Jenin, NPC – Muhammad Jaradat tak pernah membayangkan bahwa 2025 akan menjadi tahun terakhir ia bisa mengunjungi perbukitan Tepi Barat bagian utara bersama kelompok pendakinya.
“Kami kembali sekali atau dua kali setiap tahun, selalu terpukau oleh keindahan pohon carob dan ek,” katanya dengan duka yang tertahan.
Jaradat, pendiri kelompok Tijawal wa Tirhal yang berbasis di Jenin, mengatakan bahwa para anggota pendakiannya dengan inisiatif sendiri menjelajahi dataran bergelombang dan hutan-hutan yang membentang di sekitar Jenin.
“Pendakian pertama kami dilakukan di wilayah Umm al-Tout hampir 13 tahun lalu,” ujarnya kepada Mondoweiss. “Kami juga biasa menjelajahi tanah-tanah di Jenin, Sanur, dan Raba.”
“Kami tidak mendaki semata untuk rekreasi,” kata Jaradat. “Kami mendaki untuk menegaskan hak kami atas perbukitan ini. Setiap pohon carob memiliki nama. Setiap punggung bukit menyimpan kisah.”
Wilayah yang dikunjungi Jaradat dan kelompoknya sebelumnya diduduki secara ilegal oleh empat permukiman Israel—Ganim, Kadim, Homesh, dan Sa-Nur—sebelum Israel secara sepihak mengevakuasinya pada 2005, menyusul pengesahan apa yang dikenal sebagai Undang-Undang Pelepasan (Disengagement Law).
Namun permukiman-permukiman ilegal Israel itu kini kembali, dan akses penduduk Palestina ke lahan di sekitarnya semakin dibatasi oleh otoritas Israel sejak 2023, ketika Knesset Israel memulai proses legalisasi ulang permukiman tersebut melalui serangkaian amendemen terhadap Undang-Undang Pelepasan 2005.
Sejak itu, pemerintah Israel telah melegalkan secara retroaktif 19 pos permukiman di seluruh Tepi Barat, termasuk keempat permukiman yang sebelumnya dievakuasi di wilayah utara. Dari sisi hukum, Israel secara efektif membalikkan Undang-Undang Pelepasan setelah mencabutnya sepenuhnya pada Juli 2024. Setahun kemudian, pada Juni, Israel mengumumkan rencana pembangunan 22 permukiman baru, termasuk di lokasi bekas Sa-Nur dan Homesh.
Dorongan ini merupakan bagian dari visi Israel yang lebih luas untuk mencaplok sebagian besar Tepi Barat setelah memaksa penduduknya meninggalkan tanah mereka. Caranya adalah dengan membuat kehidupan penduduk Palestina di wilayah yang menjadi target permukiman ulang tak tertahankan—hingga mereka “secara sukarela” pergi.
Sanur dan Homesh: Perbukitan yang Mengawasi Nablus dan Jenin
Desa Palestina Sanur, yang terletak di puncak Tal al-Tarsala, sejak lama memiliki arti strategis bagi militer Israel. Berada di dataran tinggi Tepi Barat bagian utara, desa ini menghadap jalur-jalur utama yang menghubungkan Jenin dan Nablus. Permukiman Israel Sa-Nur di dekatnya—yang mengambil nama dari desa Palestina tersebut—sebelumnya diuntungkan oleh keberadaan pangkalan militer besar yang dahulu mengendalikan wilayah luas di kawasan itu sebelum pelepasan pada 2005.
Menyusul keputusan terbaru pemerintah Israel untuk memukimkan kembali kawasan tersebut, satu peleton militer telah dikerahkan ke sekitar Sanur sebagai persiapan pendirian pangkalan militer permanen dan untuk memfasilitasi kembalinya keluarga-keluarga pemukim.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk memindahkan markas Brigade Menashe—unit militer Israel yang bertanggung jawab atas Tepi Barat bagian utara—dari wilayah Israel ke wilayah pendudukan.
Bagian lain dari persiapan tersebut mencakup pembangunan apa yang disebut “Jalan Bypass Silat”, sebuah proyek yang didanai Kementerian Keuangan Israel dengan anggaran sekitar 20 juta syekel, di bawah kepemimpinan Bezalel Smotrich dari Partai Zionisme Religius.
Pekan lalu, Smotrich mengumumkan bahwa rencana pembangunan 126 unit permukiman ilegal baru sebagai bagian dari kebangkitan koloni Sa-Nur telah berjalan. Ia menyebut langkah ini sebagai “koreksi atas ketidakadilan historis” dan “implementasi visi Zionis di lapangan”.
Ia menekankan bahwa kembalinya Sa-Nur tidak akan diwujudkan melalui slogan, melainkan lewat “rencana, anggaran, jalan, dan langkah-langkah konkret”.
Permukiman lain yang direncanakan untuk dihidupkan kembali adalah Homesh, yang dibangun di atas tanah milik desa-desa Palestina Burqa, Silat al-Dhahr, dan Bazariya. Homesh menempati puncak bukit yang sama strategisnya di antara Jenin dan Nablus, dan evakuasinya pada 2005 ditentang keras oleh para pemukim. Sejak itu, lokasi tersebut terus menjadi titik panas bentrokan antara penduduk Palestina dan pemukim, yang kerap didukung militer.
Kini, bagi penduduk Palestina di sekitarnya, konfrontasi langsung dengan pemukim kolonial Israel tak lagi diperlukan untuk merasakan ancaman; sekadar mendekati lahan pertanian mereka sering kali cukup untuk memicu kedatangan tentara Israel.
“Mereka tidak perlu mengusir kami sekaligus. Mereka hanya membuat tanah ini mustahil untuk ditinggali,” kata seorang penduduk Palestina dari Burqa.
Dalam beberapa tahun terakhir, penduduk Palestina di Burqa, Silat al-Dhahr, dan Bazariya telah mendokumentasikan puluhan insiden di mana para petani dan penggembala menjadi sasaran serangan verbal maupun fisik.
Ahmad Abu Fahd, seorang petani dari Silat al-Dhahr, mengatakan akses ke lahannya semakin dibatasi dalam beberapa tahun terakhir. “Setiap pagi kami bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang sama: apakah hari ini kami akan diizinkan mencapai tanah kami, atau para pemukim akan kembali menghalangi?” katanya sambil menatap perbukitan yang menghadap ladangnya.
“Sejak Homesh kembali, setiap langkah menuju tanah kami menjadi pertaruhan. Kadang mereka datang dengan perlindungan tentara. Kadang mereka mengusir kami, melempar batu, dan memaksa kami pulang dengan tangan kosong.”
Baca Juga:
Bagi komunitas di sekitar Homesh, ancamannya melampaui cedera fisik atau kerusakan tanaman. Ketidakpastian itu sendiri—tak pernah tahu kapan tanah bisa diakses, kapan tentara muncul, atau kapan kekerasan meletus—telah menjadi alat dominasi.
“Mereka tidak perlu mengusir kami sekaligus. Mereka hanya membuat tanah ini mustahil untuk ditinggali,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Mondoweiss.
Kadim dan Ganim: Sisi Rentan Jenin
Pada pertengahan Desember, penduduk Palestina di Jenin dikejutkan oleh cahaya terang yang menyala di puncak perbukitan Ganim dan Kadim. Ini bukan lagi perkemahan sementara yang sesekali didirikan para pemukim sebelumnya, melainkan perayaan terorganisasi oleh kelompok pemukim untuk menandai hari raya keagamaan Yahudi, sekaligus secara terbuka menyerukan kehadiran Yahudi yang diperbarui di sana.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari setelah keputusan Israel untuk mengizinkan kembalinya aktivitas di lokasi tersebut, menandai langkah pertama menuju penguasaan kembali dua permukiman yang terletak hanya ratusan meter dari rumah-rumah penduduk Palestina di lingkungan timur Jenin.
Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Jenin dan bagian lain Tepi Barat utara menjadi sasaran operasi militer Israel berskala luas yang bertujuan menciptakan “realitas keamanan baru” di kawasan tersebut, yang akan memungkinkan pendirian kembali permukiman yang telah dievakuasi. Operasi militer ini menuai kecaman internasional setelah sebuah insiden tertentu, ketika tentara Israel terekam kamera mengeksekusi dua pria Palestina di Jenin setelah keduanya menyerah kepada tentara.
Sebelum 2005, permukiman Ganim dan Kadim didirikan dengan karakter gabungan keamanan-pertanian, lalu secara bertahap berkembang menjadi komunitas hunian permanen yang dihuni keluarga pemukim religius-nasionalis. Tentara Israel menyediakan perlindungan dan infrastruktur penting—jalan, listrik, dan air—yang membantu mengokohkan keberadaan permukiman ilegal zionis di tanah Palestina sebagai fakta di lapangan.
Sebelum keputusan pelepasan, penduduk Palestina setempat mengingat bahwa aktivitas militer di dan sekitar puncak-puncak bukit ini sering kali mendahului serbuan ke Jenin. Bagi mereka, permukiman tersebut tidak pernah sekadar lokasi sipil, melainkan tempat di mana kehadiran tentara kerap menandai serangan yang akan datang.
Ketika jalan-jalan langsung ditutup, perjalanan yang sebelumnya hanya berjarak empat kilometer terpaksa memutar sejauh puluhan kilometer, karena tidak adanya rute alternatif yang dapat diakses. Saat permukiman dievakuasi pada 2005, bangunan-bangunan prefabrikasi dibongkar dan dipindahkan, meninggalkan lahan yang bersih—namun jauh dari dikembalikan kepada pemilik Palestina.
Upaya para pemukim kolonia Israel untuk kembali ke Ganim, Kadim, Homesh, dan Sanur mengikuti strategi yang disengaja dan bersifat kumulatif. Strategi ini dimulai dengan serangkaian penerobosan berulang ke lokasi-lokasi yang telah dievakuasi, khususnya Homesh, di mana dalam beberapa tahun terakhir para pemukim berkemah semalam dan mendirikan tenda-tenda sementara di bawah perlindungan tentara.
Upaya berulang untuk menduduki kembali puncak bukit itu kemudian memicu pembentukan kelompok pemukim “Homesh First” pada 2007, yang secara berkala kembali ke lokasi dengan bantuan jaringan pemukim yang memasok makanan, air, dan bantuan logistik, sehingga memungkinkan terbentuknya kehadiran yang berkelanjutan meski secara resmi ilegal.
Kehadiran ini kemudian meluas melalui pendirian lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikan, terutama Yeshiva Homesh. Apa yang bermula dari tenda-tenda secara bertahap berkembang menjadi karavan, menandai pergeseran jelas menuju permukiman sipil permanen dan menandakan transformasi Homesh dari lokasi militer yang secara resmi telah dievakuasi menjadi koloni sipil de facto.
Menurut laporan organisasi Yesh Din Volunteers for Human Rights, antara 2015 dan 2018 para pemukim kolonial Israel tercatat berada di zona terlarang lebih dari 40 kali, terkadang dalam kelompok beranggotakan puluhan hingga ratusan orang. Penyelidikan polisi terhadap keberadaan pemukim di tanah pribadi milik penduduk Palestina secara konsisten ditutup, yang mengindikasikan adanya toleransi institusional terhadap pelanggaran hukum tersebut.
Antara 2017 dan 2020, Yesh Din mendokumentasikan 21 insiden kekerasan yang berasal dari lokasi Homesh terhadap penduduk Palestina di Burqa, Silat al-Dhahr, al-Funduqomiya, dan Bazariya.
Di lapangan, jalan-jalan permukiman baru dibuka dan infrastruktur sementara dipasang di keempat lokasi tersebut. Amir Dawud, peneliti di Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Otoritas Palestina, menjelaskan bahwa jalan-jalan ini dirancang untuk menghalangi akses petani ke tanah mereka, memutus kesinambungan geografis di wilayah utara, dan memecah ruang Palestina sebagai persiapan bagi permukiman ulang, bukan hanya sebagai wilayah sipil, tetapi juga sebagai zona militer Israel.
Upaya Perlawanan Rakyat Palestina
Meski realitasnya suram, penduduk Palestina terus menegaskan keberadaan mereka. Muhammad Jaradat menceritakan inisiatif-inisiatif yang dipimpin kaum muda untuk menanam kembali pohon-pohon yang dicabut pemukim dan mengorganisasi operasi pembersihan di wilayah yang telah dievakuasi sebelum penutupan kembali diberlakukan.
“Sebelum keputusan untuk membangun kembali permukiman, kami menggunakan tanah-tanah ini sebagai ruang bersama kami. Keluarga datang untuk piknik, anak-anak bermain sepak bola, dan komunitas berkumpul untuk acara-acara kecil. Kami juga berupaya memulihkan rumah-rumah lama di dekat Ganim dan Kadim serta mengorganisasi kegiatan budaya dan olahraga. Itu pekerjaan yang sunyi, tetapi setiap langkah merupakan cara yang disengaja untuk menegaskan keberadaan dan keterikatan kami dengan tanah ini, bahkan di bawah pembatasan militer,” kenang Jaradat.
Di Homesh, yang paling bergejolak di antara keempat lokasi tersebut, para pemilik tanah dari desa Palestina Burqa mengajukan petisi ke Mahkamah Tinggi Israel, menuntut akses penuh dan tanpa pembatasan ke tanah pribadi mereka di bekas permukiman tersebut. Para pemohon tidak hanya menuntut pemulihan hak kepemilikan mereka, tetapi juga jaminan keselamatan, sehingga memulai rangkaian panjang proses hukum yang bertujuan mengamankan akses ke tanah sekaligus perlindungan dari potensi ancaman.
Perjuangan hukum itu berhasil—namun kini hanya tersisa di atas kertas. Perintah penyitaan telah dicabut, dan kawasan tersebut dihapus dari daftar lokalitas dalam dewan regional, tetapi dalam praktiknya, kehadiran Israel yang ilegal dan tidak berizin di permukiman itu tetap berlangsung.
Hal yang sama terjadi di permukiman lainnya, menciptakan kehadiran pemukim de facto yang secara langsung memengaruhi para pemilik tanah Palestina: di sekitar Sanur, para petani yang berupaya mengolah lahan atau memanen zaitun secara rutin dihadapkan pada rezim perizinan yang rumit dan sering kali ditolak aksesnya.
Pemukiman ulang Homesh, Sa-Nur, Ganim, dan Kadim merupakan mikrokosmos dari visi Israel yang lebih luas atas Tepi Barat, menurut Dawud.
“Israel berupaya menciptakan (wilayah Tepi Barat seperti) kantong-kantong terisolasi yang dikelilingi permukiman dan pangkalan militer,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa hal ini akan membentuk “sabuk keamanan” yang memisahkan Tepi Barat utara dan tengah serta meruntuhkan segala kemungkinan kedaulatan Palestina.
Meski demikian, para petani Palestina terus kembali.
“Hutan Umm al-Tout dan perbukitan Tal al-Tarsala akan terus menjadi saksi perjuangan kehendak ini. Mereka akan menunggu hari ketika pendakian kembali dilakukan tanpa rasa takut terhadap peluru penembak jitu atau lemparan batu pemukim. Saat itulah pohon-pohon carob dan ek akan kembali kepada para penjaga sahnya,” kata Jaradat.
(T.FJ/S: Mondoweiss)