Gaza, NPC – Sekitar 8.000 jenazah penduduk Palestina yang syahid dalam perang genosida Israel di Gaza masih tertimbun di bawah reruntuhan, meski operasi pencarian dan evakuasi telah dilakukan secara luas. Hal ini disampaikan Pertahanan Sipil Gaza pada Kamis (12/02/2026).
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, mengatakan lebih dari 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
“Belum diketahui apakah mereka masih hidup, gugur, atau menjadi tahanan,” ujarnya. Basal juga mengonfirmasi “hilangnya dan terurainya ratusan jasad syuhada selama operasi pencarian dan evakuasi berlangsung”.
Pada Senin (09/02/2026), sebuah investigasi oleh Al Jazeera mengungkap bahwa Israel menggunakan senjata termal dan termobarik yang dilarang secara internasional di Gaza. Bom jenis ini meledak pada suhu 3.500 derajat Celsius dan mampu membunuh orang dalam hitungan detik tanpa meninggalkan jejak, Senjata tersebut dilaporkan menyebabkan lebih dari 2.800 kasus jasad penduduk Palestina “menguap” daya ledakan bom yang sangat kuat dan panas di pusat ledakan.
Angka terbaru ini muncul setelah lebih dari 700 jenazah berhasil dievakuasi sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober lalu.
Operasi penyelamatan terhambat oleh berlanjutnya pembongkaran dan penembakan oleh pasukan Israel, keberadaan bahan peledak yang belum meledak, serta pembatasan masuknya peralatan dan mesin oleh Israel.
Pada Jumat saja, pasukan Israel dilaporkan melakukan sejumlah operasi penghancuran bangunan Palestina skala besar di Khan Younis, di bagian selatan wilayah Jalur Gaza.
Penembakan juga dilaporkan terjadi di Kota Gaza, dengan beberapa alat peledak dijatuhkan ke rumah-rumah di lingkungan Zeitoun, serta tembakan tanpa pandang bulu oleh militer Israel di sepanjang pesisir kota. Wilayah Gaza bagian utara dan tengah juga dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk penembakan di area di luar kendali militer Israel.
61 Juta Ton Reruntuhan
Berdasarkan penilaian United Nations Environment Programme (UNEP), Gaza kini tertimbun sedikitnya 61 juta ton puing, menjadikan wilayah tersebut berbahaya untuk dijelajahi.
“Sekitar 15 persen dari puing ini berisiko relatif tinggi terkontaminasi asbes, limbah industri, atau logam berat apabila aliran limbah tidak dipisahkan secara efektif sejak awal,” kata lembaga tersebut.
UNEP menyebut hampir dua pertiga puing terbentuk dalam lima bulan pertama perang, sementara penghancuran bangunan meningkat dalam bulan-bulan menjelang gencatan senjata yang berlaku saat ini.
Sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada Oktober, Israel telah melakukan ratusan pelanggaran gencatan senjata, mulai dari pemboman, penembakan, intimidasi, hingga pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan, yang mengakibatkan hampir 600 penduduk Palestina meninggal dunia dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka.
Secara keseluruhan, dalam dua tahun terakhir Israel telah membunuh lebih dari 72.037 penduduk Palestina di Jalur Gaza dan menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur wilayah tersebut.
(T.FJ/S: MEE)