Di Balik Keteguhan Rakyat Palestina, PBB : Nasib Gaza Hanya Ditopang Solusi Sementara

(Foto: meer.com)

Warga sipil di Wilayah Pendudukan Palestina saat ini bertahan hidup di tengah krisis yang datang bertubi-tubi. Mereka harus hidup tanpa ruang hidup yang aman, pengungsian yang terjadi berulang kali, hingga ruang gerak yang makin menyempit. Di bawah kepungan dinding pembatas dan jalur bantuan yang serba terbatas, satu-satunya hal yang membuat wilayah ini tetap bertahan adalah keteguhan luar biasa dari rakyat Palestina.

Namun, keteguhan ini sedang berada di titik nadir. Dalam sebuah pernyataan di hadapan Dewan Keamanan PBB pada 18 Juni 2026, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa saat ini Gaza dipertahankan oleh solusi kemanusiaan yang bersifat sementara serta keteguhan bangsa Palestina. Bagi Fletcher, kondisi ini sangat rapuh dan tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Sebab, di balik ketaguhan yang disaksikan dunia, warga Palestina sebenarnya sedang dipaksa hidup dalam perampasan hak-hak paling mendasar.

Hidup yang Didikte oleh Garis Pembatas

Di Jalur Gaza, rumah bukan lagi tempat berlindung yang aman, melainkan petak tanah yang ukurannya terus mengecil atau hilang sama sekali. Warga dipaksa berjejal di ruang sempit yang areanya terus berubah akibat konflik dan pendudukan paksa. Fletcher menggambarkan situasi pelik ini melalui garis pembatas “kuning” dan “oranye” yang terus bergeser. Garis-garis inilah yang mendikte ke mana warga harus berlari mencari perlindungan hari ini, dan ke mana mereka harus mengungsi lagi esok hari.

Perubahan garis batas yang tidak menentu ini merupakan teror psikologis yang nyata bagi warga. Tempat yang hari ini dianggap aman, seperti rumah sakit atau tenda darurat, bisa saja berubah menjadi zona bahaya keesokan harinya. Di sinilah keteguhan warga Gaza diuji. Di tengah kelangkaan air bersih, krisis pangan, dan hancurnya fasilitas kesehatan, mereka tetap bergerak mandiri. Warga saling berbagi sisa makanan, merawat anak-anak yatim di tenda tetangga, dan menyuling air seadanya.

Solidaritas ini menjadi jaring pengaman terakhir mereka. Namun, situasi ini menyimpan ironi yang kejam: dunia seolah menuntut warga Gaza untuk selalu tabah, sementara kebutuhan dasar mereka, seperti keamanan, tempat tinggal yang layak, dan pendidikan, gagal dipenuhi oleh sistem internasional.

Tom Fletcher (PBB) memperingatkan bahwa kemajuan di Gaza masih rapuh dan hanya bergantung pada bantuan sementara dan ketahanan rakyatnya. (Foto: AA)

Penghapusan Ruang Hidup yang Senyap dan Mematikan

Jika Gaza adalah potret krisis yang meledak-ledak, Tepi Barat dan Yerusalem Timur adalah kisah tentang pengikisan ruang hidup yang senyap dan mematikan. Sepanjang tahun 2026, kemerosotan yang telah berlangsung puluhan tahun berjalan kian cepat. Tekanan di wilayah ini terwujud dalam bentuk kebijakan diskriminatif, pengusiran paksa, serta penghancuran rumah tinggal. Kondisi ini diperparah oleh melonjaknya serangan pemukim Israel dan retorika politik pejabat Israel yang terang-terangan menyerukan “migrasi sukarela” bagi warga Palestina. Mengusir mereka dari tanah kelahirannya.

Masyarakat Tepi Barat melawan tekanan ini dengan sumud, sebuah istilah lokal yang berarti keteguhan hati untuk tetap bertahan di tanah kelahiran. Saat rumah mereka dihancurkan, warga segera mendirikan tenda di atas puing-puingnya. Ketika kebun zaitun mereka disita, mereka tetap merawat pohon yang tersisa.

Aksi bertahan ini adalah bentuk perlawanan nyata terhadap upaya mengubah komposisi penduduk di wilayah tersebut. Istilah “migrasi sukarela” sejatinya hanyalah bahasa halus dari pengusiran paksa yang melanggar hukum internasional. Dengan memilih untuk tidak pergi, masyarakat Tepi Barat menegaskan bahwa identitas dan hak atas tanah mereka tidak bisa dihapus begitu saja.

Sektor Kemanusiaan: Napas Buatan yang Terhambat

Meskipun gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 memberikan sedikit ruang bagi para pekerja kemanusiaan, operasional di lapangan tetap pincang. Mitra kemanusiaan harus menembus birokrasi yang rumit, pembatasan akses, dan ketidakpastian yang tinggi. Akibatnya, sistem distribusi obat-obatan dan bantuan pangan darurat terus berada di bawah tekanan hebat.

Keteguhan warga Palestina tidak akan cukup tanpa adanya bantuan dari luar. Sektor kemanusiaan berfungsi sebagai napas buatan yang menjaga masyarakat ini tetap bertahan hidup. Oleh karena itu, seruan PBB untuk pendanaan yang tepat waktu, fleksibel, dan sebanding dengan skala krisis menjadi sangat krusial. Ketika bantuan dihambat, kelompok paling rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang sakit, menjadi pihak yang pertama kali terdampak. Menjamin kelancaran bantuan berarti menahan agar seluruh sistem kehidupan di Palestina tidak kolaps sepenuhnya.

Keteguhan Manusia Ada Batasnya

Krisis yang terjadi dari Gaza hingga Tepi Barat membawa kita pada satu kesimpulan penting: keteguhan manusia ada batasnya. Mengagumi keteguhan dan ketabahan bangsa Palestina tanpa berjuang mengubah nasib mereka adalah sebuah kegagalan moral global. Mereka tidak bisa terus-menerus dipaksa beradaptasi dengan penderitaan dan bergantung pada solusi-solusi sementara yang rapuh.

Keteguhan yang mereka tunjukkan sejauh ini adalah bukti martabat manusia yang menolak tunduk pada keadaan. Namun, dunia berutang lebih dari sekadar kata-kata pujian. Sudah saatnya komunitas internasional mengambil langkah nyata, menghentikan kebijakan pengusiran yang ilegal, membuka total blokade bantuan, dan memberikan hak paling hakiki yang diinginkan oleh setiap manusia untuk keluarganya sendiri: keamanan, kemerdekaan, dan masa depan yang pasti.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Merve Aydogan, “UN relief chief says Gaza held together by ‘humanitarian workarounds, Palestinian perseverance’”, Anadolu Agency, June 19, 2026. https://www.aa.com.tr/en/world/un-relief-chief-says-gaza-held-together-by-humanitarian-workarounds-palestinian-perseverance/3971462

UNOCHA, Today’s top news: Occupied Palestinian Territory, Lebanon, Sudan, Democratic Republic of the Congo, ECOSOC HAS”, OCHA, June 19, 2026. https://www.unocha.org/news/todays-top-news-occupied-palestinian-territory-lebanon-sudan-democratic-republic-congo-ecosoc

Relief Web, “oPt: Humanitarian Situation Report | 19 June 2026”, Relief Web, June 22, 2026. https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/opt-humanitarian-situation-report-19-june-2026

 

You might also like