Da’i dari Tel Aviv: Strategi Intelijen Israel Menembus Mimbar Masjid

Jalur Gaza, NPC – Sepanjang sejarah peradaban, agama selalu menjadi elemen yang paling kuat dalam membentuk masyarakat. Ia bisa menjadi jembatan peradaban, namun di tangan yang salah, bisa pula dijadikan alat kontrol yang efektif.

Agama lebih kuat dari senjata, lebih tahan lama daripada ideologi, dan lebih berpengaruh daripada propaganda militer. Tak mengherankan jika kekuasaan, baik kolonial, imperialis, maupun modern, sering berusaha menungganginya.

Negara-negara besar di masa lalu telah membuktikan hal ini. Dari Kekaisaran Romawi yang menjadikan agama sebagai legitimasi politik, hingga kolonialis Eropa yang membawa “misi suci” ke tanah-tanah jajahan, agama seringkali dijadikan wajah ramah dari ekspansi kekuasaan.

Namun hari ini, taktik tersebut telah berubah rupa. Ia tak lagi menunggangi agama secara terang-terangan, melainkan melalui jalur yang lebih halus dan sistemik; pendidikan, sosial, dan narasi-narasi yang dikemas dengan istilah religius namun penuh muatan politik dan memecah belah umat dari dalam. Salah satu aktor yang disebut paling cermat dalam memanfaatkan ruang ini adalah Mossad, badan intelijen Israel.

Dalam era digital yang serba cepat dan terbuka, tantangan terhadap umat beragama, khususnya Islam, tidak selalu datang dari luar yang memusuhi secara terbuka. Terkadang, tantangan datang dari dalam, dalam bentuk penyusupan pemikiran dan manipulasi wacana keagamaan. Ini yang membuat pembajakan teks-teks agama jauh lebih sulit diidentifikasi dan lebih berbahaya.

Beberapa tahun terakhir, perhatian mengarah pada Institut Studi Islam dan Arab di Tel Aviv, yang disebut-sebut tidak berada di bawah otoritas pendidikan Israel biasa, melainkan diawasi langsung oleh Mossad.

Data ini pertama kali dipaparkan oleh intelektual Maroko, Abu Zeid al-Idrisi, yang menyebut lembaga ini sebagai proyek sistemik untuk membentuk pendakwah dan tokoh keagamaan dengan agenda mendukung proyek kolonialis Israel.

Kurikulumnya terdengar modern dan ilmiah: “Zionisme dalam Perspektif Islam”, “Syariah Islam dan Hukum Yahudi”, “Islam Politik Syiah dalam Tafsir Global”, hingga “Tafsir Al-Qur’an dalam Konteks Literatur Yahudi”.

Namun, persoalan utamanya bukan terletak pada nama mata kuliah yang terdengar ilmiah, melainkan pada arah dan tujuan di balik perumusan kurikulumnya. Program tersebut tampak bukan sekadar untuk membangun pemahaman lintas agama, melainkan merupakan bagian dari upaya sistematis membingkai ulang Islam dalam perspektif geopolitik tertentu, sebuah kerangka yang sarat dengan kepentingan ideologis dan agenda strategis pihak luar.

Salah satu kasus yang menyorot perhatian adalah Benjamin Ephraim, agen Mossad yang menyamar sebagai imam masjid di Benghazi dengan nama Abu Hafs. Ia tak hanya menjadi tokoh spiritual muslim, tetapi juga diduga memimpin kelompok bersenjata ISIS, sebelum akhirnya ditangkap oleh otoritas Libya pada awal 2024.

Ephraim Benjamin, agen intelijen Israel (Mossad), menyamar sebagai imam masjid di Benghazi, Libya, dengan nama Abu Hafs. Ia dipercaya warga setempat sebelum akhirnya terungkap sebagai pemimpin kelompok Daesh yang memimpin sekitar 200 pejuang. Penangkapannya oleh otoritas Libya menguatkan dugaan infiltrasi Mossad ke dalam kelompok radikal demi kepentingan geopolitik. Kasus ini memperlihatkan bagaimana kepercayaan umat dapat dimanfaatkan sebagai alat operasi intelijen.

Sumber Israel seperti situs Central Issues membenarkan identitas Benjamin sebagai warga Israel, sementara media Arab seperti Masr Al-Arabia menyebut ia bagian dari unit agen Mossad yang dilatih untuk berpakaian, berbicara, dan berperilaku layaknya warga Arab, agar bisa menyusup tanpa terdeteksi.

Model operasi ini sejalan dengan taktik infiltrasi yang telah digunakan oleh unit militer Israel lainnya di wilayah Palestina, seperti Mistaravim, yang menyamar dalam unjuk rasa Palestina untuk menangkap atau mengeksekusi target tertentu. Perbedaannya, kali ini bukan lagi aksi militer, melainkan manipulasi terhadap tafsir, pengaruh spiritual, dan persepsi masyarakat Muslim terhadap ajaran agamanya sendiri.

Strategi semacam ini tidak bisa dilawan dengan kemarahan, tetapi dengan kecerdasan kolektif. Bukan dengan menyebar tuduhan liar, tetapi dengan memperkuat literasi agama yang otentik, jujur, dan berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Dalam kasus Benjamin, kita tidak hanya melihat seorang mata-mata yang menyamar sebagai imam, tetapi juga menyaksikan bagaimana kepercayaan umat bisa digunakan sebagai alat. Namun, pendidikan Islam yang berakar pada sanad keilmuan yang jelas dan akhlak yang bersih dari kepentingan duniawi adalah benteng terbaik dari segala bentuk pembajakan tradisi keilmuan untuk menjadi alat justifikasi penjajahan.

(T.RS)

 

You might also like