Ditulis oleh: Joy Metzler*
Gaza, NPC – Setahun yang lalu, saya masih menyusun dokumen untuk menjadi conscientious objector atau orang yang menolak wajib militer atas dasar hati nurani, agar bisa keluar dari Angkatan Udara AS. Saya sangat terkejut dan sedih melihat kekejaman yang dilakukan dengan menggunakan pajak rakyat Amerika dan jam kerja militer.
Hari ini, saya baru saja menyelesaikan puasa selama 40 hari dalam aksi bertajuk Veterans & Allies Fast for Gaza (Puasa Veteran dan Sekutu untuk Gaza). Puasa saya berakhir dengan penangkapan—saya dan 28 orang lainnya ditahan karena memblokir Jalan 2nd Avenue di depan Konsulat Israel di New York City.
Saya resmi mendapatkan status conscientious objector dan diizinkan keluar dari dinas pada 25 April 2025. Sekitar seminggu kemudian, Mike Ferner, mantan direktur Veteran for Peace, menghubungi saya dengan ide dari dirinya dan veteran lain, Phillip Tottenham. Mereka ingin melakukan aksi puasa di depan kantor Misi AS untuk PBB sebagai protes terhadap kelaparan buatan yang diciptakan oleh pemerintah AS dan Israel di Gaza. Tanpa ragu, saya langsung menjawab emailnya, “Saya ikut”.
Mengorbankan tubuh untuk tujuan besar adalah sesuatu yang saya kenal baik saat masih di militer. Namun kali ini, saya punya tujuan baru: mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza di bawah otoritas PBB dan menghentikan pengiriman senjata AS ke Israel. Dua tuntutan sederhana.
Saya menyiapkan tubuh saya dengan mengurangi asupan kalori secara bertahap agar tidak mengalami syok saat mulai puasa dengan hanya 250 kalori per hari. Angka ini diambil dari studi Oxfam yang menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Palestina di Gaza hanya menerima 250 kalori per hari. 250 kalori per hari adalah sekitar 10–15 persen dari kebutuhan normal manusia. Jumlah ini tidak cukup untuk mempertahankan fungsi tubuh secara sehat, dan jika berlangsung lama bisa menyebabkan malnutrisi parah, kerusakan organ, dan bahkan kematian.
Saya juga menjadi penanggung jawab utama media sosial tim, dan bersama peserta puasa inti lainnya, kami rutin ikut wawancara, aksi protes, dan berdiri di bawah terik matahari dari jam 09.30 hingga 15.00 di depan kantor Misi AS.
Setelah beberapa minggu, energi kami mulai habis.
Saya tiba di New York pada 28 Mei, dan para veteran peserta inti seperti Mike, Phil, Ken Ashe, dan Russell Brown, masih semangat. Saya dan Phil sering ikut berbagai acara untuk membagikan selebaran dan mengajak lebih banyak orang bergabung. Tapi perlahan, kondisi kami memburuk. Orang-orang yang tadinya bersemangat kini berjalan lesu seperti zombie. Sekitar pertengahan aksi, kami bahkan memohon Mike untuk pergi ke rumah sakit veteran karena kondisinya sangat buruk. Ternyata, kadar kalium dalam tubuhnya sangat rendah dan mengancam nyawanya.
Selama aksi puasa, berita buruk terus berdatangan. Amerika Serikat memveto resolusi PBB yang menyerukan bantuan kemanusiaan dan gencatan senjata. Meski ada resolusi “Uniting for Peace” di Majelis Umum PBB, pembantaian tetap berlanjut. Ratusan penduduk sipil Palestina dibunuh setiap hari. Kelaparan dan kekerasan terus meningkat. Aksi global untuk Gaza dibubarkan secara paksa oleh otoritas Mesir. Bahkan ada serangan dari Israel dan AS ke Iran.
Kelaparan memberi dampak fisik dan mental yang luar biasa pada kami semua.
Lalu tiba hari ke-40. Hari yang telah kami siapkan sejak awal. Kami sepakat bahwa akhir puasa ini harus bermakna. Maka, kami merencanakan dua hal: menutup jalan di depan Konsulat Israel sambil membacakan nama-nama anak-anak Palestina yang terbunuh, dan membiarkan Mike menumpahkan darah palsu di depan Misi AS. Hari itu, 29 orang ditangkap, termasuk para veteran, aktivis dari Jewish Voice for Peace, dan sekutu dari berbagai negara bagian.
Apa yang kami capai?
Meski tuntutan kami belum dipenuhi, kami berhasil mencapai banyak hal. Kami membuka percakapan, memperluas aksi puasa menjadi gerakan global yang diikuti hampir 800 orang dari seluruh dunia, dan mengingatkan para diplomat PBB serta staf Misi AS bahwa masyarakat dunia mendukung Palestina.
Secara pribadi, saya kini lebih memahami penderitaan rakyat Palestina. Saya tahu rasanya tubuh mulai menyerah, dan melihat orang-orang yang saya sayangi juga mengalami hal yang sama. Namun kami masih bisa berhenti, berobat, atau makan. Penduduk Palestina Palestina tidak punya pilihan itu. Para orang tua di Gaza harus menyaksikan anak-anak mereka kelaparan, sementara bantuan ditahan.
Saat saya duduk di sel tahanan, saya masih bisa membuat rencana untuk malam itu. Tapi jika penduduk Palestina ditangkap, mereka bisa saja hilang dan tidak pernah kembali. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana menjaga gerakan ini tetap hidup? Siapa yang akan melanjutkan perjuangan ini?
Tuntutan terakhir kami adalah: Lanjutkan dan tingkatkan tekanan.
Situasi di Gaza sudah jauh melampaui batas kemanusiaan. Tanggung jawab untuk menentang genosida ada di tangan semua orang di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Jika lembaga-lembaga internasional tidak bertindak, maka kita yang harus bertindak. Kita harus melakukan aksi damai, boikot, mogok, dan bila perlu, mempertaruhkan tubuh kita.
Kami telah menutup babak puasa ini, tapi semangat kami belum padam. Para peserta puasa, dari mana pun mereka berasal, siap untuk terus melawan dengan seruan: akhiri genosida, hentikan apartheid, dan bebaskan Palestina.
______
*Joy Metzler adalah seorang veteran Angkatan Udara Amerika Serikat yang baru saja mengundurkan diri dari dinas militer. Ia memutuskan keluar karena menolak pendanaan dan dukungan militer AS terhadap genosida yang terjadi di Gaza, Palestina. Saat masih aktif berdinas, Joy mulai bersuara dan bergabung dengan kelompok Veteran for Peace (Veteran untuk Perdamaian). Ia terus melakukan advokasi dengan ikut serta dalam aksi puasa selama 40 hari di New York City.
(T.FJ/S: Mondoweiss)