Gaza, NPC – Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), pada Senin (20/01/2025), menyebut bahwa sekitar 92 persen rumah di Jalur Gaza atau sekitar 436.000 rumah, hancur atau rusak akibat agresi Israel terhadap wilayah tersebut, sementara 90 persen warganya mengungsi.
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Palestina, Dr. Rik Peeperkorn, mengatakan bahwa gencatan senjata di Gaza memberi harapan, akan tetapi tantangan besar masih menghadang.
“Menangani kebutuhan yang sangat besar dan memulihkan sistem kesehatan akan menjadi tugas yang sangat kompleks dan penuh tantangan, mengingat skala kerusakan, kompleksitas operasional, serta berbagai kendala yang ada,” kata Dr. Rik Peeperkorn.
Sejak agresi Israel terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023, menurut laporan PBB, serangan udara Israel terhadap wilayah yang diblokade tersebut telah menyebabkan “kehancuran dan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern”.
Berdasarkan perkiraan PBB, total biaya untuk membangun kembali hal yang telah hancur akibat perang ini mencapai 40 miliar dolar AS, dengan sekitar 37 juta ton puing-puing yang tersebar di seluruh Jalur Gaza, serta lebih dari 70 persen rumah di Gaza rusak atau hancur.
PBB menegaskan bahwa kerusakan di Jalur Gaza sangat besar dan mengerikan, dan sektor pendidikan serta kesehatan hampir sepenuhnya hancur.
Menurut penilaian kerusakan terbaru yang dilakukan oleh Pusat Satelit PBB (UNOSAT), hingga 1 Desember 2024, sekitar 69 persen bangunan di Gaza telah rusak atau hancur, dengan total 170.812 bangunan.
Berdasarkan analisis satelit, para peneliti Amerika, Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek, mencatat 172.015 bangunan yang rusak atau hancur di Gaza pada 11 Januari, yang setara dengan 59,8 persen dari total bangunan di wilayah tersebut.
Menggabungkan data dari UNOSAT dan basis data geografis OpenStreetMap menunjukkan bahwa lebih dari 83 persen masjid di Gaza telah rusak atau hancur.
Sekolah-sekolah di Gaza, yang sejak awal perang digunakan sebagai tempat penampungan bagi para pengungsi, termasuk sekolah-sekolah PBB, juga menanggung kerugian besar akibat perang ini.
Berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS), yang diterbitkan pada Selasa (21/01/2025), populasi Gaza telah mengalami penurunan sekitar enam persen, atau sekitar 160.000 orang, dengan lebih dari 55.000 orang meninggal dunia dan 100.000 orang yang telah meninggalkan Gaza sejak Israel melancarkan genosida terhadap wilayah tersebut pada Oktober 2023.
PCBS menyatakan bahwa populasi penduduk Palestina di Jalur Gaza telah turun menjadi 2,1 juta orang selama genosida ini, dengan lebih dari satu juta orang, atau 47 persen, merupakan anak-anak di bawah usia 18 tahun.
“Israel telah melancarkan perang agresi brutal terhadap Gaza yang menargetkan segala bentuk kehidupan, manusia, bangunan, dan infrastruktur vital. Seluruh keluarga telah dihapus dari daftar sipil. Kerugian manusia dan material sangatlah mengerikan,” kata PCBS.
(T.FJ/S: MEMO)