejabat Israel
Pada tahun 2014, saat Israel melancarkan serangan besar ke Gaza yang membunuh sekitar 2.200 penduduk sipil Palestina (termasuk 551 anak-anak), Ayelet Shaked, seorang anggota parlemen dari partai Jewish Home, mengunggah postingan media sosial yang kontroversial.
Ia menulis bahwa seluruh rakyat Palestina adalah musuh, termasuk para ibu yang dianggap melahirkan “ular kecil”, sebuah ungkapan dehumanisasi terhadap anak-anak Palestina. Meskipun unggahan itu akhirnya dihapus, isi pesannya mencerminkan pandangan pribadi Shaked. Ironisnya, ia kemudian menjabat sebagai Menteri Kehakiman Israel.
Shaked bahkan pernah membuat iklan parfum fiktif bernama “Fasisme” dan berkata, “Baunya seperti demokrasi bagiku”.
Genosida dan Politik Zionisme
Pernyataan-pernyataan semacam ini bukanlah insiden terisolasi. Banyak pemimpin Israel selama bertahun-tahun telah mempromosikan gagasan yang bersifat genosida. Pandangan semacam ini telah menjadi bagian dari ideologi Zionisme, yang dalam banyak aspek mengandung unsur kolonialisme pemukim dan penghapusan populasi lokal.
Sebelumnya, Israel mencoba menyeimbangkan retorika ini dengan pencitraan sebagai negara demokratis. Namun, belakangan ini, Israel tampak tidak lagi berusaha untuk menyembunyikannya. Seolah-olah, mereka merasa tidak perlu lagi memakai “parfum demokrasi”.
Data dari survei ini juga menunjukkan bahwa 64 persen warga Israel tidak ingin ada peliputan lebih luas mengenai kondisi penduduk sipil Palestina di Gaza. Media Israel hampir tidak pernah memberitakan penderitaan penduduk sipil Palestina di Gaza, seolah mereka tidak ingin tahu tentang bayi-bayi yang kelaparan dan meninggal karena serangan maupun blokade. Di kalangan pendukung koalisi pemerintahan, persentasenya bahkan mencapai 89 persen.
Jika sebagian besar dari mereka memang tidak percaya bahwa ada penduduk sipil Palestina di Gaza yang tidak berdosa, maka tidak mengherankan jika mereka juga tidak peduli terhadap penderitaan para korban di sana.
(T.FJ/S: Mondoweiss)