Analisis Perang Israel-Iran: Siapa yang Akan Tumbang Lebih Dulu?

Ditulis oleh: Robert Inlakesh*

Teheran, NPC – Saya pernah memprediksi bahwa Israel akan melancarkan serangan terhadap program senjata nuklir Iran, disertai dengan upaya pembunuhan terhadap pejabat tinggi. Namun, serangan awal yang diluncurkan Israel pada Jumat (13/06/2025) dengan membombardir Iran dan membunuh petinggi militer, politik, dan ilmuan nuklir Iran, ternyata jauh melebihi dugaan siapa pun.

Akhir pekan lalu, Israel memulai perang agresi ilegal tanpa provokasi terhadap Iran. Tujuan awalnya mungkin hanya menciptakan konflik yang bisa dikendalikan, tetapi kini tampaknya tujuan sebenarnya adalah upaya penggulingan rezim Iran. Jika aliansi AS-Israel benar-benar berniat menghancurkan Iran, maka dunia sedang menghadapi situasi yang sangat berbahaya.

Situasi ini masih terus berkembang, sehingga membuat prediksi yang akurat menjadi hal yang sia-sia. Namun, berbagai tanda-tanda yang muncul sebelum perang ini bisa membantu kita memahami gambaran besarnya.

Selama beberapa bulan terakhir, saya telah menulis untuk Palestine Chronicle dan mengungkapkan bahwa Israel kemungkinan akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Saya juga menyebut bahwa perseteruan antara Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hanyalah sandiwara politik.

Saya bukan satu-satunya yang menyimpulkan demikian, akan tetapi penting untuk menyoroti alasan di balik analisis tersebut, karena bisa memberikan pemahaman di tengah kekacauan perang ini.

Propaganda dari Think Tank Pro-Perang

Jika kita menelaah pernyataan think tank pro-perang di Washington DC, terlihat jelas bahwa pesan mereka hampir seragam: Iran sedang lemah, sekaranglah waktu yang tepat untuk menyerang fasilitas nuklir mereka dalam pertempuran yang bisa dikendalikan.

Heritage Foundation, salah satu lembaga pemikir paling berpengaruh dalam pemerintahan Trump, menerbitkan ringkasan setebal 6 halaman pada 22 Mei. Mereka menyebut bahwa AS dan Israel bisa “mengakhiri program nuklir Iran secara efektif tanpa korban sipil yang signifikan” dan dapat “mencegah pembalasan besar”.

Judul ringkasan tersebut menggunakan istilah “Peace Through Strength”, retorika khas pemerintahan Trump. Frasa ini menyiratkan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika suatu negara memiliki kekuatan militer yang besar dan ditakuti, sehingga musuh tidak berani menyerang atau menantang.

Think tank pro-Israel seperti Washington Institute for Near East Policy (WINEP) dan Foundation for Defense of Democracies (FDD) juga menyuarakan hal yang sama. Keduanya punya peran besar dalam mendorong AS menyerang Irak pada 2003.

Bahkan Atlantic Council, yang dianggap lebih moderat, ikut mendorong narasi anti-Iran dan berupaya menggagalkan negosiasi nuklir antara AS dan Iran.

Serangan Israel Melampaui Ekspektasi

Berdasarkan pernyataan dari Trump dan Netanyahu, sudah terlihat bahwa AS akan membiarkan Israel memimpin serangan terhadap Iran. Namun, operasi darat Israel di Gaza telah gagal, menunjukkan kelemahan dalam kemampuan tempur di darat.

Israel mencoba menjalankan “perang tujuh front” seperti janji Netanyahu untuk meraih kemenangan total. Namun, sejauh ini tidak ada musuh yang berhasil dikalahkan, dan tekanan internal terhadap Netanyahu pun meningkat. Ia pun menyingkirkan pihak-pihak yang menentangnya dari lingkaran kekuasaan, dan menggantikannya dengan sekutu dan loyalis.

Serangan Israel ternyata melibatkan penghancuran infrastruktur sipil di Teheran, pembunuhan terhadap para komandan militer senior Iran, hingga membunuh sepuluh ilmuwan nuklir. Serangan ini juga menyebabkan ratusan penduduk sipil Iran meninggal dunia, termasuk perempuan dan anak-anak, yang memicu kemarahan luas.

Respons Iran Mengejutkan Dunia

Menurut empat analis militer yang saya hubungi (tiga di antaranya mantan tentara AS), Iran diperkirakan butuh waktu 2 hingga 5 hari untuk pulih dari serangan awal tersebut. Namun, Iran berhasil bangkit dalam waktu 15 jam, mengganti pemimpin militer yang tewas, mengaktifkan kembali sistem pertahanan udara, dan bahkan meluncurkan serangan rudal ke Tel Aviv.

Meski Israel berhasil mencetak kemenangan taktis dengan membunuh tokoh penting Iran, kebrutalan serangan mereka justru menyatukan rakyat Iran, termasuk mereka yang awalnya menentang pemerintah.

Putra mantan Shah Iran (yang digulingkan pada 1979) bahkan tampil di BBC dan membela pengeboman Israel terhadap rakyatnya sendiri, dengan menyatakan bahwa Israel tidak berniat menargetkan penduduk sipil. Namun, narasi ini tidak mendapat dukungan luas di dalam negeri.

Intelijen dan Perang Asimetris

Satu-satunya keunggulan besar Israel dalam perang ini tampaknya ada di bidang intelijen. Ribuan mata-mata dan agen tampaknya bekerja untuk Mossad, yang terungkap sejak perang dimulai. Mereka melakukan serangan drone, rudal berpemandu, hingga pemboman mobil, dan bahkan membakar bangunan untuk menambah kesan kerusakan besar akibat serangan udara Israel.

Kekuatan militer Iran jelas melampaui ekspektasi Barat. Jika bukan karena dukungan senjata dan logistik dari AS, Israel kemungkinan tidak mampu melanjutkan serangannya.

Perang Bisa Berubah Jadi Konflik Regional Besar

Skenario ke depan masih belum pasti. Namun, jika AS terlibat lebih jauh, kemungkinan besar mereka tidak akan bisa memberikan pukulan menentukan terhadap Iran.

Dalam contoh di Yaman, AS gagal menghancurkan basis rudal meskipun menggunakan pesawat pembom B-2 tanpa menghadapi pertahanan udara. Di Iran, AS akan menghadapi sistem pertahanan yang jauh lebih canggih.

Iran sendiri belum memainkan semua kartunya. Hizbullah di Lebanon, milisi Irak (PMU), dan pasukan Houthi di Yaman belum turun tangan secara penuh. Minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz, dan pangkalan AS di wilayah tersebut belum diserang langsung oleh Iran.

Jika perang ini berkembang menjadi konflik regional, Hamas, Hizbullah, Ansarullah (Houthi), dan PMU Irak kemungkinan akan terlibat lebih aktif. Alih-alih menggulingkan pemerintah di Teheran, bisa jadi justru rezim di Tel Aviv yang berada di ujung tanduk.

Namun demikian, ada risiko bahwa Israel akan menggunakan senjata nuklir sebagai opsi terakhir. Sebuah skenario paling mengerikan.

__

*Robert Inlakesh merupakan jurnalis, penulis, dan pembuat film dokumenter. Ia berfokus pada Timur Tengah, khususnya Palestina.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like