Jalur Gaza, NPC – Sekitar 10 ribu jenazah korban perang masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan di Jalur Gaza. Proses evakuasi terhambat karena Israel terus melarang masuknya alat berat dan peralatan penyelamatan, seperti dilaporkan Kepala Dinas Pertahanan Sipil Provinsi Gaza, Brigadir Raed al-Dahshan, Jumat, 9 Januari 2026.
Menurutnya, perang yang berlangsung tidak hanya menghantam warga sipil dan rumah-rumah mereka, tetapi juga menargetkan tim penyelamat, kantor operasional, dan peralatan kerja.
Al-Dahshan mengatakan, tanpa alat berat, sekitar 10 ribu jenazah tak bisa dievakuasi dari bawah puing. Padahal, jika peralatan diizinkan masuk, proses pengangkatan bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan. “Tanpa itu, tragedi ini akan berubah menjadi luka terbuka selama bertahun-tahun,” katanya.
Ia memperingatkan, jika pembatasan terus berlanjut, proses evakuasi bisa memakan waktu lebih dari satu dekade. Akibatnya, ribuan keluarga akan terus menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka yang tertimbun reruntuhan.
Kemampuan Nyaris Lumpuh
Al-Dahshan menjelaskan, sebelum perang, pertahanan sipil Gaza sudah bekerja dengan kapasitas terbatas, sekitar 45%, akibat blokade yang berlangsung lebih dari 17 tahun. Sejak agresi meningkat, sekitar 85% peralatan rusak atau hancur. Saat ini, kapasitas operasional mereka tinggal 5 sampai 7 persen.
“Banyak operasi dilakukan dengan tangan kosong,” ujarnya. Armada mobil pemadam kebakaran, kendaraan penyelamat hidrolik, ambulans, hingga alat berat untuk mengangkat beton sebagian besar hancur. Di Kota Gaza, wilayah terpadat, tersisa masing-masing hanya satu mobil pemadam, satu kendaraan penyelamat, dan satu ambulans.
Korban di Kalangan Penyelamat
Perang juga menelan korban besar di tubuh pertahanan sipil. Sebanyak 142 personel gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan. Sebagian besar merupakan tenaga berpengalaman dengan masa kerja 15 hingga 30 tahun. Selain itu, 352 anggota mengalami luka berat yang membuat mereka tak bisa lagi bertugas, termasuk amputasi dan cacat permanen.
Dari total 800–900 personel sebelum perang, kehilangan ini menimbulkan ketimpangan serius dalam kemampuan respons darurat. Al-Dahshan menegaskan, tim pertahanan sipil menjadi sasaran langsung meski dilindungi Konvensi Jenewa, mengenakan seragam fosfor, serta melakukan koordinasi dengan Palang Merah dan lembaga internasional.
Markas Hancur, Operasi Darurat
Seluruh 17 markas pertahanan sipil di Gaza hancur, termasuk lima pusat utama di Kota Gaza. Di Rafah, operasi hampir sepenuhnya terhenti karena wilayah itu kosong dari penduduk. Personel digabungkan ke Khan Younis dan wilayah tengah, dengan jangkauan operasi dipersempit akibat risiko keamanan.
“Kami tidak lagi bekerja dengan standar internasional, tapi dengan pola darurat sesuai kenyataan lapangan,” kata al-Dahshan.
Seruan Mendesak
Hingga kini, pertahanan sipil baru berhasil mengevakuasi sekitar 350 jenazah dari bawah puing. Banyak di antaranya ditemukan dalam kondisi tinggal tulang belulang. Proses pengangkatan berjalan lambat karena ketiadaan buldoser dan alat berat.
Al-Dahshan menutup dengan seruan mendesak kepada komunitas internasional, PBB, dan otoritas Palestina agar segera menyediakan peralatan, bahan bakar, serta dukungan logistik. “Mendukung pertahanan sipil berarti mendukung kehidupan,” ujarnya. “Tanpa itu, ribuan nyawa akan terus terancam.”