Jalur Gaza, NPC — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk, terutama di sektor kesehatan. Lebih dari 18.000 pasien dan korban luka dilaporkan masih menunggu evakuasi medis ke luar wilayah, sementara hanya sekitar 700 orang yang berhasil keluar melalui perbatasan Rafah sejak dibuka secara terbatas pada awal Februari lalu.
Data ini disampaikan oleh Palang Merah Palestina melalui juru bicaranya, Raed Al-Nims, dalam wawancara dengan Voice of Palestine, Minggu (19/4).
Evakuasi Lambat, Nyawa Terancam
Al-Nims menegaskan bahwa laju evakuasi saat ini “sangat minim dan tidak sebanding” dengan kebutuhan darurat di lapangan. Dari lebih dari 18.000 pasien yang membutuhkan perawatan segera, hanya sebagian kecil yang berhasil keluar dari Gaza untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri.
Ia memperingatkan bahwa ribuan pasien dalam kondisi kritis kini menghadapi ancaman kematian akibat keterbatasan fasilitas medis di dalam Gaza. “Ini adalah persoalan hidup dan mati. Sejumlah pasien bahkan meninggal dunia saat masih menunggu dalam antrian panjang karena tidak tersedianya layanan medis yang mampu menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Hambatan Politik dan Keamanan
Menurut Al-Nims, proses pemilihan pasien didasarkan pada tingkat urgensi medis. Namun, prosedur yang terkait dengan persetujuan keamanan menjadi hambatan utama yang memperlambat keberangkatan mereka.
Situasi ini diperparah oleh kontrol ketat Israel atas seluruh akses keluar masuk Gaza, termasuk sisi Palestina dari Perlintasan Rafah. Pembatasan ini secara langsung menghambat mobilitas pasien dan mengurangi peluang mereka untuk mendapatkan perawatan yang layak.
Seruan Mendesak kepada Dunia Internasional
Palang Merah Palestina mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak dengan membuka perbatasan secara permanen serta memisahkan isu medis dari kepentingan politik dan keamanan.
Mereka juga menyerukan pembentukan jalur evakuasi medis yang aman dan berkelanjutan, guna menyelamatkan ribuan nyawa yang kini berada di ambang kematian.
Sejumlah warga yang kembali ke Gaza juga melaporkan perlakuan keras oleh aparat Israel, termasuk penahanan dan interogasi berjam-jam sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.
Padahal, sebelum perang, ratusan warga Palestina setiap hari dapat keluar masuk Gaza melalui Rafah dalam kondisi relatif normal, di bawah koordinasi otoritas Gaza dan Mesir tanpa intervensi Israel.
Blokade dan Dampak Perang Berkepanjangan
Sejak dimulainya agresi besar Israel pada 7 Oktober 2023, Gaza mengalami kehancuran besar-besaran. Lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 172.000 lainnya terluka, mayoritas perempuan dan anak-anak. Sekitar 90% infrastruktur sipil hancur.
Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak Oktober tahun lalu, serangan dan blokade masih terus berlangsung. Ratusan warga kembali menjadi korban dalam beberapa bulan terakhir, sementara bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar, terus dibatasi.
Di tengah kondisi ini, sekitar 2,4 juta penduduk Gaza, termasuk 1,5 juta pengungsi, hidup dalam situasi yang digambarkan sebagai “bencana kemanusiaan total”.
(T.RS/S:AnadoluAgency)