Gaza, NPC – Dalam sepekan terakhir, situasi di Palestina kembali diwarnai eskalasi kekerasan, krisis kemanusiaan yang kian dalam, serta sorotan internasional terhadap dampak perang yang berkepanjangan. Dari Jalur Gaza hingga Tepi Barat, laporan berbagai media menunjukkan bahwa warga sipil terus menjadi pihak yang paling terdampak, baik melalui serangan militer, keterbatasan akses pangan, maupun runtuhnya layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah laporan menyoroti berbagai aspek krisis yang saling berkaitan, mulai dari meningkatnya jumlah korban jiwa, tekanan terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga merembet ke dimensi sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang lebih luas.
Rabu (23/06/2026) – Sebuah laporan investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa Israel melakukan serangan yang menargetkan anak-anak Palestina di Gaza dengan sengaja. Laporan tersebut menyebut adanya pelanggaran serius hukum humaniter internasional.
Temuan itu memperkuat kekhawatiran global terkait dampak perang terhadap generasi muda Palestina, di tengah meningkatnya jumlah korban anak dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam laporan komprehensif yang dipresentasikan pada Selasa (23/06/2026) dalam rangkaian Sidang ke-62 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, disebutkan bahwa pembunuhan anak-anak dan menyebabkan mereka mengalami luka berat terus berlangsung, meskipun perjanjian gencatan senjata telah diumumkan di Jalur Gaza sejak 10 Oktober 2025.
Ketua komite, Srinivasan Muralidhar, menegaskan bahwa bukti-bukti yang telah didokumentasikan menunjukkan secara jelas adanya penargetan langsung terhadap anak-anak oleh pasukan pendudukan Israel, dengan mengabaikan sepenuhnya hukum humaniter internasional.
Demi Mencari Suaka, Ayah dan Anak Asal Gaza Berenang Tujuh Jam dari Turki ke Yunani
Rabu (23/06/2026) – Sekelompok pemukim ilegal Israel membakar lahan perkebunan zaitun di Desa Burqa, wilayah tengah Tepi Barat yang diduduki, pada Jumat lalu. Saksi mata dan pejabat setempat melaporkan amuk massa tersebut menghanguskan sekitar 10 dunam (setara satu hektare) lahan penduduk Palestina. Tindakan tersebut memicu kerugian besar bagi petani lokal yang menggantungkan hidup pada hasil panen zaitun.
Ketua Dewan Desa Burqa, Sayel Kanaan, mengungkapkan bahwa puluhan pemukim Israel menyerbu kawasan yang terletak di timur Kota Ramallah tersebut. Bersamaan dengan serangan itu, militer Israel langsung memblokade pintu masuk utama serta sejumlah jalan alternatif, memutus total mobilitas penduduk Palestina.
Sejumlah saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan tentara Israel berjaga ketat di sekitar desa selama penyerangan berlangsung. Alih-alih membendung aksi anarkistis pemukim, militer justru meringkus beberapa pemuda Palestina. Sementara itu, serangan para pemukim dilaporkan kian meluas hingga ke sekitar permukiman warga.
Selasa (23/06/2026) – Memasuki musim panas 2026, krisis air di Jalur Gaza telah mencapai titik nadir sebagai “bencana absolut” akibat hancurnya infrastruktur secara masif. Direktur Jenderal Otoritas Air Gaza, Dr. Munzer Salem, mengungkapkan bahwa sekitar 85 hingga 90 persen infrastruktur jaringan air dan sanitasi telah hancur total akibat perang.
Sebanyak 80 persen dari total 400 sumur air di kawasan tersebut kini berhenti beroperasi karena rusak, kehabisan bahan bakar, atau terisolasi di zona militer, yang diperparah dengan lumpuhnya 85 persen stasiun penyulingan air (desalinasi) swasta.
Pertama di Eropa, Pustaka Khusus Palestina Dibuka di Barcelona
Kondisi tersebut memicu merosotnya produksi air harian secara drastis di Gaza, dari yang semula mencapai 300 ribu meter kubik sebelum perang, merosot tajam menjadi kurang dari 120 ribu meter kubik.
Angka ini mencerminkan defisit produksi langsung sebesar lebih dari 60 persen, sementara defisit riil untuk memenuhi kebutuhan total penduduk melonjak hingga berkisar antara 75 hingga 90 persen. Keadaan kian runyam lantaran tingkat kebocoran pipa jaringan air mencapai 70 persen akibat hancur dibom atau karena modifikasi darurat oleh warga yang telantar demi menyambung hidup.
Dampaknya, sebanyak 85 persen warga Gaza kini sepenuhnya kehilangan akses terhadap air bersih dan terpaksa bergantung pada pasokan truk tangki air keliling yang distribusinya tidak teratur. Jatah konsumsi air harian per orang pun merosot drastis dari batas normal 80–100 liter menjadi hanya 5 hingga 10 liter saja. Di wilayah pengungsian yang padat, kondisinya jauh lebih mengenaskan; pasokan air menyusut hingga di bawah 7 liter per orang per hari, dengan hanya 2 liter di antaranya yang layak dikonsumsi oleh manusia.
Selasa (24/06/2026) – Pasien diabetes di Jalur Gaza menghadapi kondisi kritis akibat kelangkaan insulin dan peralatan medis, karena Israel memblokir masuknya alat-alat kesehatan dan obat-obatan ke Gaza. Kekurangan pasokan ini menyebabkan risiko komplikasi kesehatan yang dapat berujung fatal. Tenaga medis menyebut blokade Israel dan terbatasnya distribusi bantuan menjadi faktor utama memburuknya kondisi pasien penyakit kronis di wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza berulang kali menegaskan bahwa krisis obat-obatan dan alat kesehatan telah mencapai lampu merah. Absennya pasokan suntikan insulin kini kian memperpanjang penderitaan sekitar 11 ribu pasien diabetes yang bergantung pada pengobatan rutin tersebut. Kementerian juga memperingatkan ratusan jenis obat esensial di berbagai rumah sakit dan pusat kesehatan terancam habis total.
Dalam laporan sebelumnya, otoritas kesehatan Gaza itu telah mewanti-wanti bahwa sekitar 70 hingga 80 ribu pasien diabetes di Jalur Gaza kini diintai risiko kesehatan yang fatal. Nyawa mereka terancam akibat kelangkaan akut insulin dan strip tes gula darah, yang diperparah oleh ambruknya layanan medis serta krisis gizi buruk.
Kamis (25/06/2026) — Tokoh progresif keturunan Palestina, Aber Qawas, selangkah lagi menorehkan sejarah dengan mendekati kursi Senat Negara Bagian New York setelah menyapu bersih kemenangan dalam pemilu pendahuluan Partai Demokrat. Qawas meraup sekitar 60 persen suara, menjadikannya perempuan Muslim-Palestina pertama yang kian dekat dengan lingkaran pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Kemenangan besar ini diraih di tengah terjangan ombak kampanye hitam dan disinformasi yang dilancarkan oleh kelompok sayap kanan serta akun-akun media sosial penyokong Israel sejak ia mendeklarasikan pencalonannya.
Lahir dan besar di New York, langkah politik Qawas didorong oleh sejarah kelam keluarganya yang terusir dari Palestina pada tragedi Nakba 1948 ke Yordania, sebelum akhirnya bermigrasi ke Negeri Paman Sam. Pengalaman getir masa kecilnya ketika sang ayah ditangkap dan dideportasi oleh otoritas imigrasi AS (ICE), sempat membuatnya apatis terhadap sistem politik pemilu. Namun, krisis kemanusiaan yang berlarut di tanah leluhurnya justru membalikkan haluan tersebut; Qawas menjadikan isu migrasi, lonjakan biaya hidup, hingga tuntutan penghentian pendanaan “genosida di Gaza” sebagai amunisi utama kampanye.
Keberhasilan Qawas mencerminkan peta politik New York yang kian bergeser ke kiri, melanjutkan gelombang kemenangan faksi sayap progresif yang puncaknya ditandai oleh terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York pada musim panas lalu. Disokong penuh oleh Mamdani dan faksi “Demokrat Sosialis Amerika” (DSA), Qawas menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi representasi simbolis. Ia bertekad membawa narasi gerakan akar rumput serta menyuarakan hak-hak komunitas marjinal yang selama ini tersisih dari panggung kekuasaan New York.
Kamis (25/06/2026) –
Militer Israel menangkap Dr. Mazen Al-Rantisi, seorang dokter spesialis kenamaan Palestina berusia 71 tahun yang dijuluki masyarakat sebagai “Dokter Kaum Miskin”. Penangkapan ini dilakukan melalui penggerebekan mendadak sebelum fajar di kediamannya yang terletak di lingkungan Al-Tira, Ramallah, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Al-Rantisi kemudian digelandang ke pos polisi di permukiman ilegal Ma’ale Adumim untuk diinterogasi oleh Unit Investigasi Khusus, tanpa adanya kejelasan mengenai motif penahanan maupun lokasi persis keberadaannya saat ini.
Laporan surat kabar Israel, Haaretz, mensinyalir bahwa penahanan ini bertalian erat dengan posisi Al-Rantisi sebagai Ketua Union of Health Work Committees (UHWC), sebuah organisasi nirlaba medis yang melayani ribuan warga miskin di pedisiran Tepi Barat sejak 1985. Militer Israel sebelumnya telah melabeli UHWC sebagai “asosiasi terlarang” pada 2020 dengan dalih regulasi darurat era Mandat Britania, disusul penutupan paksa markas pusat mereka dua tahun kemudian. Kendati demikian, lembaga kemanusiaan tersebut tetap terdaftar secara legal di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri Otoritas Palestina.
Penangkapan tersebut memicu kecaman dari berbagai organisasi HAM yang menilai tindakan itu sebagai bagian dari pengetatan terhadap masyarakat sipil Palestina. Kasus Al-Rantisi menambah panjang daftar kelam, di mana hingga pertengahan 2026, sekitar 9.446 penduduk Palestina, termasuk 14 dokter asal Gaza, masih mendekam di bui Israel tanpa dakwaan resmi.
Kamis (25/06/2026) – Pemimpin Gereja Anglikan Uskup Agung Canterbury, Sarah Mullally, menyerukan penghentian pendudukan Israel atas Palestina usai kunjungan pastoral ke wilayah tersebut. Seruan itu juga menekankan perlunya solusi politik yang adil dan berkelanjutan bagi kedua pihak.
Pemimpin tertinggi Gereja Inggris itu bersama Uskup Agung Anglikan Yerusalem, Hosam Naoum, merilis surat bersama yang menyerukan komunitas Anglikan global agar menekan para politikus dunia demi membuka jalur konkret menuju penghentian pendudukan. Langkah ini dinilai krusial untuk mewujudkan solusi dua negara agar masyarakat Israel dan Palestina dapat hidup berdampingan dengan damai, bermartabat, dan aman, dengan Yerusalem sebagai ibu kota bersama.
Mullally melontarkan kecaman keras terhadap perluasan permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat yang kian agresif, kekerasan ekstrem oleh kelompok pemukim, diskriminasi sistemik, serta blokade militer yang membuat warga Palestina telantar dan kehilangan daya. Di sektor lain, ia mewanti-wanti ambruknya sistem kesehatan di Jalur Gaza secara katastrofik. Isu geopolitik ini disebutnya bukan sekadar masalah teritorial, melainkan wujud dari krisis spiritual yang mendalam, pengabaian hukum internasional secara berjamaah, serta kecenderungan global yang berbahaya untuk terus mengandalkan kekuatan militer.
Selama misinya, Mullally juga menyoroti ancaman nyata terhadap masa depan eksistensi komunitas Kristen lokal di Tanah Suci yang kian tergerus akibat konflik tak berkesudahan. Sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, ia menanam pohon zaitun bersama keluarga Daoud Nassar, penduduk Kristen Palestina yang gigih mempertahankan tanah mereka dari sitaan Israel sejak 1991. Isu ini dipastikan bakal bergulir panas di dalam negeri Inggris bulan depan, seiring dengan agenda majelis tahunan Gereja Inggris (Sinode Umum) yang akan mendebat peninjauan kembali kebijakan investasi mereka di wilayah konflik tersebut.
Jumat (25/06/2026) – Pihak berwenang Israel membebaskan 13 tahanan Palestina dari Jalur Gaza. Sumber-sumber lokal Palestina menyebutkan bahwa para tahanan yang dibebaskan tiba di Rumah Sakit Shuhada Aqsa di Deir al-Balah, bagian tengah Jalur Gaza.
Para tahanan yang dibebaskan tampak menderita kelelahan parah dan kekurangan gizi akibat kondisi penahanan mereka. Banyak dari mereka dipindahkan ke bangsal rumah sakit khusus untuk perawatan luka dan penyakit yang memburuk selama mereka dipenjara.
Kasus pembebasan tahanan dengan kondisi fisik yang memprihatinkan ini kembali menelanjangi potret kelam sistem penahanan militer Israel. Kesaksian dari para tahanan yang dilepaskan sebelumnya kerap mengungkap pola pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis, mulai dari penyiksaan fisik, penghinaan, hingga pembiaran medis.
Banyak di antara tahanan yang dibebaskan mengalami penurunan berat badan drastis, trauma psikologis berat, hingga luka fisik permanen akibat tidak adanya akses pengobatan yang layak selama berada di balik jeruji besi.
Jumat (26/06/2026) – Pasukan Israel melakukan operasi penangkapan di sejumlah wilayah Tepi Barat yang diduduki, sementara laporan juga menyebut adanya aksi pembakaran lahan pertanian oleh pemukim.
Rangkaian kekerasan terbaru ini memperpanjang catatan kelam penindasan di Tepi Barat. Data resmi otoritas Palestina menunjukkan bahwa sejak meletusnya genosida Gaza pada 7 Oktober 2023, agresi militer dan amuk pemukim Israel telah membunuh 1.173 penduduk Palestina, melukai 12.666 orang, dan menjebloskan sekitar 23 ribu warga ke jeruji besi, serta memicu pengungsian bagi 33 ribu lainnya.
Pihak Palestina memperingatkan bahwa pembiaran atas rentetan intimidasi ini merupakan strategi terselubung Tel Aviv untuk mencaplok total Tepi Barat secara resmi sekaligus mengubur asa berdirinya negara Palestina yang berdaulat.
Sabtu (27/06/2026) – Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara ke wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza pada Sabtu, 27 Juni 2026. Serangan pesawat tanpa awak (drone) Israel menyasar tenda-tenda pengungsian penduduk Palestina di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, yang membunuh sejumlah warga dan melukai beberapa lainnya.
Selain korban dalam serangan terbaru itu, tim medis Rumah Sakit Nasser juga mengonfirmasi kematian seorang bocah berusia 10 tahun, Walid Youssef Abu Jazar, akibat luka parah dari pengeboman Israel di lokasi yang sama beberapa hari sebelumnya.
Militer Israel dilaporkan juga melakukan penetrasi di wilayah tengah Gaza. Otoritas lokal menyebut situasi keamanan semakin memburuk di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di tengah gencatan senjata.
(T.FJ/S: Aljazeera, The Guardian, AlQuds, Palinfo)