Washington, NPC – Utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour pada hari Kamis (18/06/2026), menyerukan diakhirinya “segera dan tanpa syarat” krisis kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza.
Berbicara kepada anggota Dewan Keamanan PBB, Mansour menuduh Israel berulang kali melanggar hukum internasional dan gagal mematuhi kewajiban kemanusiaan.
“Kami juga tahu Israel tidak berniat mematuhi aturan ini. Sekarang telah terdaftar karena pelanggaran beratnya terhadap anak-anak Palestina, untuk kekerasan seksual yang dilakukan terhadap warga Palestina.
“Israel memiliki catatan yang mengerikan dan tak tertandingi dalam jumlah anak-anak yang terbunuh, personel PBB yang terbunuh, pekerja kemanusiaan yang terbunuh, tenaga medis yang terbunuh, jurnalis yang terbunuh,” katanya pada pertemuan Dewan tentang situasi di Timur Tengah.
Dia menyebut Israel menghancurkan rumah sakit dan sekolah serta membatasi akses ke layanan penting termasuk listrik, air dan sanitasi.
“Israel menghancurkan rumah sakit dan sekolah serta menolak pengelolaan listrik, air, limbah dan membuat seluruh penduduk sipil kelaparan.Israel menghadapi kritik dari tindakan melanggar hukumnya. Israel juga lebih suka menyerang para kritikus daripada mengakhiri pelanggaran beratnya.”
Mansour menegaskan, tindakan Israel yang terus melanggar hukum internasional membuat kehidupan warga Palestina menjadi seperti neraka.
Kesepakatan gencatan senjata dicapai di Gaza setelah lebih dari dua tahun perang yang dimulai pada Oktober 2023, menyebabkan puluhan ribu warga Palestina tewas dan terluka, menurut pihak berwenang setempat.
Terlepas dari kesepakatan itu, Mansour mengatakan Israel membunuh lebih dari 1.000 warga Palestina sejak gencatan senjata mulai berlaku.
“Apakah kita memiliki gencatan senjata permanen atau kita memiliki gencatan senjata rapuh yang berkelanjutan?” katanya.
Mansour mengatakan warga Palestina di Gaza terus menghadapi kekurangan layanan kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi.
“Tidak ada alasan untuk bencana manusia yang dibuat-buat ini. Mengakhirinya harus tanpa syarat.
“Warga Palestina di Gaza telah menunggu cukup lama, terlalu menderita, dan tidak dapat diminta untuk menunggu lebih lama lagi,” tambahnya.
(T.RA/S: Anadolu Agency)