Pada 2013, dunia akademik internasional dikejutkan oleh keputusan Stephen Hawking, fisikawan teoritis ternama, yang membatalkan kehadirannya dalam Israeli Presidential Conference di Yerusalem. Awalnya, keputusan ini dianggap berkaitan dengan masalah kesehatannya. Namun, kemudian terungkap bahwa sikap Hawking sebenarnya adalah bentuk dukungan terhadap seruan boikot akademik yang disuarakan para akademisi Palestina melalui agenda Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS).
Tindakan Hawking menjadi salah satu momen penting yang menghubungkan ranah akademik dengan solidaritas politik, sekaligus memicu perdebatan global tentang batas etika akademik di tengah panasnya isu Palestina-Israel. Langkah ini juga kerap dikaitkan dengan kampanye Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS), khususnya inisiatif Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI), yang menyerukan pemutusan hubungan akademik dengan institusi Israel hingga berakhirnya pendudukan atas Palestina.
Siapa yang tak mengenal Stephen Hawking? Seorang fisikawan teoritis yang dianggap sebagai salah satu pemikir paling brilian di dunia melalui kontribusinya dalam sains, buku-buku ilmiah, kuliah, serta penampilannya di televisi. Hal ini juga dibuktikan dengan banyaknya film biografi tentangnya. Ia lahir pada 1942 dan wafat pada 2018, meninggalkan tiga orang anak. Sebagai profesor, ia merintis penemuan baru dalam hukum-hukum dasar yang mengatur alam semesta, termasuk penemuan bahwa lubang hitam (black hole) memiliki suhu dan menghasilkan radiasi yang kini dikenal sebagai radiasi Hawking. Salah satu karyanya yang fenomenal dan terlaris adalah A Brief History of Time.[1]
Selain itu, Hawking dikenal karena perjuangannya melawan penyakit neuron motorik selama puluhan tahun, yang membuatnya harus menggunakan kursi roda dan berkomunikasi melalui suara komputer. Dengan kiprah dan keteguhan tersebut, sosok Hawking menjadi fenomenal sekaligus dihormati masyarakat dunia, termasuk publik Israel. Oleh karena itu, ketika Hawking menolak menghadiri konferensi di Israel, keputusannya memicu perdebatan panas, terutama saat itu isu boikot terhadap Israel belum semarak sekarang.
Dari yang dikabarkan, Stephen Hawking menerima undangan sebagai pembicara utama dalam Israeli Presidential Conference yang diselenggarakan di Yerusalem (yang diklaim Israel sebagai ibu kota). Konferensi tersebut digelar pada 18–20 Juni 2013, bekerja sama dengan Universitas Ibrani Yerusalem. Acara ini mempertemukan ilmuwan, akademisi, seniman, dan politisi untuk berdiskusi mengenai berbagai isu, seperti pendidikan dan kepemimpinan politik. Konferensi tersebut juga disponsori secara pribadi oleh presiden Israel, Shimon Peres untuk sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-90.[2]
Pada awalnya, Universitas Cambridge sebagai basis akademis Hawking, melaporkan bahwa ketidakhadiran Hawking disebabkan oleh kondisi kesehatannya yang menurun. Namun, pers The Guardian kemudian merilis sebuah surat yang dikirim Hawking kepada penyelenggara konferensi. Dalam surat bertanggal 3 Mei itu, Hawking secara tegas menarik diri dari acara sebagai bentuk penghormatan terhadap seruan boikot akademik oleh para akademisi Palestina. Isi surat tersebut menyatakan:[3]
“Saya menerima undangan Konferensi Presidensial dengan tujuan agar hal ini tidak hanya memungkinkan saya untuk menyampaikan pendapat saya tentang prospek penyelesaian damai, tetapi juga memungkinkan saya untuk memberikan ceramah tentang Tepi Barat. Namun, saya telah menerima sejumlah surel dari akademisi Palestina. Mereka sepakat bahwa saya harus menghormati boikot tersebut. Oleh karena itu, saya harus mengundurkan diri dari konferensi tersebut. Seandainya saya hadir, saya akan menyatakan pendapat saya bahwa kebijakan pemerintah Israel saat ini kemungkinan besar akan membawa bencana.”
Penolakan Hawking untuk menghadiri konferensi tersebut memicu diskusi panas. Di satu sisi, ia mendapat kemarahan dan kecaman dari pihak yang pro-Israel. Namun, di sisi lain ia menerima dukungan luas dari pihak pro-Palestina, termasuk dari masyarakat yang mendukung gerakan BDS. Salah satunya datang dari British Committee for Universities of Palestine, organisasi akademisi yang berbasis di Inggris yang telah mendukung langkah Hawking. Omar Barghouti sebagai salah satu inisiator gerakan BDS juga menyampaikan penghormatannya,
“Masyarakat Palestina sangat menghargai dukungan Stephen Hawking terhadap boikot akademis Israel.”
Keberanian Hawking dipandang akan membangkitkan kembali minat para akademisi dunia untuk melakukan boikot akademik.[4]

Dua media arus utama Israel, The Jerusalem Post dan Haaretz, membingkai hubungan Stephen Hawking dengan Israel yang diniai sebagai hubungan “cinta-benci”. Hawking memiliki kedekatan dengan Israel sejak 1970-an dan telah mengunjungi negara paria tersebut selama empat hingga lima kali. Ia bahkan pernah berdebat dengan Prof. Jacob Bekenstein dari Universitas Ibrani Yerusalem mengenai teori bahwa lubang hitam dapat memancarkan radiasi. Perdebatan tersebut akhirnya melahirkan pengembangan teori entropi Bekenstein–Hawking. Kunjungan terakhir Hawking ke Israel terjadi pada 2006 sebagai tamu Kedutaan Besar Inggris di Tel Aviv. Dalam kunjungannya itu, ia memberikan kuliah umum di berbagai universitas Palestina dan Israel.[5]
Namun, pada tahun-tahun berikutnya, pandangan Hawking terkait Palestina dan Israel mulai dipengaruhi oleh pemikiran Noam Chomsky, seorang ahli bahasa, sejarawan, ilmuwan, kritikus sosial, sekaligus profesor yang lahir dari keluarga Yahudi Ashkenazi yang anti-Zionis.[6] Sikap kemanusiaan tersebut mendorong Hawking menolak menghadiri undangan konferensi di Israel pada 2013 sebagai bentuk dukungannya terhadap gerakan BDS.
Dukungan Hawking terhadap Palestina juga tampak pada beberapa pernyataannya di media sosial. Pada 2016, Hawking pernah mengunggah sebuah video ucapan selamat di laman facebook-nya kepada seorang wanita Palestina pemenang Global Teacher Prize 2016, Hanan Al Hroub. Dalam ucapannya, Hawking mengapresiasi perjuangan Hanan mendidik anak-anak yang mengalami trauma psikologis akibat konflik dan paparan kekerasan. Setahun kemudian, pada 2017, Hawking kembali menggunakan Facebook untuk mengajak para pengikutnya memberikan dukungan finansial kepada Sekolah Fisika Lanjutan Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel. Hawking mengatakan, “Saya mendukung hak para ilmuwan di mana pun untuk kebebasan bergerak, publikasi, dan kolaborasi.”[7]
Boikot, Divestasi, Sanksi (BDS) merupakan gerakan non-kekerasan yang berdiri sejak 2005 dengan fokus menentang pendudukan Israel atas Palestina. Sejak awal, lebih dari 170 kelompok masyarakat sipil Palestina menyerukan partisipasi masyarakat dunia untuk bergabung dengan BDS. Kampanye ini terinspirasi dari perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan. Dalam sejarahnya, Israel telah menduduki dan menjajah wilayah Palestina, mendiskriminasi rakyatnya, melakukan genosida, serta menolak hak pengungsi rakyat Palestina untuk kembali ke rumahnya. Di sisi lain, komunitas internasional telah gagal menyeret Israel ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan deretan kejahatannya. Pada saat yang sama, banyak lembaga dan perusahaan global justru terlibat dalam menopang penindasan terhadap rakyat Palestina.[8]
Hingga kini, semakin banyak masyarakat dunia yang bergabung dalam gerakan BDS, termasuk dengan mendesak pemerintah dan perusahaan untuk mengakhiri investasi mereka di Israel. Banyak perusahaan yang telah andil dalam memberikan supportnya terhadap Israel, seperti Hewlett-Packard yang menyediakan sistem informasi di pos militer Israel, Caterpillar yang buldosernya digunakan dalam perusakan rumah-rumah rakyat Palestina, dan perusahaan Elbit Systems yang memproduksi drone bersenjata untuk menyerang warga sipil di Gaza.[9]
Banyak komunitas internasional yang telah bergabung dengan BDS, seperti Jewish Voice for Palestine, The Israeli Committe against House Demolitions, Students for Justice in Palestine, American Studies Association, African National Congress, Irish Congress of Trade Unions, dan masih banyak lagi. Para musisi juga turut mendukung kampanya boikot dengan menolak tampil konser di Israel, seperti Roger Waters, The Roots, Lorde, dan Lauryn Hill. Selain itu, BDS juga memiliki gerakan boikot akademik Israel yang dinamakan Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI).[10] Sikap boikot akademis inilah yang pernah dilakukan oleh Stephen Hawking pada 2013 kala dirinya menolak undangan untuk hadir dalam konferensi kepresidenan di Israel.
Boikot akademis terhadap Israel merupakan bagian dari aksi non-kekerasan, yang mencakup pemutusan hubungan sosial dan budaya. Adapun dampak terbesar dari adanya boikot akademis adalah munculnya perhatian masyarakat dunia terhadap Palestina. Seperti halnya yang dilakukan Hawking, ia mendapat pujian sekaligus kecaman dari banyak pihak, tetapi hal ini menunjukkan suatu potensi kekuatan simbolis dari boikot akademis.[11]
Meski demikian, penting untuk memahami definisi serta panduan boikot akademik yang dikeluarkan oleh PACBI–BDS. Hal ini untuk mencegah tindakan gegabah yang justru membatasi kebebasan akademik. Menurut PACBI, fokus boikot akademis bukanlah untuk memutus akses ilmu pengetahuan, tetapi menghentikan legitimasi lembaga akademik yang menjadi bagian dari sistem penjajahan. Fokusnya adalah boikot institusional, bukan personal. Misalnya, memboikot universitas-universitas Israel yang berdiri di tanah ilegal atau yang terbukti mendukung pendudukan; memboikot konferensi, seminar, ataupun riset bersama yang disponsori lembaga Israel; serta memboikot kegiatan akademik yang memiliki proyek “normalisasi”, tapi berpura-pura netral. Termasuk juga memboikot program studi luar negeri di universitas Israel, serta para pejabat resmi seperti rektor, dekan, atau presiden universitas yang mewakili institusi Israel dan yang dikirim untuk kepentingan propaganda.
Sebaliknya, PACBI menegaskan bahwa individu akademisi Israel sebagai pribadi, selama mereka tidak mewakili negara atau lembaga resmi, tidak termasuk target boikot akademis. Diperkenankan pula diskusi atau debat dengan akademisi Israel secara personal selama tidak disponsori lembaga Israel. Begitu pula tetap sah dilakukan jka membaca karya tulis ilmiah akademisi Israel ataupun mengutip karya ilmuwan Israel. Sebab, tidak semua akademisi Israel pro-Zionisme dan selama karyanya bukan propaganda negara. Untuk panduan lengkapya dapat diakses melalui laman resmi BDS Movement berikut:https://bdsmovement.net/pacbi/academic-boycott-guidelines

Ilan Pappé, sejarawan sekaligus akademisi Israel yang anti Zionisme, menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan International Solidarity Movement pada 11 Juli 2013 terkait boikot akademis Israel. Ilan Pappé menuturkan bahwa dampak kampanye boikot, termasuk yang dilakukan oleh Stephen Hawking, telah mendorong orang-orang Israel memperhatikan Palestina. Menurutnya, sebagian besar warga Israel tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya tahu apa yang terjadi dari anak-anak mereka yang bertugas sebagai tentara Israel. Namun, anak-anak mereka tidak memberi tahu mengenai pos pemeriksaan, penangkapan, dan hal-hal buruk lainnya. Ia juga menambahkan,[12]
“Orang Israel bisa tahu jika mereka mau, mereka punya internet, tetapi mereka tidak mau. Misalnya di Tivon, lingkungan saya, semua orang memilih kubu kiri, tetapi jika Anda bertanya kepada mereka apakah mereka pernah melihat pos pemeriksaan atau tembok apartheid, atau apakah ada di antara mereka yang ingin pergi ke Tepi Barat dan melihat apa yang dilakukan tentara dan pemukim, mereka akan menjawab tidak.”
Sementara itu, Noam Chomsky, sejarawan Israel yang anti-Zionisme, menyangsikan efektivitas BDS. Menurutnya, boikot terhadap Israel tidak bisa langsung disamakan dengan boikot Afrika Selatan pada era apartheid, karena saat itu setiap tahap kampanye dilakukan secara selektif dan spesifik. Pada 2013, Chomsky juga meragukan seruan BDS terhadap Israel akan diterima oleh audiens Amerika Serikat.[13] Namun, situasi akademik global mulai berubah pasca peristiwa 7 Oktober 2023. Gelombang kampanye boikot dan protes mahasiswa meledak di berbagai kampus, dimulai dari Amerika Serikat dan menyebar ke dunia Barat lainnya. Gerakan tersebut mendorong para akademisi untuk mendesak universitas-universitas mencabut investasi dan kerja sama dengan institusi maupun perusahaan Israel.[14]
Penulis: Nadea Salsabila Putri
Sumber:
[1] Andre Pattenden, “Professor Stephen Hawking 1942-2018,” University of Cambridge, https://www.cam.ac.uk/stephenhawking.
[2] Daniel Cressey, “Hawking Decision Fuels Israel Debate,” Nature 497 (May 2013): 299.
[3] Harriet Sherwood and Matthew Kalman, “Stephen Hawking Joins Academic Boycott of Israel,” The Guardian, May 8, 2013, https://www.theguardian.com/world/2013/may/08/stephen-hawking-israel-academic-boycott; Harriet Sherwood, Matthew Kalman, and Sam Jones, “Stephen Hawking: Furore Deepens over Israel Boycott,” The Guardian, May 9, 2013, https://www.theguardian.com/science/2013/may/08/hawking-israel-boycott-furore.
[4] “How Stephen Hawking Supported the Palestinian Cause,” Aljazeera, March 14, 2018, https://www.aljazeera.com/news/2018/3/14/how-stephen-hawking-supported-the-palestinian-cause.
[5] Judy Siegel-Itzkovich, “Prof. Stephen Hawking’s Love-Hate Relationship with Israel,” The Jerusalem Post, March 14, 2018, https://www.jpost.com/international/prof-stephen-hawkings-love-hate-relationship-with-israel-545123; Judy Maltz, “A Brief History of Stephen Hawking’s Complicated Relationship With Israel,” Haaretz, March 1, 2018, https://www.haaretz.com/israel-news/2018-03-16/ty-article/stephen-hawkings-complicated-relationship-with-israel/0000017f-e6f9-dc7e-adff-f6fdcf490000.
[6] Siegel-Itzkovich, “Prof. Stephen Hawking’s Love-Hate Relationship with Israel.”
[7] “How Stephen Hawking Supported the Palestinian Cause,” Aljazeera, March 14, 2018, https://www.aljazeera.com/news/2018/3/14/how-stephen-hawking-supported-the-palestinian-cause.
[8] Agnes Bresee, “The Consumer’s Choice to Boycott,” Seattle University Law Review 48, no. 1 (2024): 188–90.
[9] Bresee, 190.
[10] Buchanan Waller, “The Right to Boycott: Anti-BDS Laws Violate the First Amendment to Protect Apartheid,” Minnesota Journal of Law & Inequality 42, no. 1 (2024): 13.
[11] Brian Martin, “Academics and Activism: Stephen Hawking and the Israel Boycott,” The Conversation, 2013, 4.
[12] “Second Interview with Ilan Pappé: ‘The Basic Israeli Ideology – Zionism – Is the Problem,’” International Solidarity Movement, July 11, 2013.
[13] Jon Dart, “Israel and a Sports Boycott: Antisemitic? Anti‐Zionist?,” International Review for the Sociology of Sport, 2015, 5–6.
[14] “Should Academic Institutions Boycott Israel? Two Scholars Debate Flora Cassen and Ilan Pappé,” The Guardian, June 1, 2024, https://www.theguardian.com/commentisfree/article/2024/jun/01/academic-institutions-boycott-israel-debate.