130 Tokoh Desak Prancis dan Belgia Lindungi Armada Bantuan Gaza

Paris, NPC – Dalam pernyataan yang dikeluarkan bersama pada hari Sabtu (27/09/2025), sekitar 130 tokoh mendesak Prancis dan Belgia untuk memastikan perlindungan diplomatik dan konsuler bagi Armada Global Sumud yang menuju Gaza.

“Kami menuntut perlindungan bagi armada tersebut dan mendesak pemerintah Emmanuel Macron dan Bart De Wever untuk memberikan perlindungan diplomatik dan konsuler bagi kapal-kapal yang membawa warga negara Prancis dan Belgia,” ujar para tokoh masyarakat.

Diterbitkan oleh harian Prancis Nouvel Obs, pernyataan bersama tersebut ditandatangani oleh 130 tokoh, di antaranya DJ Snake berkebangsaan Prancis-Aljazair, penyanyi Belgia Angele, dan kreator konten Prancis Lena Mahfouf.

“Kami menyerukan tindakan segera oleh negara-negara Prancis dan Belgia untuk menjamin akses kemanusiaan ke Gaza dan mengakhiri genosida terhadap rakyat Palestina,” tuntut para penandatangan.

Mereka juga mencatat bahwa 16 negara, termasuk Spanyol dan Irlandia, telah memberikan perlindungan diplomatik kepada warga negara mereka di armada tersebut, sementara Prancis dan Belgia “tetap diam sepenuhnya” meskipun hukum internasional mewajibkan negara-negara untuk melindungi warga sipil di zona konflik dan memastikan bantuan kemanusiaan.

“Aksi Armada Sumud Global dan Thousand Madleen ke Gaza adalah sah dan tanpa kekerasan serta tidak boleh menjadi sasaran serangan atau penghalang apa pun. Keselamatan mereka harus dijamin hingga tiba di tujuan, dengan koordinasi internasional di antara negara-negara yang terwakili,” tegas para penanda tangan.

Armada Sumud Global, yang terdiri dari sekitar 50 kapal, berlayar pada awal bulan ini untuk menembus blokade Israel dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, khususnya pasokan medis, ke Jalur Gaza.

Sejak 2 Maret, Israel telah menutup sepenuhnya penyeberangan Gaza, memblokir konvoi makanan dan bantuan, serta memperparah kondisi kelaparan di wilayah tersebut. Hanya pasokan terbatas yang diizinkan masuk secara sporadis, dan banyak yang dijarah oleh kelompok bersenjata yang dituduh dilindungi oleh Israel oleh otoritas Gaza.

Israel, sebagai kekuatan pendudukan, memiliki rekam jejak mencegat kapal-kapal yang menuju Gaza, menyita kapal, dan mendeportasi aktivis. Para kritikus menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai pembajakan.

Tentara Israel telah menewaskan lebih 66.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, di Gaza sejak Oktober 2023. Pengeboman tanpa henti telah membuat daerah kantong itu tak berpenghuni dan menyebabkan kelaparan serta penyebaran penyakit.

(T.RA/S: Anadolu Agency)

 

You might also like