Gaza, NPC – Blokade Israel atas Gaza telah melumpuhkan semua lini kehidupan. Hampir semua warga kehilangan mata pencaharian. Ismail Zaqout adalah salah satunya. Pria berusia 41 tahun ini dulunya adalah seorang sopir taksi yang kini kehilangan pekerjaan. Baginya, mobil yang ia kemudi bukan hanya sekadar alat transportasi, tapi juga mesin yang memutar roda kehidupannya. Dengan keluarga yang merjumlah tujuh orang, taksinya adalah “satu-satunya sumber penghasilan.”
Tapi kini, blokade seolah memaksa kendaraan itu terparkir tanpa digunakan. Bukan karena rusak akibat hantaman bom Israel, tapi karena kekurangan oli mesin.
Oli mesin yang dulu menjadi pengeluaran rutin, kini menjadi barang mewah yang tak terjangkau bagi banyak orang di Gaza. Lonjakannya telalu tinggai. Barang yang awalnya berharga 10 shekel per liter saat sebelum perang, kini menjadi 1.500 shekel jika berhasil didapatkan. Zaqout memerlukan biaya sekitar 9.000 shekel untuk penggantian oli sederhana. Kondisi yang memaksanya berkata “Saya harus berhenti bekerja.”
Di seluruh Gaza, ribuan pengemudi menghadapi masalah yang sama, kendaraan mereka terparkir tanpa batas waktu karena jaringan transportasi yang runtuh.
Masalah Hidup dan Mati
Di dalam rumah sakit Gaza, krisis oli mesin berlahan menjadi masalah hidup dan mati bagi pasien. Mazen Al Arayeshi, direktur jenderal pemeliharaan dan teknik untuk Kementerian Kesehatan Palestina, mengatakan kepada The National bahwa ambulans dan peralatan medis penting bergantung pada penggantian oli secara teratur agar dapat berfungsi. Tanpa itu, sistem akan gagal.
“Dalam beberapa hari terakhir, kami terpaksa mematikan salah satu generator utama di Kompleks Medis Nasser,” katanya kepada The National. Salah satu rumah sakit terbesar di Gaza ini, kini beroperasi dalam kondisi darurat, menjalankan generator yang lebih kecil dengan mengurangi kapasitas guna menghemat persediaan yang semakin menipis. Langkah ini tentu saja dilakukan dengan “dengan mengorbankan kesehatan pasien dan kualitas perawatan.”
Ambulans berisiko mogok, peralatan penyelamat nyawa bisa berhenti berfungsi, dan setiap hari berlalu, margin kegagalan semakin menyempit.
Di luar perawatan kesehatan, ekonomi Gaza yang rapuh berlahan menuju jurang kehancuran. Pabrik, toko roti, dan bengkel, banyak yang sudah beroperasi di bawah kendala ekstrem, bergantung pada generator dan mesin yang tidak dapat berfungsi tanpa oli. Ali Al Hayek, kepala Asosiasi Pengusaha Palestina, mengatakan pembatasan berkelanjutan terhadap minyak dan suku cadang mendorong sektor-sektor ini menuju kehancuran.
“Toko roti dan pabrik makanan bisa berhenti beroperasi dalam waktu singkat,” katanya kepada The National. Ia memperingatkan tentang bahaya yang mengancam ketersediaan kebutuhan pokok. Transportasi umum juga berada di ambang kehancuran, karena rumitnya pemeliharaan atas bus dan kendaraan layanan.
Bagi banyak penduduk, pasokan listrik sekarang bergantung pada operator generator swasta, namun bahkan mereka pun kesulitan untuk tetap beroperasi.
Di lingkungan Sheikh Ridwan di kota Gaza, Ibrahim Muhareb mengawasi jaringan kecil generator yang memasok listrik ke rumah dan tempat usaha. Dua bulan lalu, perusahaannya berhasil menyediakan listrik selama lebih dari 16 jam sehari. Sekarang, jumlahnya turun menjadi 11 jam dan bisa turun ldrastis.
“Biayanya tidak tertahankan,” katanya kepada The National. Setiap generator membutuhkan lebih dari 30 liter minyak setiap bulan, yang menelan biaya ribuan dolar. Meskipun mengenakan tarif listrik yang tinggi, pendapatan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya minyak, bahan bakar, dan perbaikan yang melonjak.
Untuk tetap beroperasi, Muhareb dan yang lainnya telah mengambil langkah-langkah alternatif dengan mendaur ulang oli dari mesin yang rusak, dan mengambil suku cadang dari peralatan yang rusak. Namun, pilihan-pilihan tersebut telah habis. Lima generatornya telah rusak dan tidak dapat diperbaiki.
Jika pasokan tidak segera tiba, katanya, jam listrik bisa turun hingga tujuh jam sehari, jauh di bawah kebutuhan rumah tangga dan tempat usaha untuk berfungsi.
Konsekuensinya terasa di setiap aspek kehidupan. Toko-toko tutup lebih awal. Industri kecil melambat atau berhenti memproduksi. Keluarga kesulitan tanpa listrik yang andal. Berawal dari kekurangan oli mesin, kini berkembang menjadi krisis yang memengaruhi mobilitas, perawatan kesehatan, produksi pangan, dan energi.
Pada intinya, masalahnya sederhana: tanpa oli, mesin berhenti. Dan di Gaza, ketika mesin berhenti, kehidupan pun lumpuh.
“Kami menyerukan agar semua barang penting tanpa kecuali segera iizinkan masuk dan meningkatkan volume barang yang masuk ke Jalur Gaza, termasuk oli industri dan makanan serta suku cadang,” tambah Al Hayek.
(T.RA/S: The National)