Di bawah langit Palestina yang kian tertutup jelaga, Jalur Gaza kian tertelan oleh ekspansi pendudukan Israel. Israel dilaporkan telah menduduki 59% wilayah Gaza. Menurut laporan Radio Angkatan Darat Israel pada hari Minggu (3/5), perluasan ini disinyalir menjadi ancaman nyata atas dimulainya kembali genosida di wilayah tersebut.
Zionis meyakini bahwa saat ini merupakan momentum terbaik untuk melumpuhkan perlawanan Palestina secara total. Ambisi tersebut pada dasarnya telah terealisasi melalui kehancuran masif di permukaan tanah Gaza, di mana 90 persen infrastruktur sipil telah hancur atau rusak total. Perluasan wilayah ini pun menjadi hulu dari segala bencana kemanusiaan yang merambat luas; merobek tatanan sosial dan menghancurkan martabat warga hingga ke pelosok Tepi Barat.
Seiring dengan menguatnya cengkeraman militer Zionis di Gaza, gelombang kekerasan pun kian beringas menghantam wilayah Tepi Barat. Di sana, pendudukan tidak hanya hadir dalam bentuk patroli bersenjata, tetapi juga dalam bentuk serangan fisik yang merambah ke pemukiman-pemukiman warga. Serangan demi serangan kini menjadi ketakutan harian yang menghantui setiap keluarga saat mereka memejamkan mata.
Kantor berita resmi Palestina, Wafa pada 1 Mei 2026, melaporkan bahwa darah warga kembali membasahi bumi di kota Jalud, hingga tanah Hebron, akibat serangan mendadak pasukan pendudukan. Aksi represif ini berlangsung tanpa belas kasih; bahkan seorang wanita berusia 71 tahun di Jabal Jalis turut menjadi korban luka dalam sebuah penyerbuan yang brutal. Penindasan pun meluas hingga ke lingkungan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, melalui penangkapan massal yang kian menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang aman bagi warga Palestina.
Kekejian serupa terjadi di wilayah Masafer Yatta, di mana penindasan menyasar sumber penghidupan paling mendasar. Pasukan pendudukan membabat paksa puluhan pohon zaitun yang telah dirawat lintas generasi, sebuah simbol ketahanan dan harga diri bangsa. Tidak berhenti di situ, mereka sengaja melepaskan ternak untuk merusak ladang petani yang tengah bersiap panen. Tindakan ini merupakan strategi nyata untuk memastikan warga tidak hanya kehilangan tanah untuk berpijak, tetapi juga kehilangan hasil bumi untuk menyambung hidup
Krisis ekonomi yang lahir dari rahim pendudukan ini akhirnya menciptakan tragedi paling sunyi di balik tembok pemisah Israel di wilayah Al-Ram, sebelah utara Yerusalem. Sejak pecahnya agresi di Gaza, akses kerja bagi warga Palestina ditutup secara total, menyebabkan angka pengangguran meroket hingga 85 persen di Gaza dan 38 persen di Tepi Barat. Bagi seorang kepala keluarga, bekerja bukan lagi menjadi upaya untuk meraih kesejahteraan, melainkan sebuah misi bunuh diri demi sesuap nasi.

Tragedi ini tercermin dengan sangat menyakitkan dalam kisah Yousef Aqel. Sebagai ayah dari dua anak, Yousef kehilangan sumber penghasilan utamanya setelah otoritas Israel membekukan izin kerjanya. Selama berbulan-bulan, ia terjebak dalam kemiskinan yang mencekik, hingga akhirnya keputusasaan membawa langkahnya ke tembok perbatasan Al-Ram. Dengan tangan gemetar, ia nekat menaiki tangga untuk menyeberangi dinding beton tersebut demi mencari pekerjaan di balik perbatasan.
Namun, tangga yang ia daki justru membawanya pada maut. Saat berada di puncak tembok, pasukan pendudukan melepas tembakan tepat ke arah kedua kaki Yousef. Ia jatuh bersimbah darah dan harus berjuang melawan maut selama sepuluh hari di ruang perawatan intensif sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kini, lebih dari empat bulan setelah kepergiannya, sang saudara laki-laki, Haitham, yang berada di sisinya saat penembakan itu terjadi, masih terus menceritakan detail teror tersebut kepada kantor berita WAFA.
Kisah Yousef bukanlah peristiwa tunggal; ia adalah luka kolektif bagi bangsa Palestina. Menurut statistik dari Federasi Umum Serikat Buruh Palestina, sepanjang tahun 2025 saja, sebanyak 18 pekerja tewas dengan cara yang serupa, ditembak layaknya hewan buruan saat mereka hanya mencoba mencari nafkah demi menyambung hidup.
Saeed Imran dari Federasi Umum Serikat Buruh Palestina mencatat bahwa para pekerja telah menghadapi kondisi ekstrem selama lebih dari dua tahun. Larangan akses ke wilayah pendudukan memaksa mereka mempertaruhkan nyawa melalui rute-rute berbahaya yang kerap berujung pada kematian, cedera, atau penangkapan. Sejak 7 Oktober 2023, tercatat sekitar 50 pekerja tewas dan 38.000 pekerja palestina lainnya ditangkap. Sebagian dari mereka masih mendekam di penjara, menghadapi proses hukum yang timpang dan denda hingga 10.000 shekel, sebuah beban finansial yang semakin mencekik di tengah krisis.
Data terbaru Federasi Umum Serikat Buruh Palestina menunjukkan potret suram: sekitar 550.000 warga kini menganggur. Angka pengangguran melonjak drastis hingga mencapai 85% di Gaza dan 38% di Tepi Barat, sebuah level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di titik nadir ini, statistik tersebut tergambar dalam tatapan nanar para ayah seperti Abu Mohammad di Tubas, yang hanya bisa melihat anak-anak mereka terancam putus sekolah karena ketiadaan akan biaya pendidikan. Segala upaya mencari nafkah di pasar lokal telah lumpuh total akibat blokade dan penutupan jalan secara masif oleh militer Zionis.
Kini, perluasan pendudukan hingga mencakup 59% wilayah Gaza bukan sekadar angka geografis, melainkan penyusutan ruang hidup bagi seluruh rakyat Palestina dari Gaza hingga Tepi Barat. Tanah air mereka telah menjelma menjadi penjara raksasa tanpa pintu keluar. Warga terjebak dalam pilihan yang mustahil: mati diterjang peluru demi mencari sesuap nasi untuk keluarga, atau perlahan menyerah pada kelaparan di dalam rumah mereka sendiri yang kian terasing dari dunia luar.
Oleh karena itu, dukungan dunia tidak boleh berhenti pada simpati, melainkan harus diwujudkan melalui tekanan diplomatik yang tegas untuk menghentikan ekspansi. Solidaritas kemanusiaan merupakan komitmen kolektif yang harus terus ditumbuhkan demi mengembalikan hak dasar rakyat Palestina untuk hidup berdaulat di tanah mereka sendiri, sebuah hak untuk bernapas tanpa bayang-bayang peluru dan tumbuh besar di atas tanah yang merdeka.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Israa Ghurani, “Palestinian workers face deadly risks crossing Israeli separation wall for work”, WAFA, May 01, 2026. https://english.wafa.ps/Pages/Details/170000
Maram Humaid, “On May Day, Gaza’s workers find whatever source of income they can”, Al Jazeera, May 01, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/5/1/on-may-day-gazas-workers-find-whatever-source-of-income-they-can
Zein Khalil, “Israeli occupation of Gaza Strip expands to 59% despite truce: Report”, Anadolu Agency, May 03, 2026. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israeli-occupation-of-gaza-strip-expands-to-59-despite-truce-report/3925706
Middle East Monitor, “Israeli occupiers injure at least 7 Palestinians in West Bank”, MEMO, May 02, 2026. https://www.middleeastmonitor.com/20260502-israeli-occupiers-injure-at-least-7-palestinians-in-west-bank/