Gaza, NPC – Gambar seorang gadis Palestina berusia lima tahun yang ketakutan dan melarikan diri setelah serangan Israel—yang menewaskan ayahnya dan melukai ibunya—telah memicu kesedihan serta kemarahan luas di internet. Peristiwa ini menjadi gambaran nyata lain dari trauma mendalam yang dialami anak-anak di Gaza.
Gadis tersebut, yang diidentifikasi sebagai Maria Hassan Siyam, difoto berlari dalam kepanikan beberapa saat setelah serangan mengenai orang tuanya saat keluarga mereka tengah mencari persediaan kebutuhan dasar, menurut keterangan kerabat dan jurnalis Palestina yang mendokumentasikan insiden tersebut.
Maria dilaporkan berjalan hanya beberapa langkah di belakang ayahnya, Hassan Siyam, ketika serangan itu terjadi. Sang ayah tewas seketika, sementara ibunya mengalami luka-luka dan berdarah.
Anggota keluarga mengungkapkan bahwa Hassan sebenarnya baru saja selamat dari luka-luka akibat serangan Israel lainnya beberapa hari sebelumnya dan masih dalam proses pemulihan saat ia akhirnya tewas.
Foto Maria yang berlari sendirian di jalan dengan cepat beredar secara daring. Para jurnalis dan aktivis Palestina menggambarkannya sebagai simbol masa kecil yang direnggut oleh pemboman, kehilangan, serta ketakutan.
Jurnalis sekaligus peneliti Huda Naim menulis bahwa Maria berlari ketakutan sementara ayahnya tergeletak tak bernyawa di belakangnya dan ibunya yang terluka berdarah, membandingkan pemandangan pilu itu dengan respons dingin dari dunia luar.
Jurnalis Mohammed Haniyeh juga menceritakan bagaimana Maria sempat menyaksikan ayahnya terbunuh dan ibunya terluka sebelum akhirnya berlari menyelamatkan diri.
Penulis dan aktivis Khaled Safi menyandingkan foto tersebut dengan potret ikonik anak Vietnam, Phan Thi Kim Phuc, yang melarikan diri dari serangan napalm pada tahun 1972. Ia berargumen bahwa Gaza kini terus menghasilkan gambar serupa tentang anak-anak yang ketakutan dan terluka dalam skala besar, sementara dunia hanya menyaksikannya secara langsung.
Kisah Maria mencerminkan bencana kemanusiaan yang jauh lebih luas yang dihadapi anak-anak Gaza. UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 64.000 anak tewas atau terluka, sementara lebih dari 56.000 lainnya kehilangan salah satu atau kedua orang tua sejak perang dimulai.
UNICEF juga memperingatkan dampak psikologis luar biasa yang dialami anak-anak akibat pengungsian berulang, kekerasan, dan peristiwa traumatis di tengah hancurnya layanan penting seperti kesehatan dan pendidikan.
Bagi Maria, statistik kelam tersebut kini memiliki wajah dan nama. Di usianya yang baru lima tahun, ia tertangkap kamera sedang berlari menyelamatkan diri setelah kehilangan sang ayah dan melihat ibunya terluka—menjadi simbol nyata dari kengerian yang seharusnya tidak pernah dialami oleh anak mana pun di dunia.
(T.RA/S: Days of Palestine)