Jalur Gaza, NPC – Gaza telah mengalami kehancuran yang luar biasa sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. Infrastruktur hancur, banyak nyawa hilang, dan harapan untuk masa depan tampak semakin memudar. Dengan banyaknya kerusakan yang terjadi, dunia kini bertanya-tanya: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza, dan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami dua hal penting: seberapa parah kerusakan yang telah terjadi dan bagaimana gencatan senjata serta kebijakan politik akan mempengaruhi proses rekonstruksi.
Perang yang terjadi di Gaza telah menyebabkan kerugian jiwa yang sangat besar. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 46.000 orang Palestina gugur sejak dimulainya serangan besar-besaran pada Oktober 2023. Lebih dari setengah dari korban tersebut adalah wanita dan anak-anak, yang menunjukkan betapa mengerikannya dampak perang terhadap warga sipil. Selain itu, lebih dari 250.000 orang terluka, banyak di antaranya dengan luka-luka parah yang akan mempengaruhi mereka seumur hidup.
Kerusakan fisik yang ditimbulkan juga sangat besar. PBB memperkirakan bahwa lebih dari 69% bangunan di Gaza rusak atau hancur, termasuk lebih dari 245.000 rumah yang telah hancur. Tak hanya rumah yang terkena dampaknya, infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, serta fasilitas air dan listrik juga rusak parah. Sebagian besar rumah sakit besar di Gaza tidak dapat beroperasi, sementara banyak keluarga terpaksa tinggal di pengungsian yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Gencatan Senjata dan Ketidakpastian Politik
Walaupun gencatan senjata yang terjadi di akhir 2024 memberi harapan untuk mengakhiri kekerasan, realitas politik di Gaza masih sangat kompleks. Gencatan senjata ini belum menyelesaikan persoalan terbesar: Siapa yang akan memerintah Gaza setelah perang berakhir?
Jika Hamas tetap berkuasa, blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir sejak 2007 akan terus membatasi pergerakan barang dan orang, serta mencegah masuknya bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza.
PBB memperkirakan bahwa jika blokade tetap ada, rekonstruksi Gaza bisa memakan waktu lebih dari 350 tahun, hal ini menunjukkan betapa sulitnya proses rekonstruksi ketika akses ke bahan bangunan dan peralatan konstruksi sangat terbatas. Tanpa perubahan dalam kebijakan blokade, pembangunan kembali Gaza akan berjalan sangat lambat, bahkan mungkin berhenti sama sekali.
Pembersihan puing-puing saja akan memakan waktu yang sangat lama. Berdasarkan data PBB, lebih dari 50 juta ton puing-puing tersebar di seluruh Gaza, yang setara dengan lebih dari 12 kali berat Piramida Agung Giza. Jika lebih dari 100 truk bekerja sepanjang waktu untuk mengangkut puing-puing ini, proses pembersihan ini bisa memakan waktu lebih dari 15 tahun. Itu pun baru tahap awal dari rekonstruksi.
Setelah pembersihan puing-puing selesai, pembangunan rumah, fasilitas medis, sekolah, dan infrastruktur lainnya harus dimulai. Namun, hal ini sangat bergantung pada keputusan politik internasional dan apakah Gaza dapat mengakses bahan bangunan yang diperlukan. Jika blokade tetap ada, pembangunan ini akan terus terhambat.
Tantangan terbesar dalam rekonstruksi Gaza adalah blokade yang masih berlaku. Jika blokade tetap diterapkan, rekonstruksi akan sangat sulit dilakukan. Gaza membutuhkan pasokan bahan bangunan dan peralatan konstruksi dalam jumlah besar, namun itu semua tergantung pada kebijakan yang diambil oleh Israel dan Mesir. Tanpa pencabutan blokade atau pelonggaran yang signifikan, Gaza akan tetap terperangkap dalam kondisi yang sulit.
Selain itu, tanpa kejelasan politik mengenai siapa yang akan memerintah Gaza setelah perang, banyak negara donatur internasional mungkin enggan berinvestasi dalam rekonstruksi wilayah ini. Gaza telah menjadi zona konflik yang tidak stabil, dan tanpa pemerintahan yang jelas, rekonstruksi yang berkelanjutan sulit untuk terwujud.
Gaza membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata dan bantuan darurat. Ia membutuhkan kebijakan yang mengizinkan aliran pasokan vital dan solusi politik yang memberikan stabilitas. Tanpa itu, waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza bisa terus melampaui anggaran dan harapan, sebuah kenyataan yang menyedihkan bagi jutaan orang yang terjebak dalam penderitaan ini.
(T.RS/S:Politico)