Warga Gaza Dukung Spanyol dalam Laga Piala Dunia 2026

Warga Gaza menonton pertandingan Spanyol vs Arab Saudi di sebuah kafe darurat yang didirikan di dekat tenda-tenda pengungsi di Kota Gaza (Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Ratusan mata menyaksikan tampilan layar proyektor kecil di sebuah kafe “dadakan” di Kota Gaza. Para penggemar sepak bola duduk berimpitan malam itu. Ketegangan yang biasa menyelimuti langit Gaza seolah menguap, digantikan oleh gemuruh sorak-sorai saat Lamine Yamal, bintang muda berusia 18 tahun, mencetak gol pertama untuk tim nasional Spanyol dalam laga Piala Dunia melawan Arab Saudi. Spanyol akhirnya memenangi pertandingan dengan skor telak setelah mencetak tiga gol tambahan. Bagi warga Gaza, kemenangan La Roja malam itu memicu sukacita yang luar biasa. Dukungan ini sekilas terdengar janggal karena Arab Saudi memiliki hubungan emosional dan kultural yang kuat dengan Palestina. Namun, di Gaza, sepak bola tidak pernah sekadar tentang olahraga “bola”. Pilihan tersebut merupakan sebuah pernyataan politik dan bentuk apresiasi atas rasa kemanusiaan.

Di balik gemuruh sorak-sorai tersebut, realitas pahit di luar kafe tetap tidak dapat disembunyikan karena turnamen ini berlangsung di tengah krisis kemanusiaan yang parah akibat infrastruktur kota yang telah lumat oleh konflik berkepanjangan. Bagi masyarakat Gaza, berkumpul di depan layar kecil dengan pasokan listrik terbatas dari generator merupakan perjuangan tersendiri demi merayakan kehidupan dan mencari ruang waras di tengah kepungan perang. Setiap pergerakan bola di lapangan hijau seolah menjadi pengganti dari mimpi-mimpi mereka yang terhenti, terutama bagi para pemuda setempat yang terpaksa mengubur asa menjadi pesepak bola profesional setelah stadion dan fasilitas olahraga lokal rata dengan tanah.

Kecintaan yang mendalam ini tidak tumbuh dalam semalam, melainkan dipupuk oleh konsistensi sikap politik Madrid yang berani mengambil posisi berbeda dari mayoritas sekutu Eropanya dalam membela hak-hak mendasar rakyat Palestina. Keberanian diplomatik yang mampu menembus batas geografis sepanjang ribuan kilometer ini semakin mengkristal lewat aksi-aksi simbolis para ikon olahraga Spanyol yang menggunakan panggung global mereka untuk menyuarakan kemanusiaan. Kombinasi antara ketegasan diplomasi negara Spanyol dan ketulusan empati dari para atletnya inilah yang membuat warga Gaza merasa diakui keberadaannya oleh dunia, sehingga berhasil mengubah sebuah pertandingan sepak bola menjadi perayaan solidaritas yang sangat emosional.

Melepaskan Diri Sejenak dari Tekanan Hidup yang Ekstrem

Warga Palestina bermain sepak bola di tengah reruntuhan bangunan Kota Gaza, 13 Juni 2026 [Dawoud Abu Alkas/Reuters]
Menonton turnamen besar seperti Piala Dunia menjadi salah satu cara bagi warga Palestina untuk melepaskan diri sejenak dari tekanan hidup yang ekstrem. Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah melumpuhkan wilayah tersebut dan menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina.

Infrastruktur olahraga juga terdampak parah. Stadion-stadion lokal hancur dan kompetisi terhenti total, sehingga banyak atlet setempat terpaksa mencari pekerjaan lain demi bertahan hidup. Meskipun pemadaman listrik dan jaringan internet terjadi berulang kali, warga Gaza tetap berkeras mencari cara untuk berkumpul di kafe agar dapat menonton pertandingan bersama.

“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat Gaza mencintai kehidupan dan olahraga, terlepas dari semua kehancuran di sekeliling kami,” ujar Hani Abu Rizq (32), salah seorang pengunjung kafe.

Bagi mereka, sepak bola adalah pelampiasan rasa sedih sekaligus panggung untuk mengingatkan dunia akan perjuangan mereka, mirip seperti atmosfer Piala Dunia 2022 di Qatar saat atribut Palestina berkibar erat di tribun penonton.

Ketegasan Spanyol dan Menguatnya Ikatan Emosional Warga Gaza

Kecintaan warga Gaza terhadap sepak bola Spanyol sebenarnya sudah lama mengakar melalui rivalitas La Liga. Namun, sejak perang pecah, dukungan itu berubah menjadi ikatan emosional yang lebih dalam. Warga Palestina tidak lagi melihat Spanyol hanya dari kehebatan taktik di lapangan, melainkan dari keberanian sikap politik negara tersebut.

Mohammad Attallah (43), seorang pengacara dari Kota Gaza, mengakui bahwa dukungannya kepada Spanyol kini memiliki makna yang berbeda. Perubahan ini dipicu oleh kelantangan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, yang secara terbuka membela Gaza.

Selain sikap pemerintah, aksi solidaritas para atlet Spanyol juga membekas di hati masyarakat. Lamine Yamal sempat mengibarkan bendera Palestina saat merayakan kemenangan Barcelona di La Liga. Di sisi lain, Raja Felipe VI juga secara resmi mendesak Israel untuk menghentikan tindakan keji mereka di Gaza.

“Mereka mungkin tidak berbicara dengan bahasa kami, tetapi sikap kemanusiaan mereka lebih menyentuh kami daripada sikap negara lain mana pun di dunia,” ungkap Abdullah Masoud, warga Gaza lainnya.

Akar Sejarah dan Komitmen Diplomatik Spanyol

Komitmen kuat Spanyol terhadap Palestina bukan sekadar momentum politik sesaat, melainkan hasil dari tradisi diplomatik dan kedekatan sejarah yang panjang dengan dunia Arab.

Secara historis, hubungan ini sudah dipupuk sejak masa Jenderal Franco yang menjalin kedekatan dengan para pemimpin militer Arab. Selain itu, ada pula ikatan kultural berupa nostalgia kolektif terhadap Al-Andalus—masa kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia dari tahun 711 hingga 1492. Kerajaan Arab di masa lalu juga aktif menyuplai minyak dan makanan bagi Spanyol, serta mendukung negara itu menjadi anggota PBB pada tahun 1955. Di sisi lain, Spanyol memiliki akar sejarah Yahudi melalui istilah Sepharad (tanah Iberia dalam tradisi Yahudi) dan baru membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel pada tahun 1986.

Berangkat dari memori kolektif tersebut, Spanyol di bawah pemerintahan koalisi sayap kiri saat ini mengambil posisi yang sangat tegas. Didorong oleh Partai Pekerja Sosialis Spanyol (PSOE) pimpinan Pedro Sánchez bersama koalisi progresif Sumar, Podemos, serta kelompok regional Basque dan Catalan, Spanyol konsisten menyuarakan dekolonisasi dan hak-hak Palestina berdasarkan hukum internasional.

Langkah konkret yang telah diambil Spanyol antara lain:

  • Pengakuan Negara Palestina: Spanyol bersama Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui kedaulatan Negara Palestina pada 28 Mei 2024.
  • Gugatan Genosida: Spanyol mendukung gugatan genosida yang diajukan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).
  • Pembatasan Senjata: Madrid menangguhkan beberapa izin ekspor senjata ke Israel sebagai bentuk protes kemanusiaan.

Sikap ini mendapat dukungan masif dari dalam negeri. Studi dari Elcano Royal Institute menunjukkan bahwa 78 persen warga Spanyol setuju negara-negara Eropa harus mengakui Palestina, dengan mayoritas tetap mendukung solusi dua negara (two-state solution).

Bertahan di Tengah Posisi Sulit di Uni Eropa

Langkah berani Spanyol ini tidaklah mudah. Di tingkat kawasan, Uni Eropa (UE) mengalami perpecahan internal yang tajam. Negara-negara besar seperti Jerman, Prancis, dan Italia memilih bersikap hati-hati, sementara Austria dan Belanda menunjukkan penentangan.

Meskipun Madrid awalnya mengakui hak Israel untuk membela diri pasca-serangan 7 Oktober 2023, Spanyol dengan cepat membedakan diri dari mayoritas anggota UE dengan mengutuk keras skala kehancuran di Gaza. Posisi luar negeri Spanyol ini bahkan sering memicu kritik tajam langsung dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Namun, posisi Spanyol bukannya tanpa kontradiksi. Pada awal 2024, pemerintah Spanyol sempat menuai kritik dari Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese. Spanyol kedapatan mengizinkan puluhan ribu unit peralatan militer dari Amerika Serikat transit menuju Tel Aviv melalui bandara Zaragoza, meskipun Spanyol sendiri sudah menyetop ekspor senjata mandirinya ke Israel.

Kendati demikian, Spanyol terus membuktikan komitmennya. Bersama enam negara Eropa lainnya (Islandia, Irlandia, Luksemburg, Slovenia, Malta, dan Norwegia), Spanyol merilis pernyataan bersama yang mengecam bencana kemanusiaan buatan manusia di Gaza.

Langkah Nyata dan Dukungan pada Perjuangan Palestina

Manifestasi terbaru dari komitmen Spanyol ini terlihat dari langkah nyata pada awal tahun 2026. Melalui rangkaian pertemuan di Madrid, Spanyol memimpin pergerakan internasional untuk membantu mengatasi krisis finansial yang mencekik Otoritas Palestina. Krisis ini terjadi akibat penahanan pendapatan pajak oleh Israel selama sembilan bulan berturut-turut.

Spanyol kembali menegaskan komitmennya untuk memobilisasi negara-negara donor guna mengamankan hibah baru bagi dana “Aliansi Darurat untuk Keberlanjutan Keuangan Pemerintah Palestina” melalui koordinasi bersama Arab Saudi, Prancis, dan Norwegia. (Foto: WAFA)

Menteri Keuangan dan Perencanaan Palestina, Estephan Salameh, berkunjung ke Madrid untuk berkoordinasi langsung dengan jajaran menteri Spanyol, termasuk Menteri Luar Negeri José Manuel Albares. Spanyol berkomitmen memobilisasi negara-negara donor melalui dana “Aliansi Darurat untuk Keberlanjutan Keuangan Pemerintah Palestina”. Inisiatif yang didukung Prancis dan Arab Saudi ini sebelumnya telah menyalurkan dana bantuan sebesar $200 juta untuk membayar gaji sektor-sektor penting di Palestina.

Tidak hanya itu, Spanyol juga menjanjikan peningkatan bantuan pembangunan langsung untuk Palestina menjadi €75 juta dalam dua tahun ke depan. Dana tersebut dialokasikan untuk dukungan anggaran, intervensi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat, serta peningkatan pendanaan bagi badan pengungsi PBB (UNRWA).

Bagi warga di Gaza, setiap bantuan finansial, pengakuan kedaulatan, dan kibaran bendera di lapangan hijau oleh pemain Spanyol adalah pesan kuat: bahwa di belahan bumi lain, di tengah rumitnya geopolitik Eropa, suara dan hak mereka untuk hidup merdeka belum dilupakan.

Fuad Nur Zaman

Sumber:

Bourekba, Moussa. “Escalation within Continuity: Spain’s Foreign Policy towards Israel and Palestine after October 7th.” IFRI Memos, May 5, 2026. https://www.ifri.org/en/memos/escalation-within-continuity-spains-foreign-policy-towards-israel-and-palestine-after-october

Humaid, Maram. “Football, war and solidarity: Why Gaza fans turned to Spain this World Cup”, Al Jazeera, June 22, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/6/22/football-war-and-solidarity-why-gaza-fans-turned-to-spain-this-world-cup

Palestine News & Info Agency, “Spain pledges continued political, financial, and development support for Palestine”, WAFA, January 18, 2026. https://english.wafa.ps/Pages/Details/166317

Ida Rosdalina, “Why Spain Stands in Support of Palestine”, TEMPO English, May 22, 2025. https://en.tempo.co/read/2009906/why-spain-stands-in-support-of-palestine

 

 

You might also like