Dari hari ke hari, korban perang terus bertambah dan Israel masih terus melangsungkan praktik genosida secara terang-terangan. Rilis terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina pada 24 April 2025, mencatat bahwa korban meninggal di Gaza mencapai angka 51.305 orang yang hampir didominasi oleh perempuan dan anak-anak, dan banyak diantaranya yang belum dapat teridentifikasi. Terdapat 117.096 orang yang terluka akibat serangan Israel di Gaza.[1] Di Tepi Barat, jumlah korban meninggal berjumlah 954 orang dan yang terluka sekitar 8.072 orang.[2]
Disamping Israel terus berusaha membangun eksistensi kekuatannya di hadapan dunia sebagai entitas yang kebal hukum Internasional, kerugian ekonomi Israel tidak dapat ditutup-tutupi. Dalam sebuah rilis, pada 18 Januari 2025, dilaporkan bahwa Israel menderita kerugian sebesar $67 miliar atau setara dengan Rp 1.125 Triliun sebagai akibat genosida di Gaza. Kerugian ini termasuk $34 miliar dalam bentuk kerugian militer langsung dan $40 miliar dalam bentuk kerugian anggaran umum. Angka ini tercatat menjadi kerugian terbesar dalam sejarah pendudukan Israel.[3]

Sejak awal serangan pada Oktober 2023, anggaran Kementerian Pertahanan Israel sudah boncos, karena militer Israel melakukan perekrutan 300.000 tentara yang anggarannya mencapai biaya tertinggi sejak tahun 1973. Besarnya gelontoran anggaran penggunaan senjata untuk melancarkan praktik genosida di Gaza, ditambah dengan banyaknya tentara yang tewas dan terluka, menyebabkan makin banyaknya penyandang disabilitas fisik dan psikologis di kalangan tentara yang menyebabkan mereka tidak bisa kembali aktif bekerja.[4] Berdasarkan survey badan ketenagakerjaan Israel, 48% prajurit cadangan melaporkan kehilangan pendapatan signifikan sejak dimulai perang dan 41% mengatakan mereka telah diberhentikan atau dipaksa meninggalkan pekerjaan karena telah lama bertugas di ketentaraan.[5]
Menurut Kementerian Keuangan, biaya langsung bagi kas negara untuk satu hari bagi 100.000 prajurit cadangan adalah sebesar 70 juta shekel (untuk gaji), belum termasuk biaya tambahan untuk tempat tinggal logistik lainnya. Sehingga siperkirakan besaran biayanya mendekati 100 juta shekel per hari. Selain itu terdapat biaya yang tidak langsung, akibat berkurangnya hasil produksi yang mencapai angka 100 juta shekel. Dengan demikian, estimasi total yang harus dikeluarkan Israel adalah sebanyak 200 juta shekel per hari. Maka keterangan Kementerian Keuangan melaporkan bahwa, biaya perang untuk satu hari mencakup peralatan, amunisi, biaya gaji tentara cadangan adalah sebanyak 1 juta shekel, atau setara dengan Rp 4.400.000.000.000 (sekitar Rp 4,4 triliun per hari).[6]
Namun situasi ini rupanya belum menciptakan krisis yang memaksa Israel berhenti melakukan aksi Genosida di Gaza, karena Amerika Serikat (AS) dalam hal ini masih bertindak sebagai penyangga utama kebutuhan senjata Israel.[7] Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Brown University, tercatat bahwa selama lima dekade terakhir, Amerika Serikat menjadi pemasok utama senjata Israel. Pengiriman senjata sejak 7 Oktober mencakup 57.000 peluru artileri; 36.000 butir amunisi meriam; 20.000 senapan M4A1; 13.981 rudal antitank; dan 8.700 bom seberat 82.500 pound.[8] Kemungkinan angka ini sudah mengalami pertambahan.
Sekalipun ekonomi dan militer Israel belum mencapai titik kolaps karena ketergantungan berkelanjutan yang signifikan terhadap AS dalam sektor ekonomi dan teknologi canggih, kondisi ekonomi Israel terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Defisit fiskal terjadi dan utang luar negeri Israel diperkirakan mencapai 70 persen dari PDB di tahun 2025. Sedangkan pemerintah di saat yang sama dituntut untuk memotong anggaran di semua kementerian dan menaikkan pajak untuk membiayai perang dan meringankan beban utang luar negeri.[9]

Di sisi lain, gerakan protes sebagai desakan rakyat Israel terhadap pemerintahan Netanyahu semakin masif. Saat ini Israel sedang dilanda krisis konstitusional besar-besaran, salah satunya disebabkan adanya upaya pemerintah untuk meningkatkan kontrolnya terhadap hukum peradilan Israel. Kantor PM Israel diduga terlibat skandal politik dengan melakukan pelanggaran konstitusional. PM Israel mengirimkan pengajuan rahasia ke pengadilan sebagaimana yang dilaporkan oleh Bar, Pemimpin Shin Bet[10] Israel yang telah dipecat pada 21 Maret lalu.
Menyusul pemecatan Ronen Bar Pemimpin Shin Bet, aktivis Israel dalam beberapa hari terakhir melakukan demonstrasi massa untuk menolak pemecatan kepala Shin Bet dan Jaksa Agung Israel, yang dinilai sebagai tindakan Netanyahu untuk mendominasi semua kekuasaan dan lembaga negara. Pengunjuk rasa juga menyatakan kemarahannya akibat Netanyahu ingin melanjutkan perang genosida di Gaza, yang dinilai membahayakan nyawa para sandera Israel.

Pada Februari lalu, Kepala Staf Militer Israel yang baru diangkat, Eyal Zamir mengungkapkan terdapat perbedaan angka kematian yang signifikan antara laporan tentara Israel dengan angka yang sebenarnya. Tentara Israel merilis laporan dengan menyebutkan tedapat 844 perwira dan tantara Israel yang tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023, dan sekitar 5.696 orang terluka. Namun, angka ini jauh secara signifikan dengan kenyataan di lapangan. Israel seolah hendak menutup-nutupi fakta objektif seraya memainkan propaganda perang untuk menutupi kekalahannya. Zamir mengatakan, setidaknya ada 5.942 keluarga yang berduka sejak 7 Oktober 2023. Termasuk 15.000 orang tentara yang terluka fisik dan mental. Pernyataan ini dibenarkan Pakar Al Jazeera Azzam Abu Al-Adas.[11]
Rupanya upaya penutupan fakta ini sejalan dengan laporan Haartez pada Desember 2023. Haartez menyatakan, terdapat perbedaan besar antara jumlah tentara yang terluka yang dilaporkan oleh tentara Israel dibandingkan dengan catatan rumah sakit. Tentara Israel mengumumkan, sejak Oktober – Desember terdapat 1.593 orang tantara yang terluka, tetapi data Kementerian Kesehatan Israel menunjukkan jumlah sebenarnya yakni 10.548 orang. Laporan Haaretz bahkan memperkirakan bahwa pada 2030, sekitar 100.000 tentara Israel akan digolongkan sebagai penyandang cacat, dan hampir setenganya juga mengalami beberapa bentuk gangguan mental.[12]
Pada akhirnya, Israel kini menghadapi krisis multi-dimensi yang menggerogoti dari dalam: mulai dari kerugian ekonomi terbesar dalam sejarah, manipulasi data korban perang untuk menutupi kegagalan militer, meningkatnya tentara yang mengalami trauma dan disabilitas, hingga gelombang protes rakyat terhadap kepemimpinan Netanyahu yang otoriter. Di balik ilusi kekuatan militer dan dukungan Amerika Serikat, Israel tengah runtuh secara moral, sosial, dan konstitusional.
Sumber:
[1] Palestinian Ministry of Health, Casualties – Last Update Date April 13, 2025, n.d.
[2] Ibid.
[3] “Israel Admits Huge Losses Resulting from Attack on Gaza Strip,” Middle East Monitor, January 18, 2025, https://www.middleeastmonitor.com/20250118-israel-admits-huge-losses-resulting-from-attack-on-gaza-strip/.
[4] Mtanes Shihadeh, The Estimated Cost of the Gaza War on the Israeli Economy, 2025, https://arabcenterdc.org/resource/the-estimated-cost-of-the-gaza-war-on-the-israeli-economy/.
[5] Bahar MAKOOI, “Israeli Army Faces Growing Dissent: ‘I Will Never Again Serve under This Government,’” 16 April, last modified 2025, https://www.france24.com/en/middle-east/20250416-israeli-army-faces-growing-dissent-i-will-never-again-serve-under-this-government.
[6] Shihadeh, The Estimated Cost of the Gaza War on the Israeli Economy.
[7] Ibid.
[8] Linda J Bilmes, William D Hartung, and Stephen Semler, United States Spending on Israel’s Military Operations and Related U.S. Operations in the Region, October 7, 2023 – September 30, 2024, COST OF WAR, 2024., 2.
[9] Shihadeh, The Estimated Cost of the Gaza War on the Israeli Economy.
[10] Dinas Keamanan Internal Israel yang merupakan bagian dari agen intelejen Israel
[11] “Israel’s New Army Chief Admits Gaza War Losses Far Higher than Reported,” The New Arab, February 5, 2025, https://www.newarab.com/news/israeli-new-army-chief-admits-gaza-losses-higher-reported.
[12] Ibid.