Survei Ilmiah Bongkar Selisih Besar Angka Kematian di Gaza Palestina

Gaza, NPC – Jumlah kasus “kematian akibat kejahatan kemanusiaan” di Gaza selama 16 bulan pertama perang genosida Israel melampaui 75.000 jiwa—jauh lebih tinggi dari angka resmi pada periode yang sama. Temuan itu terungkap dalam makalah terbaru yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Global Health, sebagaimana dilansir Middle East Eye, pada Kamis (19/02/2026).

Survei Mortalitas Gaza memperkirakan terdapat 75.200 kematian akibat perang genosida di wilayah tersebut antara 7 Oktober 2023 hingga 5 Januari 2025. Pada tanggal terakhir itu, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan jumlah korban jiwa sebanyak 49.090 orang. Studi yang terbit pada Rabu (18/02) tersebut menyebutkan angka riil kemungkinan sekitar 35 persen lebih tinggi dari laporan resmi saat itu.

Para peneliti juga menemukan bahwa proporsi perempuan, anak-anak, dan lansia yang meninggal—sebagaimana dilaporkan otoritas kesehatan—tergolong akurat. Hingga 5 Januari 2025, sebanyak 42.200 perempuan, anak-anak, dan lansia dilaporkan meninggal akibat kekerasan, atau setara 56 persen dari total korban.

“Gabungan bukti menunjukkan bahwa hingga 5 Januari 2025, sekitar 3,4 persen populasi Jalur Gaza telah meninggal dunia akibat kekerasan, dan terdapat pula sejumlah besar kematian non-kekerasan yang secara tidak langsung disebabkan oleh konflik,” tulis para penulis studi tersebut.

Tim penulis terdiri atas ekonom, demografer, epidemiolog, serta para spesialis survei. Salah satu penulis, Michael Spagat, profesor ekonomi di Royal Holloway, University of London, menyatakan studi tersebut juga mengindikasikan tambahan sekitar 8.200 kematian hingga Januari 2025 yang dapat dikaitkan dengan dampak tidak langsung konflik, termasuk malnutrisi dan penyakit yang tak tertangani.

Penelitian ini melibatkan wawancara terhadap 2.000 rumah tangga yang merepresentasikan 9.729 individu di Gaza. Sampel dipilih secara cermat untuk mencerminkan struktur populasi. Para responden diminta memberikan rincian mengenai anggota keluarga yang meninggal. Survei dijalankan oleh lembaga jajak pendapat Palestina yang berpengalaman.

Meskipun demikian, studi ini belum mencakup periode genosida dan ofensif Israel yang kembali meningkat sejak Maret hingga Oktober, ketika kelaparan diumumkan terjadi di Gaza akibat blokade bantuan kemanusiaan.

Angka Kementerian Dinilai Konservatif dan Andal

Para peneliti menyebut survei ini sebagai survei rumah tangga representatif pertama yang dilakukan di tengah perang Israel di Gaza.

“Hasil ini menegaskan bahwa pemantauan mortalitas tetap memungkinkan dilakukan dalam situasi konflik yang sangat menantang, serta menyediakan landasan empiris penting untuk menilai biaya kemanusiaan sesungguhnya dari konflik,” tulis mereka.

Hingga pekan ini, Kementerian Kesehatan menyatakan sedikitnya 72.063 orang telah meninggal dunia akibat serangan pasukan Israel sejak Oktober 2023.

Israel sejak lama meragukan angka yang dirilis kementerian tersebut. Namun, bulan lalu seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa militer menerima bahwa sekitar 70.000 orang telah meninggal dunia di Gaza.

Para peneliti menilai angka Kementerian Kesehatan tetap dapat diandalkan meski bekerja dalam “keterbatasan luar biasa”. Menurut mereka, data tersebut justru merepresentasikan batas bawah (floor) yang konservatif, bukan angka yang dilebih-lebihkan.

“Validasi pelaporan Kementerian Kesehatan melalui berbagai metodologi independen mendukung keandalan sistem pencatatan korban administratif mereka bahkan dalam kondisi ekstrem,” demikian isi laporan tersebut.

Pada November lalu, Max Planck Institute for Demographic Research memperkirakan 78.318 orang meninggal dunia di Gaza antara 7 Oktober 2023 hingga 31 Desember 2024—periode yang hampir identik dengan cakupan studi Lancet.

Studi lain yang dipublikasikan oleh The Lancet tahun lalu memperkirakan angka kematian versi Kementerian Kesehatan Palestina dalam sembilan bulan pertama genosida kurang tercatat hingga 41 persen. Penelitian itu mengestimasi 64.260 orang meninggal dunia hingga Juni 2024, jauh di atas angka resmi 37.877 jiwa saat itu.

Penelitian sebelumnya menggunakan metode statistic “capture-recapture” yang berbasis probabilitas, sedangkan riset terbaru ini melakukan estimasi matematis dengan verifikasi empiris melalui wawancara survei.

“Temuan kami bahwa angka Kementerian Kesehatan Palestina kurang menghitung kematian akibat kejahatan sekitar 35 persen sangat selaras dengan estimasi capture–recapture,” tulis studi terbaru tersebut. “Validasi langka antara metodologi survei dan capture–recapture ini memperkuat kepercayaan terhadap kedua pendekatan tersebut.”

Dengan kata lain, data resmi dinilai belum mencatat seluruh korban, kemungkinan karena keterbatasan pendataan di tengah situasi perang. Temuan ini disebut sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode statistik “capture–recapture”, yakni teknik perhitungan berbasis perbandingan beberapa sumber data untuk memperkirakan jumlah korban yang belum tercatat. Akibat dua metode berbeda menghasilkan perkiraan yang mirip, para peneliti menilai keduanya saling menguatkan dan membuat hasilnya semakin dapat dipercaya.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like