Jalur Gaza, NPC — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa citra Israel di mata generasi muda Amerika Serikat mengalami kemerosotan tajam di tengah agresi brutal yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS, Netanyahu menyebut Israel kini menghadapi “krisis nyata” dalam mempengaruhi opini publik anak muda Amerika.
Pernyataan itu menjadi pengakuan langka dari pemimpin Israel bahwa operasi militer yang menghancurkan Gaza tidak lagi mudah dibungkus dengan narasi “membela diri” di hadapan publik global, khususnya generasi muda Barat yang menyaksikan langsung kehancuran Gaza melalui media sosial dan laporan independen.
Netanyahu mengatakan Israel kini “terbuka sepenuhnya di hadapan dunia” dan membutuhkan strategi baru untuk merebut kembali “pikiran dan hati generasi muda Amerika”. Namun di tengah ribuan video korban sipil, rumah sakit yang dibombardir, kamp pengungsian yang hancur, dan anak-anak Palestina yang tewas setiap hari, propaganda lama Israel dinilai semakin kehilangan pengaruhnya.
Sejak agresi terhadap Gaza dilancarkan, gelombang demonstrasi besar menyebar di berbagai kampus elite Amerika Serikat. Mahasiswa dan aktivis muda menggelar aksi duduk, pendudukan kampus, hingga boikot akademik sebagai bentuk penolakan terhadap agresi Israel yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan meluluhlantakkan infrastruktur sipil Gaza.
Aksi solidaritas untuk Palestina bermunculan di berbagai kota besar seperti New York, Chicago, hingga Los Angeles. Di banyak kampus, mahasiswa bahkan menuduh pemerintah Amerika Serikat ikut bertanggung jawab karena terus memasok senjata dan perlindungan diplomatik kepada Israel meski jumlah korban sipil terus meningkat.
Perubahan sikap publik Amerika itu juga tercermin dalam berbagai survei yang menunjukkan meningkatnya kritik terhadap Israel, terutama di kalangan generasi muda dan pemilih progresif. Dukungan yang selama puluhan tahun dianggap “otomatis” terhadap Tel Aviv kini mulai retak, seiring semakin luasnya dokumentasi mengenai dampak perang di Gaza.
Dalam wawancara yang sama, Netanyahu juga menyatakan keinginannya agar Israel secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bantuan militer Amerika Serikat. Ia menyebut sudah waktunya bagi Israel untuk “melepaskan diri” dari sisa bantuan militer AS, meski hingga kini Tel Aviv masih menerima sekitar 3,8 miliar dolar AS setiap tahun dari Washington dalam kerja sama keamanan dan militer kedua negara.
(T.RS/S:RTArabic)