Gaza, NPC – Otoritas Umum Penyeberangan dan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza, pada Minggu (19/05/2024), memperingatkan dampak buruk dari penutupan terus-menerus penyeberangan darat Rafah selama 13 hari berturut-turut setelah Israel mengambil kendali pintu penyeberangan, di mana sekitar 11.000 korban luka menunggu perawatan ke luar Jalur Gaza.
Pihak berwenang mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penutupan penyeberangan Rafah memperburuk kondisi kemanusiaan yang buruk bagi penduduk Palestina di Jalur Gaza sebagai akibat dari terhambatnya masuknya bantuan kemanusiaan dan terhentinya akses perawatan korban luka akibat agresi Israel dan orang-orang sakit ke luar Jalur Gaza.
“Lebih dari 11.000 orang korban luka masih dalam daftar tunggu untuk perjalanan dan perawatan ke luar negeri. Nyawa mereka terancam akibat penutupan penyeberangan yang terus berlanjut. Puluhan korban luka yang dijadwalkan melakukan perjalanan selama beberapa hari terakhir telah meninggal akibat luka tersebut. Penyeberangan (Rafah) ditutup dan mencegah mereka melakukan perjalanan perawatan,” kata Otoritas Umum Penyeberangan dan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza.
Otoritas Umum Penyeberangan dan Perbatasan Palestina mengimbau masyarakat internasional untuk menekan Israel agar segera menarik diri dari penyeberangan dan membuka kembali penyeberangan Rafah, sehingga pihaknya dapat melanjutkan pekerjaan untuk menyelamatkan korban luka dan orang-orang sakit yang membutuhkan perawatan akibat perang genosida yang dilancarkan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Tentara Israel menduduki penyeberangan Rafah pada tanggal 6 Mei selama invasi ke Rafah. Tentara Israel dengan sengaja menghentikan layanan penyeberangan karena mengetahui bahwa penyeberangan Rafah adalah satu-satunya pintu perbatasan bagi individu untuk melakukan perjalanan ke luar Jalur Gaza.
Sementara itu, sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Sabtu (18/05), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi 35.386 orang dan 79.366 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: Palinfo)