Ulama Palestina Sebut Israel Kini Bidik Syiar dan Rumah Ibadah Islam

Yerusalem, NPC – Otoritas Ulama Palestina memperingatkan bahwa Israel telah memasuki tahap baru dalam kebijakannya terhadap Palestina. Jika sebelumnya yang menjadi sasaran adalah rakyat dan wilayah Palestina, kini sasaran tersebut meluas hingga mencakup rumah ibadah dan simbol-simbol Islam.

Dalam pernyataan yang disampaikan pada Sabtu (4/7), Otoritas Ulama Palestina menegaskan bahwa berbagai tindakan terhadap masjid, mushaf Al-Qur’an, azan, Masjid Al-Aqsa, dan Masjid Ibrahimi merupakan serangan yang dilakukan secara sistematis terhadap identitas umat Islam. Menurut lembaga tersebut, persoalan ini tidak lagi hanya menyangkut rakyat Palestina, tetapi juga menyangkut seluruh umat Islam.

Otoritas Ulama Palestina menyatakan bahwa perkembangan paling berbahaya yang terlihat saat ini adalah meningkatnya tindakan yang secara langsung menyasar simbol-simbol ibadah umat Islam. Mereka menilai langkah Israel untuk membatasi pengumandangan azan, disertai meningkatnya pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsa serta Yahudisasi Masjid Ibrahimi di Kota Hebron yang dilakukan dengan gencar, menunjukkan dimulainya fase baru yang secara langsung menargetkan syiar Islam, bukan sekadar tanah dan penduduk Palestina.

Lembaga tersebut juga memaparkan sejumlah tindakan pelanggaran sejak perang di Jalur Gaza dimulai. Hampir 1.000 masjid di Gaza telah dihancurkan selama perang berlangsung. Selain itu, Israel juga terlibat dalam berbagai kasus pembakaran, perobekan, dan penodaan mushaf Al-Qur’an.

Otoritas Ulama Palestina juga menyinggung adanya tindakan yang mereka sebut sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa saat ekstremis Israel melakukan konvoi. Mereka juga menyebut pembakaran sejumlah masjid di Tepi Barat serta lolosnya pembacaan pendahuluan rancangan undang-undang di Knesset Israel yang bertujuan membatasi pengumandangan azan sebagai bagian dari rangkaian kebijakan yang menyasar syiar Islam.

Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menyerukan adanya langkah nyata dan terkoordinasi untuk menghadapi berbagai tindakan tersebut. Mereka meminta para pemimpin negara-negara Islam mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam membela Palestina serta melindungi rumah ibadah.

Otoritas Ulama Palestina juga mendesak negara-negara Islam untuk menghentikan proses normalisasi hubungan dengan Israel, memperkuat dukungan terhadap ketahanan rakyat Palestina, serta membantu pembangunan kembali masjid-masjid yang hancur akibat perang.

Selain kepada para pemimpin negara, lembaga itu juga menyampaikan seruan kepada kementerian urusan agama di berbagai negara Islam, para ulama, khatib, dai, insan media, gerakan-gerakan Islam, lembaga pendidikan, dan organisasi kemanusiaan agar meningkatkan upaya mendokumentasikan berbagai dugaan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci Islam di Palestina.

Mereka juga meminta agar persoalan Al-Quds dan tempat-tempat suci Islam terus diangkat dalam khutbah, media massa, kurikulum pendidikan, seminar, serta berbagai forum keagamaan agar tetap menjadi perhatian umat Islam di seluruh dunia.

Menurut Otoritas Ulama Palestina, diperlukan mobilisasi yang lebih luas dari seluruh elemen umat Islam untuk membela rumah ibadah di tengah berbagai tantangan yang dihadapi. Otoritas Ulama Palestina menegaskan bahwa menjaga syiar Islam di Palestina merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam, bukan hanya rakyat Palestina.

Lembaga tersebut juga memberikan penghargaan kepada rakyat Palestina yang dinilai tetap teguh mempertahankan ibadah di tengah situasi perang. Mereka menyebut masyarakat Palestina terus melaksanakan shalat, mengumandangkan azan, dan berpegang teguh pada Al-Qur’an meskipun menghadapi perang, penghancuran, dan berbagai kesulitan.

Otoritas Ulama Palestina menegaskan bahwa keteguhan masyarakat Palestina dalam menjaga syiar Islam merupakan bentuk kesabaran dan keteguhan yang patut mendapat dukungan dari umat Islam di berbagai belahan dunia.

(T.RS/S:Palinfo)

 

You might also like