Gaza, NPC – Menjelang musim dingin, kekhawatiran semakin meningkat: akankah ratusan ribu pengungsi di Jalur Gaza mampu menghadapi hujan lebat dan banjir besar? Sementara itu, kondisi kamp pengungsian sangat buruk akibat tenda yang sudah aus serta minimnya persediaan tempat tinggal.
Pihak berwenang Palestina dan organisasi internasional tengah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi musim ini, termasuk menyediakan tenda dan perlengkapan penting sebelum cuaca memburuk. Sayangnya, kebutuhan di lapangan masih jauh lebih besar daripada persediaan yang ada.
Ismail al-Thawabta, Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, memperingatkan adanya ancaman kemanusiaan berat yang mengancam nyawa para pengungsi. Ia menyebut musim dingin mendatang sebagai “musim dingin yang mematikan” jika krisis tempat penampungan ini terus berlanjut tanpa tindakan mendesak.
Dalam pernyataan pers pada Rabu (23/9/2026), al-Thawabta mengungkapkan bahwa tim pemerintah telah melakukan survei lapangan secara komprehensif. Hasilnya, dari 270.000 tenda yang menampung keluarga pengungsi di seluruh Jalur Gaza, sebanyak 162.000 tenda (atau lebih dari 60 persen) sama sekali sudah tidak layak pakai.
Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas tenda tidak lagi mampu memberikan perlindungan minimal terhadap angin kencang, hujan, dan suhu dingin. Kondisi ini membuat anak-anak, perempuan, pasien, serta para pengungsi lainnya terancam terpapar langsung oleh cuaca ekstrem.
(T.RA/S: MEMO)