Jalur Gaza, NPC – Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan bahwa sekitar 200.000 pasien penderita penyakit kronis kini berada dalam kondisi darurat medis dan terancam meninggal dunia akibat blokade total seluruh jalur perbatasan oleh pihak Israel.
Blokade ini telah berlangsung lebih dari 50 hari tanpa jeda, menyebabkan runtuhnya sistem pelayanan kesehatan di wilayah yang terkepung dan hancur.
Khalil Al-Daqran, juru bicara Rumah Sakit Al-Aqsa di Gaza Tengah, menggambarkan situasi ini sebagai “bencana kesehatan total.” Penjajah Israel secara sistematis menargetkan sistem kesehatan Gaza. Anak-anak menjadi korban utama, entah melalui serangan langsung atau karena tak bisa mengakses obat-obatan penting.
Lebih lanjut, dr. Marwan Al-Hams, Direktur Rumah Sakit Lapangan Gaza, menyampaikan bahwa seluruh rumah sakit kini telah kehabisan obat-obatan, alat medis, dan bahan bakar.
“Kami tidak lagi bisa menerima korban baru. Ruang gawat darurat dan ICU telah penuh. Tim medis dipaksa memilih siapa yang akan dirawat dan siapa yang harus dibiarkan meninggal tanpa penanganan,” ungkapnya dalam pernyataan emosional seperti dilansir Middle East Monitor..
Situasi ini digambarkan oleh para dokter sebagai sebuah skenario pembunuhan sistematis. Bukan hanya akibat dari serangan, tapi karena kebijakan yang sengaja dirancang untuk mempercepat kehancuran Gaza melalui kelaparan, penyakit, dan absennya akses kesehatan.
Selama lebih dari tujuh pekan, Israel telah mencegah masuknya seluruh bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk obat, makanan, dan bahan bakar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataannya menyebutkan bahwa lebih dari 12.000 orang, termasuk ribuan anak-anak, kini membutuhkan evakuasi medis segera dari Gaza. Namun, evakuasi ini terhenti total akibat penutupan perbatasan Rafah dan larangan akses terhadap tim penyelamat internasional.
Sementara itu, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa sejak Israel kembali menggempur Gaza pada awal April, sebanyak 420.000 warga Palestina kembali mengungsi.
Rumah sakit-rumah sakit yang masih tersisa beroperasi di bawah ancaman serangan rudal dan mengalami kelumpuhan total. Dari 36 rumah sakit di seluruh Jalur Gaza, hanya 10 yang masih berfungsi, dan sebagian besar diantaranya hanya berfungsi secara parsial.
Rumah Sakit Al-Shifa, pusat rujukan terbesar di Gaza dengan 750 tempat tidur, telah hancur setelah dua minggu pengepungan oleh tentara Israel.
Sejak awal perang pada Oktober 2023, lebih dari 51.000 warga Gaza gugur akibat agresi brutal Israel.
Serangan terbaru pada 13 April 2025 menghancurkan Rumah Sakit Kristen Al-Ahli al-Arabi, salah satu dari sedikit fasilitas kesehatan yang masih berfungsi penuh. Dua hari kemudian, serangan rudal menghantam Rumah Sakit Lapangan Kuwait di zona aman Al-Mawasi, menewaskan satu petugas dan melukai sembilan tenaga medis.
Langkah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam menutup semua perbatasan secara brutal dan menargetkan sistem kesehatan adalah bentuk baru dari kekejaman perang. Ini bukan lagi sekadar operasi militer melawan kelompok bersenjata, tetapi perang sistematis terhadap rakyat sipil.
(T.RS/S:MiddleEastMonitor)