Jalur Gaza, NPC – Jalur Gaza kini berdiri di ambang kehancuran total. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin malam (21/04/2025), Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa Gaza telah memasuki fase “lumpuh total”, akibat blokade sistematis dan kebijakan kelaparan yang diterapkan oleh pasukan pendudukan Israel.
Menurut pernyataan tersebut, krisis yang berlangsung saat ini bukan sekadar akibat perang, melainkan hasil dari strategi penghancuran terencana dengan memblokade total Jalur Gaza. Akibatnya suplai makanan, air bersih, bahan bakar, dan bantuan medis terhenti. Hal ini dilakukan secara sadar dan disengaja. Sudah lebih dari satu setengah bulan, tidak ada bantuan kemanusiaan yang berhasil masuk ke wilayah Gaza.
Pemerintah Gaza menegaskan bahwa kelaparan kini menjadi senjata resmi perang, menargetkan warga sipil secara membabi buta. Lebih dari 1,1 juta anak dilaporkan mengalami malnutrisi parah, di tengah runtuhnya layanan kesehatan dan hilangnya akses penopang hidup. Kemanusiaan dikikis hingga ke tulangnya, dan Gaza kini hidup dalam kondisi bencana besar terencana.
Lebih dari 37 pusat bantuan dan 28 dapur umum diserang dan dihancurkan oleh militer Israel. Antrean panjang di reruntuhan pusat distribusi makanan kini menjadi pemandangan rutin. Kantor Media menyebut tindakan ini sebagai bagian dari kebijakan kelaparan sistematis, strategi militer yang menjadikan penderitaan warga sipil sebagai kartu tumbal politik.
Lebih lanjut, pernyataan tersebut menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah kejahatan perang yang dilakukan secara terbuka oleh Israel, dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Seluruh elemen layanan publik di Gaza, mulai dari rumah sakit, pabrik roti, hingga stasiun air, telah berhenti beroperasi atau berada di ambang kehancuran. Dalam dua pekan kedepan, seluruh rumah sakit diperkirakan akan lumpuh total akibat kosongnya bahan bakar dan obat-obatan.
Pemadaman listrik sistematis dan penghentian suplai bahan bakar telah mematikan hampir seluruh fasilitas vital, termasuk instalasi desalinasi air. Gaza tidak hanya diblokade, tetapi diberangus secara perlahan hingga nyawa rakyatnya lenyap dalam diam.
Pemerintah Gaza mengingatkan dunia bahwa jika situasi ini terus berlanjut, kematian massal hanya tinggal menunggu waktu akibat kelaparan ekstrem, kekurangan layanan medis, dan merebaknya wabah penyakit di tengah lautan pengungsi.