Dunia sepak bola modern sering mempromosikan diri sebagai ruang yang bersih dari politik. Lewat slogan seperti “Say No to Racism” hingga “Football Unites the World”, FIFA selalu menarasikan olahraga ini sebagai pemersatu universal. Namun, realitas di lapangan hijau justru menunjukkan hal sebaliknya. Ketika hukum internasional buntu, sepak bola sering kali menjadi panggung yang memperlihatkan bias politik dan ketidakadilan global yang nyata.
Paradoks ini terasa kian getir selama gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Di saat miliaran orang merayakan pesta sepak bola tersebut, warga Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur justru menjalaninya di tengah kehancuran. Di balik kemeriahan stadion-stadion megah, ada duka mendalam dari sebuah bangsa yang sepak bolanya hancur total, sebuah realitas yang memicu gugatan besar terhadap keadilan institusi sepak bola dunia.
Sejak konflik meluas, Liga Profesional Palestina praktis berhenti total selama hampir tiga tahun. Di wilayah pendudukan seperti Tepi Barat dan Yerusalem Timur, menggelar pertandingan menjadi hal yang mustahil akibat penutupan jalan oleh militer, pembekuan dana, dan masalah keamanan. Penghentian liga ini bukan sekadar penundaan jadwal biasa, melainkan pukulan ekonomi yang memutus karier para atlet di usia emas mereka.
Banyak pesepak bola profesional yang dulu berpenghasilan ribuan dolar per bulan kini kehilangan pendapatan. Demi menghidupi keluarga, mereka terpaksa mengambil pekerjaan kasar. Kisah ini dialami langsung oleh Mahdi Hijazi (23), mantan pemain tim nasional Palestina dan klub elite Hilal Al-Quds. Alih-alih bertanding di turnamen besar Asia, Hijazi kini menghabiskan harinya di pinggir lapangan kecil kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, wilayah yang terus didera penggusuran paksa. Ia kini sekadar membantu membagikan minuman untuk anak-anak akademi sambil bekerja sampingan di bisnis jual-beli mobil bekas.
Pembekuan sepak bola Palestina membawa dampak sistemik yang saling berkaitan, dimulai dari krisis kompetisi dan hantaman finansial. Di sektor kompetisi, liga profesional terpaksa mati suri dan banyak infrastruktur olahraga yang rusak atau disita. Hal ini langsung memicu krisis keuangan di mana para pelaku sepak bola kehilangan gaji total, sehingga banyak dari mereka yang terpaksa alih profesi menjadi buruh kasar demi menyambung hidup.
Akibat akumulasi dari krisis kompetisi dan finansial tersebut, terjadilah eksodus dan stagnasi atlet. Para pemain profesional terpaksa mencari penghidupan dengan bermain di luar negeri, sementara di dalam negeri, mata rantai regenerasi pemain muda terputus total karena tidak adanya wadah untuk berkembang.
Kondisi serupa mencekik sepak bola putri, yang padahal sempat mengukir sejarah dengan menjuarai Kejuaraan Federasi Sepak Bola Asia Barat (WAFF). Klub-klub tempat mereka bernaung kini bubar karena krisis keuangan setelah dana Otoritas Palestina dibekukan oleh Israel. Para pelatih memperingatkan bahwa mandeknya kompetisi ini memutus regenerasi pemain muda usia 18 tahun yang seharusnya naik ke tim utama. Selain itu, akibat blokade total, para jurnalis olahraga asal Gaza juga kehilangan akses untuk meliput Piala Dunia 2026, membuat suara mereka terisolasi dari panggung dunia.
Kekosongan kompetisi di Palestina memicu kritik tajam terhadap FIFA dan UEFA yang dinilai menerapkan standar ganda dalam menjatuhkan sanksi. Perbedaan sikap ini terlihat sangat mencolok jika kita menyandingkan dua kasus berikut:
Tuntutan resmi dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) bersama puluhan negara untuk menangguhkan keanggotaan Israel terus-menerus ditunda dalam kongres FIFA dengan dalih perlunya “kajian hukum.” Sikap mengulur waktu ini memperkuat persepsi publik bahwa regulasi FIFA tebang pilih dan tunduk pada pengaruh geopolitik negara-negara Barat.
Di tengah ketimpangan sanksi tersebut, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menghadirkan beban psikologis yang berat bagi warga Gaza. Turnamen ini diadakan di Amerika Serikat yang merupakan negara sekutu utama penyokong bantuan militer bagi Israel sepanjang perang genosida. Realitas inilah yang membuat para pengungsi merasa getir saat menyaksikan pertandingan dari balik layar ponsel atau televisi darurat.
Bagi Yousef al-Haddad, seorang mahasiswa yang mengungsi dari Kota Gaza, menonton Piala Dunia dari tenda pengungsian memicu kontradiksi yang menyakitkan.
“Ketika kamera menyorot stadion-stadion megah di Amerika Serikat, saya berpikir betapa berbedanya nasib kami. Negara yang menjadi tuan rumah turnamen terbesar ini adalah negara yang sama yang mendukung pengeboman di tanah kami. Siaran sepak bola jadi campur aduk di kepala kami,” ungkapnya.
Kekecewaan ini bukan diarahkan pada sepak bola itu sendiri, melainkan pada ketidakadilan global. Sameh Abu Jarad, pengungsi dari Gaza Utara, menekankan betapa kontrasnya dunia luar yang berpesta, sementara warga Gaza harus bertahan hidup di bawah ancaman kelaparan. Sepak bola yang awalnya dipandang sebagai bahasa universal yang menyatukan orang, kini mau tidak mau harus dilihat melalui kacamata politik yang pekat oleh warga Palestina.
Sebelum genosida, Piala Dunia adalah bagian penting dari kehidupan sosial warga Gaza. Jalan-jalan di Khan Younis, Rafah, dan Deir al-Balah biasanya ramai dengan kibaran bendera tim-tim besar dan anak-anak yang memakai jersi bintang dunia. Namun, ruang komunal yang hangat itu kini telah rata dengan tanah akibat pengeboman.
Pergeseran suasana Piala Dunia di Gaza sebelum dan saat turnamen 2026 berlangsung menunjukkan kontras yang sangat tajam.
Sebelum perang, atmosfer turnamen selalu disambut dengan perayaan bersama yang meramaikan jalanan. Warga biasanya berkumpul untuk nonton bareng di kafe-kafe tepi pantai, berdebat seru soal taktik dan pemain, serta menikmati momen tersebut dalam komunitas yang utuh.
Saat Piala Dunia 2026, kehangatan itu berubah total. Lingkungan yang dulunya ramai kini hancur menjadi puing-puing akibat pengeboman. Warga yang tersisa terpaksa menonton secara sembunyi-sembunyi dari dalam tenda pengungsian dengan fasilitas seadanya. Fokus mereka tidak lagi pada permainan di lapangan, melainkan beralih pada perjuangan mencari informasi bantuan dan makanan. Suasana komunal pun retak karena banyak teman menonton mereka yang telah gugur dalam genosida berkepanjangan.

Kafe-kafe di sepanjang pantai Gaza, yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan anak muda untuk menonton bareng, kini sudah hancur. Beberapa tempat yang mencoba bertahan menghadapi kendala yang hampir mustahil: pemadaman listrik total, biaya generator yang mahal, serta keruntuhan ekonomi.
Kehilangan terbesar sebenarnya adalah hancurnya hubungan sosial itu sendiri. Kelompok teman yang dulu rutin menonton bersama kini terpisah oleh kematian, cedera, atau pengungsian yang berulang.
Mahmoud al-Ashi mengenang sahabat karibnya yang selalu duduk di sebelahnya di setiap turnamen, yang kini telah gugur dalam serangan udara. Di Gaza hari ini, sepak bola bukan lagi sekadar hiburan, melainkan pengingat pilu akan orang-orang terdekat yang telah hilang selamanya.
Meski dihimpit trauma, kecintaan warga Palestina terhadap sepak bola tidak sepenuhnya padam. Di pusat pengungsian, para pemuda masih berusaha mencari sinyal internet dan menggunakan baterai portabel demi menonton pertandingan lewat ponsel. Di tengah situasi yang mencekam, menonton sepak bola berubah fungsi menjadi hiburan sesaat untuk melupakan ketakutan.
Analis politik Mustafa Ibrahim menilai dilema emosional ini sangat wajar. Adalah hal yang manusiawi jika mereka ingin menikmati permainan, tetapi wajar pula jika mereka merasa getir melihat dunia luar berpesta di saat mereka sendiri harus berjuang untuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, sepak bola bagi warga Palestina adalah pengikat ingatan pada kehidupan normal yang pernah mereka miliki. Seperti yang dikatakan oleh Abu Mohammed, seorang ayah di Khan Younis, melihat stadion yang penuh penonton mengingatkannya pada ruang bermain anak-anaknya yang kini hilang. Namun, mereka menolak berhenti menonton. Sepak bola tetap dirawat dari balik tenda pengungsian sebagai pesan bahwa di titik terendah sekalipun, mereka menolak untuk menyerah.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Sally Ibrahim, “Despite Israel’s genocide, Gaza’s Palestinians football fans are trying to follow 2026 World Cup”, The New Arab, June 12, 2026. https://www.newarab.com/news/gaza-watches-2026-world-cup-despite-israels-genocide
Al Jazeera, “‘Losing three years set us back 20’: Palestinian football’s future in peril”, Al Jazeera, June 14, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/6/14/losing-three-years-set-us-back-20-palestinian-footballs-future-in-peril