Palestina dan Pergeseran Sikap Dunia: Ketika Dukungan Datang dari Jantung Barat

Oleh: Ihsan Zainuddin

Peneliti Lembaga Kajian Strategis Nusantra Palestina Center (LKS-NPC)

Selama bertahun-tahun, dukungan terhadap Palestina sering digambarkan sebagai suara yang hanya berasal dari negara-negara Arab dan dunia Islam. Namun perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan kenyataan yang berbeda. Dukungan terhadap Palestina kini semakin meluas dan menemukan gaungnya di berbagai negara Barat, baik melalui jalur politik, budaya, akademik, media, maupun masyarakat sipil.

Salah satu perkembangan terbaru yang menarik perhatian adalah munculnya partai politik baru di Selandia Baru bernama Free Palestine from the River to the Sea yang diprakarsai oleh aktivis politik Paul Hopkinson. Partai tersebut berupaya mengikuti pemilihan parlemen Selandia Baru tahun 2026 dengan membawa agenda yang secara terbuka mendukung hak-hak rakyat Palestina.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang mengiringinya, kemunculan partai tersebut menunjukkan bahwa isu Palestina tidak lagi dipandang sebagai konflik yang jauh dari kehidupan masyarakat Barat. Sebaliknya, isu ini telah menjadi bagian dari diskursus politik internasional yang menyentuh persoalan hak asasi manusia, keadilan global, dan hukum internasional.

Fenomena ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak tokoh dan institusi di negara-negara Barat yang menyampaikan kritik terbuka terhadap kebijakan Israel. Di Spanyol, misalnya, Perdana Menteri Pedro Sánchez menghadiri festival musik Primavera Sound di Barcelona yang secara terang-terangan mengusung slogan “Break the Silence on Gaza” dan “No to War”. Festival tersebut bahkan menolak keterlibatan Israel sebagai sponsor maupun melalui partisipasi artis-artis yang terkait dengannya. Kehadiran Sánchez dalam acara tersebut dipandang banyak pihak sebagai sinyal politik bahwa dukungan terhadap Palestina telah memperoleh ruang yang lebih luas dalam kehidupan publik Eropa.

Di Inggris, pernyataan resmi Menteri Luar Negeri yang menegaskan bahwa Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negara Palestina menunjukkan bahwa solusi dua negara (Two-State Solution) masih menjadi posisi resmi yang didukung banyak negara Barat. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa permukiman-permukiman Israel yang dianggap ilegal telah merusak proses perdamaian yang selama ini diupayakan oleh komunitas internasional.

Di bidang budaya dan hiburan, suara-suara dukungan terhadap Palestina juga semakin nyaring. Aktor Amerika terkenal Mark Ruffalo secara terbuka menyebut Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat perang” dan mengkritik media-media yang masih memberikan ruang tanpa kritik kepada pemimpin Israel tersebut. Pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa isu Palestina tidak lagi terbatas pada forum-forum politik, tetapi telah menjadi bagian dari perdebatan moral yang melibatkan tokoh-tokoh publik berpengaruh di Barat.

Sementara itu, di Amerika Latin, Presiden Kolombia Gustavo Petro beberapa kali melontarkan kritik keras terhadap tindakan Israel. Bahkan kemarahan Israel sempat mencuat ketika Petro menyamakan tindakan-tindakan Israel dengan praktik Nazi dalam forum Dewan Keamanan PBB. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pilihan kata yang digunakan, peristiwa tersebut menunjukkan semakin beraninya para pemimpin dunia menyampaikan kritik secara terbuka terhadap Israel di forum internasional.

Perubahan suasana global ini juga tercermin dalam media Israel sendiri. Harian Israel Yedioth Ahronoth memperingatkan bahwa Israel berpotensi menghadapi isolasi internasional akibat semakin meluasnya sanksi, tekanan diplomatik, dan gerakan boikot dari berbagai negara dan kelompok masyarakat sipil di dunia. Peringatan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa dukungan internasional yang selama ini dinikmati Israel mulai mengalami erosi yang signifikan.

Semua perkembangan tersebut mengindikasikan adanya pergeseran penting dalam opini publik global. Jika pada masa lalu kritik terhadap Israel sering dianggap sebagai suara marginal, kini kritik tersebut semakin banyak disuarakan oleh politisi, akademisi, seniman, jurnalis, organisasi hak asasi manusia, hingga masyarakat umum di negara-negara Barat. Perubahan ini tidak selalu berarti dukungan terhadap satu pihak dan penolakan terhadap pihak lain, tetapi lebih mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap penderitaan warga sipil serta pentingnya penegakan prinsip-prinsip hukum internasional.

Pada akhirnya, apakah perubahan opini global ini akan mampu mendorong lahirnya solusi politik yang adil dan berkelanjutan masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun satu hal yang semakin jelas: Palestina bukan lagi sekadar isu regional Timur Tengah. Ia telah menjadi isu kemanusiaan global yang menggugah nurani banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara Barat yang selama ini dianggap sebagai sekutu utama Israel.

Ketika dukungan terhadap Palestina mulai muncul dari parlemen, panggung seni, media, universitas, hingga kantor-kantor pemerintahan di Barat, dunia sedang menyaksikan lahirnya babak baru dalam dinamika solidaritas internasional. Babak yang menunjukkan bahwa suara keadilan, seberapa pun lama ditekan, pada akhirnya akan menemukan ruang untuk didengar.

 

You might also like