Bongkar Pembunuhan Pemimpin Politik Hamas, Ismail Haniyeh: Media Israel Ungkap Detail Mengejutkan

Tel Aviv, NPC – Saluran berita Israel Channel 12, pada Sabtu (28/12/2024), mengungkapkan informasi mengejutkan terkait pembunuhan Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas, di ibu kota Iran, Teheran. Informasi ini dipublikasikan setelah mendapat izin dari pihak militer Israel, yang memberi lampu hijau untuk membocorkan rincian terkait operasi tersebut.

Dalam laporan yang dirilis pada Sabtu malam, 28 Desember 2024, Channel 12 memaparkan detail tentang proses pembunuhan Haniyeh pada 31 Juli 2024. Berdasarkan penyelidikan intelijen Israel, Haniyeh terdeteksi sering mengunjungi lokasi yang sama di Teheran, tinggal di ruangan yang sama dalam beberapa kesempatan.

Bom di Bantal Haniyeh

Channel 12 mengungkapkan bahwa operasi pembunuhan ini dilakukan oleh agen Mossad Israel dengan menempatkan sebuah bom di bantal Haniyeh di dalam kamarnya. Bom tersebut dirancang untuk hanya membunuh Haniyeh tanpa melibatkan korban lain. Pembunuhan ini terjadi tepat sebelum dimulainya acara pelantikan Presiden Iran yang baru, Masoud Bezhkian.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa bom yang digunakan dalam pembunuhan ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bom yang digunakan dalam operasi pembunuhan Israel sebelumnya.

Laporan ini juga mengungkapkan bahwa semalaman sebelum pembunuhan, sistem pendingin ruangan di kamar Haniyeh mengalami kerusakan, yang hampir menggagalkan misi tersebut. Namun, pihak Iran berhasil memperbaikinya, memungkinkan misi tersebut untuk dilanjutkan tanpa hambatan.

Operasi yang Paling Sensitif dalam Sejarah Intelijen Israel

Channel 12 menekankan bahwa pembunuhan Haniyeh adalah salah satu operasi yang paling berisiko dan sensitif dalam sejarah intelijen Israel. Israel, menurut laporan ini, pada awalnya merencanakan untuk membunuh Haniyeh selama acara pemakaman Presiden Iran, Ibrahim Raisi. Namun, rencana tersebut dibatalkan pada detik-detik terakhir.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Israel mengklaim Haniyeh terlibat dalam perencanaan serangan terhadap Israel, yang menjadi salah satu alasan utama mengapa ia menjadi target pembunuhan tersebut.

Pada Senin, 23 Desember, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Tel Aviv bertanggung jawab atas pembunuhan Haniyeh di Teheran, setelah sebelumnya peristiwa ini tidak secara resmi diakui oleh Israel.

Kementerian Pertahanan Israel mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi pernyataan Gallant, menunjukkan keinginan Israel untuk secara resmi mengakui pembunuhan Haniyeh yang dilakukan pada 31 Juli 2024 di Teheran.

Operasi Badai Al-Aqsa

Ketika Hamas melancarkan Operasi Badai Al-Aqsha pada tanggal 7 Oktober 2023, Ismail Haniyeh muncul dalam sebuah video siaran, bersama beberapa pemimpin Hamas lainnya, dari kantornya di Doha. Ia mengikuti laporan tentang pejuang Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, yang berhasil mendobrak masuk ke dalam garis pertahanan Israel dan menyandera sejumlah tentara Israel.

Pada tanggal 10 April, enam anggota keluarga Ismail Haniyeh, termasuk tiga putranya dan sejumlah cucunya, meninggal dunia dalam serangan udara Israel di yang menargetkan mobil mereka di kamp pengungsi Al-Shati dalam momen perayaan Idul Fitri.

Pada tanggal 24 Juni, 10 anggota keluarganya yang lain, termasuk saudara perempuannya, meninggal dunia dalam serangan Israel yang secara sengaja menargetkan rumah mereka di kamp pengungsi Al-Shati.

Di saat berduka atas meninggalnya anggota keluarganya, Ismail Haniyeh berkata “Hampir 60 anggota keluarga saya meninggal dunia sebagai syuhada, seperti halnya anak-anak Palestina lainnya, mereka tidak ada bedanya”.

Pada saat itu, Ismail Haniyah menyatakan bahwa penjajah Israel menganggap bahwa menyerang dan membunuh putra-putra pemimpin gerakan perlawanan Palestina akan mematahkan keinginan rakyat Palestina yang ingin bebas dan merdeka, akan tetapi mereka salah. Pemimpin politik Hamas selanjutnya, Yahya Sinwar juga dibunuh Israel dalam sebuah petempuran di Jalur Gaza.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

(T.FJ/S: RT Arabic)

You might also like