Laporan Terbaru PBB Akhir September 2026 terhadap Kondisi di Tepi Barat Palestina

Yerusalem, NPC – Kejahatan dan kekerasan dan berbagai pembatasan terus memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Di sisi lain, minimnya dana bantuan kian menghambat upaya penyaluran logistik. Dalam Pekan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengingatkan negara-negara anggota agar tidak mengabaikan situasi mengerikan di Wilayah Pendudukan Palestina.

Mengenai kondisi di Gaza, Guterres menyatakan bahwa pemulihan bantuan pascadeklarasi gencatan senjata Oktober tahun lalu memang sedikit meringankan beban warga.

“Namun, kondisinya tetap tidak tertahankan… Hukum internasional, termasuk hukum kemanusiaan internasional, dilanggar secara terang-terangan. Akses kemanusiaan masih dibatasi secara ketat, dan tingkat penderitaan manusia sudah melampaui batas,” ujarnya.

Guterres kembali menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi PBB untuk menjalankan mandatnya di Gaza, serta menjamin keselamatan personel PBB dan pekerja kemanusiaan. Ia menekankan bahwa seluruh pihak harus mematuhi hukum internasional serta keputusan Mahkamah Internasional (ICJ).

Sementara itu, terkait situasi di Tepi Barat, Guterres menyoroti tingginya angka serangan pemukim Yahudi dan massifnya perluasan pemukiman ilegal yang mendorong masyarakat Palestina ke ambang kehancuran.

“Tindakan semacam itu ilegal dan tidak adil,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa aksi kekerasan, penggusuran, dan ekspansi pemukiman oleh Israel “menghancurkan jalan menuju perdamaian sekaligus membayangi kawasan tersebut dengan ancaman pembersihan etnis”.

Tepi Barat

Laporan pada bagian ini mencakup periode 15 hingga 21 September.

Kebutuhan kemanusiaan di seluruh Tepi Barat terus melonjak akibat operasi militer Israel, kekerasan pemukim, pembongkaran bangunan, serta pembatasan ruang gerak. Selama periode pelaporan, otoritas Israel menghancurkan 86 bangunan milik warga Palestina. Selain itu, satu keluarga Palestina dipaksa merubuhkan rumahnya sendiri. Kondisi ini memicu pengungsian, hilangnya mata pencaharian, dan terputusnya akses air bersih.

Operasi dan pembatasan gerak oleh pasukan Israel juga mengakibatkan jatuhnya korban luka, penangkapan, pengungsian sementara, hingga terganggunya layanan pendidikan dan kesehatan yang berdampak pada ribuan warga Palestina. Pada saat yang sama, krisis pendanaan terus membatasi ruang gerak lembaga kemanusiaan dalam merespons kebutuhan warga. Tanpa adanya kucuran dana lanjutan, sedikitnya 20 titik di Wilayah C (Area C) terancam kehilangan layanan klinik keliling.

Sejumlah mitra kemanusiaan terus menyalurkan bantuan tempat tinggal darurat, air, sanitasi, dan kebersihan (WASH), serta layanan kesehatan dan perlindungan anak. Mitra Klaster Tempat Tinggal (Shelter Cluster) telah menjangkau 798 jiwa dari 186 rumah tangga di Tepi Barat, terutama melalui perbaikan hunian, bantuan sewa, serta distribusi barang non-pangan dan bantuan tunai. Sekitar 64 persen penerima bantuan berada di Provinsi Hebron, Nablus, dan Jenin. Sementara itu, mitra sektor kesehatan terus mengoperasikan klinik keliling bagi masyarakat yang kesulitan mengakses fasilitas medis permanen, di mana 11 mitra saat ini menjangkau 227 lokasi di Wilayah C.

Di sektor sanitasi dan air bersih, mitra Klaster WASH terus mengatasi gangguan pasokan air. Menurut Otoritas Air Palestina, sumur Beit Iba kembali beroperasi pada 16 September setelah mengalami kerusakan selama 54 hari yang sempat memutuskan aliran air ke 11 pemukiman. Selama gangguan berlangsung, mitra WASH menyalurkan bantuan air tangki darurat di tiga pemukiman serta mendukung langkah mitigasi bagi penyedia layanan lokal.

Di Khirbet ar Ras al Ahmar dan Khirbet Atuf, sebanyak 58 rumah tangga mengalami krisis air selama lebih dari sebulan akibat kerusakan jaringan air yang diduga disebabkan oleh ulah pemukim Israel. Penutupan akses jalan kendaraan oleh otoritas Israel sejak 15 September kian memperburuk keadaan, hingga kerap menghambat pengiriman air selama beberapa hari berturut-turut. Warga terdampak kini mengandalkan bantuan tangki air portabel dari mitra WASH, dengan distribusi yang dikoordinasikan oleh dewan desa menggunakan traktor. Secara keseluruhan, mitra Klaster WASH tengah menjalankan sedikitnya 100 intervensi darurat di 66 pemukiman Tepi Barat.

Di bidang perlindungan anak, lembaga kemanusiaan terus memberikan pendampingan kasus dan bantuan perlindungan di tengah tekanan ekonomi serta psikologis yang menimpa keluarga rentan. Mereka menangani 27 kasus perlindungan anak di utara Tepi Barat dan menyalurkan tiga unit alat bantu disabilitas. Sejak awal tahun 2026, para mitra telah menyalurkan bantuan tunai dan logistik kepada 802 anak beserta pengasuhnya, serta membagikan paket pakaian untuk 872 anak. Pembatasan akses dan minimnya layanan kesehatan mental spesialis serta dukungan psikososial masih menjadi kendala utama dalam penyaluran bantuan perlindungan anak.

Korban Jiwa dan Operasi Pasukan Israel

Selama periode pelaporan, pasukan Israel menembak mati dua pemuda Palestina di Provinsi Ramallah dan Jenin. Di sisi lain, seorang warga Palestina menembak mati seorang pemukim Israel di Ramallah. Sedikitnya 49 warga Palestina mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Israel maupun pemukim, dengan sekitar 30 korban di antaranya terluka akibat ulah pemukim Israel. Selain itu, sedikitnya 16 warga Palestina, termasuk empat anak-anak, terluka akibat operasi militer Israel di Nablus, Yerusalem, Qalqiliya, dan Ramallah.

Pada 15 September, pasukan Israel menembak mati seorang pria Palestina di dalam rumahnya saat operasi penggeledahan dan penangkapan di Kota Al-Bireh, Ramallah. Mengutip media lokal, militer Israel mengklaim pria tersebut mencoba merebut senjata prajurit. Pada 20 September, pasukan Israel kembali menembak mati seorang warga Palestina di dekat pemukiman Ganim, Jenin, dengan tuduhan berusaha melakukan serangan penabrakan. Petugas ambulans melaporkan bahwa mereka dilarang mendekati lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan.

Pada hari yang sama (20 September), seorang warga Palestina menembak mati seorang pemukim Israel di dekat Desa Deir Nidham dan pemukiman Halamish. Pasukan Israel kemudian menggerebek sebuah rumah sakit di Kota Ramallah dan menahan seorang warga Palestina yang terluka, yang dituduh militer Israel sebagai pelaku penembakan. Pasukan Israel lantas menerapkan blokade dan pembatasan gerak skala besar di seluruh Provinsi Ramallah, melumpuhkan akses menuju rumah, tempat kerja, serta layanan dasar bagi ribuan warga.

Kementerian Pendidikan Palestina memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar-mengajar di wilayah operasional Ramallah dan Pinggiran Yerusalem pada 21 September. Dalam operasi susulan di Desa Biddu, Yerusalem, pasukan Israel menahan sedikitnya 67 pria Palestina—yang sebagian besar kemudian dibebaskan—serta menganiaya tiga orang lainnya. Mereka juga mengambil alih sejumlah rumah dan mengukur rumah keluarga terduga pelaku untuk persiapan pembongkaran punitif (hukuman).

Operasi militer di lokasi lain turut melumpuhkan layanan publik dan memaksa warga mengungsi. Di Kamp Balata dan Kamp No. 1 di Nablus, beberapa warga Palestina mengalami luka-luka, sedikitnya empat keluarga mengungsi sementara, serta dua sekolah UNRWA yang menampung lebih dari 450 siswa, sebuah klinik kesehatan, dan sekolah swasta di sekitarnya terpaksa ditutup sementara. Sementara itu, operasi militer di Kota Qalqiliya dan Desa Al-Mughayyir (Ramallah) mengakibatkan tujuh orang terluka dan 45 warga ditahan.

Secara terpisah, pasukan Israel melukai seorang warga Palestina yang dilaporkan berusaha melintasi Tembok Pemisah (Barrier) di dekat Ar-Ram untuk bekerja di Yerusalem Timur. Sejak 7 Oktober 2023, sebanyak 21 warga Palestina dibunuh dan lebih dari 300 orang luka-luka saat berupaya menerobos Tembok Pemisah tersebut.

(T.FJ/S: OCHA)

You might also like