Ketahanan Pendidikan dan Teknologi Gaza di Tengah Genosida

(Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Pendidikan dan teknologi telah lama menjadi tumpuan hidup masyarakat di Jalur Gaza.  Namun, rangkaian konflik dan serangan bersenjata, termasuk perang genosida yang meletus sejak 2023, telah meremukkan infrastruktur pendukungnya. Meski terimpit kehancuran, keterbatasan fasilitas, dan ancaman keselamatan, anak-anak, para pendidik, hingga generasi muda Gaza pantang menyerah untuk terus belajar demi merawat asa masa depan mereka.

Di Tengah Puing, Sekolah Kembali Dibuka 

Pembukaan kembali sekolah-sekolah di Jalur Gaza bukanlah hal yang biasa, melainkan sebuah pertaruhan untuk merebut kembali potongan kehidupan yang sempat hilang. Di tengah puing-puing bangunan dan ancaman keamanan yang belum sepenuhnya mereda, kembalinya aktivitas belajar tatap muka menghadirkan secercah harapan di tengah trauma panjang. Sekolah-sekolah yang kini menjelma menjadi deretan tenda darurat di atas tanah berdebu menjadi saksi bisu kegigihan anak-anak dan para orang tua untuk mempertahankan hak atas pendidikan.

Data Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina mencatat, sekitar 541.000 siswa kembali bersekolah ketika tahun ajaran baru dimulai pada 19 September, seiring meredanya eskalasi kekerasan pasca-gencatan senjata Oktober 2025. Angka ini menunjukkan pemulihan bertahap dibandingkan Januari sebelumnya, ketika 317.332 siswa belajar di ruang darurat dan 120.000 siswa lainnya menggantungkan pembelajaran pada sekolah virtual yang diajar oleh guru-guru dari Tepi Barat. Sekolah Kotamadya Gaza di al-Katiba adalah satu dari sekian banyak ruang belajar sementara berbasis tenda yang menjadi tumpuan harapan tersebut.

Di balik angka-angka itu, terdapat perjuangan emosional dari jutaan keluarga. Bagi Rana Totah (30 tahun), momen mengantar kedua putranya ke sekolah di al-Katiba terasa sangat istimewa. Setelah hampir tiga tahun kehidupan keluarganya terdisrupsi akibat perang yang memaksa mereka mengungsi dari lingkungan Zeitoun, mengantar anak-anak kembali ke sekolah adalah kemenangan kecil.

“Jujur saja, hari ini adalah hari yang indah bagi saya. Rasanya bahkan seperti hari raya Idul Fitri,” ungkap Totah kepada Al Jazeera.

Momen ini menandai kembalinya rutinitas sekolah tatap muka, setelah sebelumnya Totah terpaksa mengandalkan kelas informal relawan di tempat pengungsian Khan Younis yang penuh ketidakpastian. Bagi Totah, pendidikan adalah fondasi utama kehidupan yang wajib dipertahankan, meskipun anak-anak kerap harus membagi fokus untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar, seperti mengantre air bersih.

Semangat yang sama juga terpancar dari Osama Alayleh (11 tahun). Siswa kelas lima yang bercita-cita meraih peringkat pertama ini dengan antusias mengikuti pelajaran bahasa Arab, meski ruang kelasnya hanyalah sebuah tenda darurat tanpa meja dan kursi.

“Apa boleh buat? Tidak apa-apa. Yang penting kita bisa belajar,” tuturnya mantap.

Keterbatasan Fasilitas dan Ruang Belajar Darurat

Meskipun aktivitas belajar-mengajar kembali berdenyut, realitas di lapangan masih sangat memprihatinkan. Laporan UNICEF menunjukkan bahwa hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza mengalami kerusakan sejak Oktober 2023, dengan lebih dari 93 persen di antaranya memerlukan rekonstruksi total atau rehabilitasi berat. Akibatnya, sekitar 700.000 anak kehilangan akses pendidikan formal tatap muka selama hampir tiga tahun ajaran berturut-turut, dan 420.000 anak di antaranya sama sekali belum pernah merasakan ruang kelas formal.

Di sebuah tenda darurat, Nesma Nahid Abu Asim, seorang guru matematika yang mengajar sejak 2010 melalu program UNICEF, terus membagikan ilmunya. Para siswanya duduk berdesakan di atas kasur dengan buku catatan di pangkuan. Pengepungan yang terus berlangsung berdampak pada parahnya krisis alat tulis, buku pelajaran, hingga meja dan kursi.

Kondisi senada terlihat di Sekolah Ahbab Shujayea yang berlokasi di dekat area pelabuhan Kota Gaza. Direktur sekolah, Inaam al-Batreekhi, mengungkapkan bahwa sekolah darurat yang dipimpinnya menampung lebih dari 300 siswa pengungsi dari sembilan kamp sekitar, dari kelas satu hingga kelas enam. Tanpa adanya fasilitas dasar, siswa kelas rendah terpaksa belajar dengan beralaskan kardus di atas tanah.

“Hari ini kita bisa belajar dan duduk di tanah. Tapi besok, saat musim hujan tiba, kita tidak akan bisa lagi,” ungkap al-Batreekhi. Selain keterbatasan alat tulis akibat pembatasan pengiriman bantuan, jam belajar di sekolah ini juga terpaksa dipersingkat dari pukul 08.00 hingga 11.00 pagi akibat pertimbangan keamanan dan potensi tembakan dari arah laut.

 

Anak-anak Palestina kembali belajar di dalam tenda darurat dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Di seluruh pelosok Gaza, sarana dan sumber daya pendidikan kini menjadi barang yang amat langka. (Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Pembelajaran Teknologi dan Inovasi Masa Depan

Perjuangan untuk menjaga api pengetahuan tidak berhenti pada tingkatan sekolah dasar dan menengah. Di Deir el-Balah, Gaza tengah, sekelompok remaja berkumpul di sekeliling meja dalam proyek bertajuk The Next Gen Team: Rising Robotics Engineer Project. Menggunakan papan pengontrol sirkuit Arduino sederhana dan beberapa kabel, mereka mempelajari dasar-dasar robotika, sistem alarm, dan pemrograman.

Inovasi sederhana yang mereka kembangkan berpotensi melahirkan teknologi penyelamat jiwa di masa depan, seperti sistem deteksi dini kebocoran gas, peringatan kebakaran, hingga bantuan pencarian korban terperangkap di bawah reruntuhan. Hamza al-Atrash (16 tahun), salah satu peserta program, menegaskan tekadnya: “Kurangnya perangkat bukan berarti kami berhenti. Hal itu justru mendorong kami untuk mencari solusi dan memanfaatkan alat-alat sederhana yang kami miliki.”

Sebelum perang genosida, Gaza memiliki ekosistem teknologi yang cukup berkembang dengan keberadaan universitas, inkubator bisnis, dan pusat pelatihan rintisan (startup). Sektor teknologi informasi (TI) bahkan menjadi pendorong ekonomi bernilai tinggi yang mengarahkan 80 persen kegiatannya ke pasar luar negeri dan menyerap ribuan lulusan perguruan tinggi.

Pemandangan inkubator teknologi di Gaza sebelum perang genosida, tempat para siswa menerima pelatihan di bidang teknologi dan inovasi. (Foto: Iyad Al-Qatrawi/Al Jazeera)Namun, perang genosida merusak ekosistem ini secara signifikan. Kerugian langsung pada sektor pendidikan diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar dolar AS. Sebanyak 17 lembaga pendidikan tinggi hancur total atau sebagian, merenggut hak belajar 620.000 siswa sekolah menengah dan 90.000 mahasiswa. Tragisnya, lebih dari 20.228 siswa, 830 tenaga pendidik, serta 194 ilmuwan dan akademisi gugur dalam konflik ini.

Spesialis ekonomi Ahmad Abu Qamar memperkirakan industri TI Gaza kini beroperasi di bawah 25 persen dari kapasitas normalnya, dengan 70 persen perusahaan terpaksa berhenti beroperasi. Harga perangkat teknis seperti komputer, server, dan kabel jaringan melonjak hingga 600 persen akibat hambatan impor, sementara sekitar 30.000 profesional TI kehilangan pekerjaan di tengah lonjakan tingkat kemiskinan yang menembus 90 persen.

Pakar teknologi Abdullah Altahrawi dari UCAS Technology Incubator menambahkan bahwa dari lima inkubator utama sebelum perang, kini hanya dua yang beroperasi kembali pasca-gencatan senjata, yaitu UCAS dan Pusat Inovasi Ma’an dengan kapasitas tak lebih dari 20 persen. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 80 persen tenaga ahli dan profesional berkeahlian tinggi telah meninggalkan Gaza (brain drain), meninggalkan tantangan besar dalam upaya pemulihan sektor digital wilayah tersebut.

Insinyur Bahaa al-Masri saat memandu lokakarya pelatihan robotika dan sistem alarm bagi anak-anak, dengan memanfaatkan komponen elektronik sederhana. (Foto: Iyad Al-Qatrawi/Al Jazeera)

Rekam Jejak Ketahanan Pendidikan di Gaza

Krisis pendidikan di Jalur Gaza sejatinya merupakan perjuangan berulang yang terus diuji dari waktu ke waktu. Jauh sebelum konflik besar terkini, lembaga internasional seperti Badan Bantuan dan Pengungsi PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) telah berulang kali melakukan pemulihan darurat.

Sebagai gambaran ketangguhan sistem ini, pasca-konflik pada musim panas beberapa tahun lalu (seperti pada tahun ajaran 2021-2022 yang didahului pertempuran yang menewaskan 256 warga Palestina), UNRWA mampu dengan cepat memperbaiki dan membuka kembali 183 sekolah bagi lebih dari 290.000 siswa pengungsi, serta menampung 31.000 siswa baru.

Ketangguhan histori tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar warga Gaza tidak pernah padam. Meskipun kini gedung-gedung sekolah yang hancur berganti menjadi deretan tenda yang sempit, tekad para siswa, guru, dan inovator muda Gaza tetap kokoh. Di tengah puing-puing bangunan dan keterbatasan alat, mereka terus melangkah, meyakini bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah kunci utama untuk merebut kembali masa depan dan membangun kembali tanah air mereka.

 

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Maram Humaid, “Back to school in Gaza: Learning in tents after years of disruption”, Al Jazeera, September 20, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/9/20/back-to-school-in-gaza-learning-in-tents-after-years-of-disruption

Iyad Al-Qatrawi, “Lacking equipment, but not ambition: Gaza students try to keep up with tech”, Al Jazeera, September 19, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/9/19/lacking-equipment-but-not-ambition-gaza-students-try-to-keep-up-with-tech

https://www.unrwa.org/newsroom/photos/unrwa-schools-frontline-going-back-school-gaza

 

You might also like